BMKG: Gempa M 7,7 di Laut Sulawesi Bukan Zona Megathrust

Titik gempa di Filipina dan perairan Sulawesi Utara
Titik gempa di Filipina dan perairan Sulawesi Utara

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyakini bahwa rangkaian gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 di Laut Sulawesi yang disusul tsunami skala mikro dipicu oleh aktivitas subduksi Lempeng Laut Filipina dan bukan berasal dari zona megathrust.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, menjelaskan bahwa berdasarkan analisis data dari Pusat Gempa Nasional, karakteristik sumber gempa itu berada di zona subduksi aktif Laut Filipina.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Jadi, memang untuk data dari Pusat Gempa Nasional, wilayah Laut Filipina itu sudah tidak masuk lagi dalam zona megathrust, jadi ini adalah zona subduksi," kata dia.

Meskipun bersumber dari zona subduksi non-megathrust, BMKG menyatakan kekuatan gempa yang besar tersebut tetap memicu deformasi batuan bawah laut yang berpotensi tsunami.

Hingga pukul 08.20 WIB, stasiun pemantau mencatat ketinggian tsunami berkisar 9 - 75 sentimeter di sejumlah wilayah, di antaranya Desa Tanjung Sidupa, Boolang Mongondow Utara dan Desa Talengen Kepulauan Sangihe.

Wijayanto mengingatkan masyarakat bahwa deteksi awal tersebut baru merupakan gelombang fase pertama, sehingga pemantauan ketat masih terus berjalan.

"Kita akan terus memonitor, karena ini adalah masih gelombang yang pertama. Kita tentunya akan terus meng-update kepada rekan-rekan wartawan jikalau ada tercatat di lokasi yang lain," ujarnya.

Selain potensi tsunami yang masih terus diawasi, Pusat Gempa BMKG hingga pukul 07.40 WIB juga telah merekam sedikitnya ada lima kali aktivitas gempa bumi susulan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

BMKG memastikan tren kekuatan grafik dari kelima gempa susulan tersebut terus mengalami penurunan magnitudo yang signifikan jika dibandingkan dengan gempa utama yang terjadi pada pukul 06.37 WIB.

Untuk itu, dia meminta masyarakat di wilayah pesisir utara dan timur Indonesia untuk tidak berspekulasi terkait isu gempa megathrust yang tidak sesuai data ilmiah, serta tetap berpatokan pada instruksi evakuasi resmi BMKG hingga status peringatan dini tsunami dinyatakan berakhir. (Ant)