Waduk Mrica Banjarnegara Catat Curah Hujan Tertinggi, BMKG Klaim Upaya Modifikasi Cuaca Berhasil

BMKG, waduk mrica, badan meteorologi klimatologi dan geofisika, operasi modifikasi cuaca BMKG, modifikasi cuaca jateng, Waduk Mrica Banjarnegara Catat Curah Hujan Tertinggi, BMKG Klaim Upaya Modifikasi Cuaca Berhasil

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa Waduk Mrica di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, menjadi lokasi dengan curah hujan tertinggi hasil dari operasi modifikasi cuaca (OMC) yang tengah digelar di wilayah Jawa dan sekitarnya.

Curah hujan di wilayah ini mencapai 83,2 milimeter dalam satu hari, dan sebagian besar berhasil dialihkan ke area waduk untuk mencegah genangan di kawasan permukiman.

Direktur Tata Kelola Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menjelaskan strategi utama operasi ini adalah menjatuhkan hujan di wilayah yang masih mampu menampung air, seperti waduk atau danau. Tujuannya agar curah hujan ekstrem tidak menimbulkan banjir di wilayah padat penduduk.

“Strateginya adalah menjatuhkan hujan di wilayah yang masih mampu menampung, salah satunya waduk atau danau. Hasilnya cukup efektif di Waduk Mrica karena air tertampung dengan baik,” ujar Budi di Jakarta, Senin (3/11/2025) dikutip dari Antara.

Operasi modifikasi cuaca ini dilakukan sejak awal November 2025 melalui tiga posko utama, yaitu di Semarang dan Solo untuk wilayah Jawa Tengah, serta posko tambahan di Halim Perdanakusuma, Jakarta, yang mendukung kegiatan di wilayah Jawa Barat.

Apa Tujuan Utama Operasi Modifikasi Cuaca Ini?

BMKG, waduk mrica, badan meteorologi klimatologi dan geofisika, operasi modifikasi cuaca BMKG, modifikasi cuaca jateng, Waduk Mrica Banjarnegara Catat Curah Hujan Tertinggi, BMKG Klaim Upaya Modifikasi Cuaca Berhasil

Pesawat pembawa Natrium Klorida (NaCl) mondar mandir di langit Semarang dan sekitarnya untuk mengendalikan potensi hujan, Kamis (30/10/2025).

BMKG menjelaskan bahwa OMC dilaksanakan sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi hujan lebat yang masih akan berlangsung hingga 7 November di sebagian besar wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jakarta, dan Yogyakarta.

Langkah ini bertujuan untuk mengalihkan hujan dari daerah berisiko tinggi ke wilayah yang lebih aman.

“Prediksi kami menunjukkan 63 persen wilayah Jawa Barat dan hampir seluruh wilayah Jawa Tengah akan mengalami hujan lebat hingga sangat lebat,” kata Budi.

Dengan curah hujan yang meningkat di puncak musim penghujan, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berupaya meminimalkan risiko banjir dengan cara mengatur pola jatuhnya hujan.

Melalui OMC, hujan diarahkan ke waduk atau danau yang masih memiliki daya tampung besar, sehingga volume air tidak langsung membebani daerah permukiman.

Bagaimana Proses Pemantauan dan Pelaksanaan di Lapangan?

BMKG terus memantau pergerakan awan hujan melalui data radar untuk memastikan efektivitas operasi ini.

Berdasarkan pengamatan terkini, hujan intensitas tinggi mulai terjadi sejak pagi hingga sore hari di sejumlah wilayah Jawa Tengah, sementara malam hari relatif melandai.

Selain itu, setiap kegiatan penyemaian awan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer dan arah angin agar air hujan dapat turun di lokasi yang diinginkan.

Budi menambahkan bahwa kerja sama antara BMKG dan BNPB dilakukan atas dasar permintaan daerah yang telah menetapkan status siaga darurat bencana.

“OMC ini merupakan kerja kemanusiaan yang dilakukan untuk mengalihkan potensi hujan dari wilayah padat penduduk ke area yang aman seperti waduk. Kami berupaya menjaga keseimbangan antara keselamatan warga dan keberlanjutan sumber air,” ujarnya.

BMKG menilai hasil sementara menunjukkan efektivitas yang cukup tinggi, terutama di Waduk Mrica.

Air hujan yang dialihkan berhasil tertampung dengan baik sehingga volume air di hilir dapat dikendalikan. 

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.