Kemenkeu: Investor SBN Ritel Sepanjang 2025 didominasi Perempuan
Kementerian Keuangan melalui Plt. Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), Novi Puspita Wardani menyampaikan, investor SBN Ritel di sepanjang tahun 2025 didominasi oleh kalangan perempuan.
Dia merinci, dari total 262.927 investor dalam penerbitan 8 seri SBN ritel di tahun 2025, sekitar 58 persen atau setara 152.497 investor merupakan perempuan.
"Dari ciri psikologis secara umum, perempuan ini kan lebih senang yang aman, yang stabil, dan istilahnya yang pasti-pasti. Karena instrumen SBN Ritel ini adalah instrumen yang aman dan bisa memberikan kepastian," kata Novi di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin, 26 Januari 2026.
Penerbitan 2 produk SBN Ritel jenis ORI029
Dia menambahkan, aspek kepastian SBN Ritel menurutnya disebabkan karena investasi ini berpotensi memberikan income, dengan adanya kupon atau imbal hasil tetap setiap tahunnya.
Sementara dari segi usia, Novi menjelaskan bahwa generasi milenial tercatat mendominasi investor SBN Ritel dengan porsi 51 persen, generasi X 29 persen, baby boomers 14 persen, generasi Z sekitar 6 persen, dan generasi tradisionalis (kelahiran 1928-1945) dengan porsi 1 persen.
"Jadi mayoritas generasi muda di sini sudah mulai banyak yang berpartisipasi (menjadi investor SBN Ritel). Bahkan kalau digabung, Generasi milenial dan Gen Z mencapai 57 persen," ujarnya.
Secara jenis profesi, Novi membeberkan bahwa mayoritas investor SBN Ritel 33 persennya berasal dari kalangan pegawai swasta. Kemudian dari kalangan wiraswasta 18 persen, pelajar/mahasiswa 12 persen, ibu rumah tangga 9 persen, kalangan lainnya 9 persen, PNS 7 persen, pegawai otoritas/lembaga/BUMN 4 persen, profesional 4 persen, pensiunan 4 persen, dan TNI/Polri 1 persen.
Sementara itu berdasarkan wilayah, lanjut Novi, tercatat bahwa investor SBN Ritel Indonesia bagian barat dalam cakupan selain DKI Jakarta, mendominasi porsi investor ritel hingga 62,1 persen. Kemudian dari DKI Jakarta sebesar 27,7 persen, Indonesia Tengah 9,7 persen, dan Indonesia Timur 0,5 persen.
Namun, wilayah Indonesia Tengah tercatat hanya menyumbang investor ritel 9,7 persen, sehingga menurutnya hal itu menghadirkan tantangan sekaligus harapan untuk terus ditingkatkan.
"Ini juga tantangan buat pemerintah terus melakukan peningkatan literasi finansial di Indonesia bagian Tengah dan Timur, karena potensinya sebenarnya cukup besar juga di sana," ujarnya.