Jadi Ancaman Kelangsungan Hidup Israel dan AS, Seberapa Besar dan Apa Dampak Program Nuklir Iran?

Fasilitas nuklir Iran (ilustrasi)
Fasilitas nuklir Iran (ilustrasi)

Selama puluhan tahun, ambisi nuklir Iran menjadi sumber ketegangan utama dengan Amerika Serikat dan sekutunya. Banyak pihak khawatir Iran pada akhirnya bisa membuat senjata atom. Bagi Israel, Iran yang memiliki senjata nuklir dianggap sebagai ancaman terhadap kelangsungan negaranya.

Pada 2015, tercapai kesepakatan internasional penting yang membatasi aktivitas nuklir Iran sebagai imbalan pencabutan sanksi. Namun Presiden AS saat itu, Donald Trump, menarik diri dari perjanjian tersebut pada masa jabatan pertamanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di periode keduanya, upaya untuk merundingkan kesepakatan baru kembali gagal setelah AS dan Israel membombardir fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025. Kedua negara sebenarnya sempat melanjutkan pembicaraan pada 2026, sebelum akhirnya AS dan Israel melancarkan serangan udara ke berbagai target di Iran pada 28 Februari.

Lantas mengapa program nuklir Iran dikhawatirkan? Melansir laman Bloomberg Internasional, Rabu 4 Maret, Trump menyatakan bahwa AS memulai operasi tempur besar untuk menghilangkan ancaman yang dianggap mendesak dari rezim Republik Islam, termasuk untuk memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir.

Serangan itu dilakukan sehari setelah inspektur dari International Atomic Energy Agency (IAEA) badan pengawas nuklir PBB melaporkan adanya aktivitas rutin yang tidak dijelaskan di lokasi pengayaan uranium yang sebelumnya juga dibombardir pada Juni lalu.

Iran selalu menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai dan untuk kebutuhan energi. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pada September mengatakan bahwa Iran tidak pernah dan tidak akan pernah berusaha membangun bom nuklir.

Namun sehari sebelum Israel melancarkan serangan pada Juni, IAEA secara resmi menegur Iran karena dinilai melanggar kewajiban kerja sama dengan para inspektur. Badan itu juga menyatakan tidak bisa memastikan apakah program nuklir Iran benar-benar “semata-mata untuk tujuan damai”.

IAEA memantau perubahan persediaan uranium hingga tingkat gram di seluruh dunia untuk memastikan bahan tersebut tidak dialihkan ke pembuatan senjata. Sejak serangan Juni, Iran memblokir IAEA untuk memverifikasi jumlah dan lokasi cadangan uranium yang pengayaannya sudah mendekati tingkat bahan baku bom. Situasi ini memicu kembalinya sanksi luas dari PBB.

Bagaimana status terakhir cadangan uranium Iran?

Terakhir kali inspektur IAEA bisa mengakses cadangan uranium Iran, mereka menemukan bahwa Iran memiliki 441 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen atau meningkat lebih dari 50 persen dibandingkan Februari 2025. Jika diproses lebih lanjut, jumlah itu secara teori cukup untuk sekitar selusin bom nuklir.

Meski kondisi terbaru cadangan tersebut belum jelas, Iran tetap memiliki pengetahuan teknis untuk melakukan pengayaan. Artinya, negara itu berpotensi membangun kembali program nuklirnya dengan relatif cepat.

Apa itu uranium dengan pengayaan tinggi?

Uranium alami sebagian besar terdiri dari dua isotop yakni U-238 dan U-235. Isotop U-235 inilah yang penting untuk reaksi fisi, baik untuk pembangkit listrik tenaga nuklir maupun senjata. Masalahnya, kandungan U-235 dalam bijih uranium mentah sangat kecil.

Oleh karena itu, uranium perlu diperkaya untuk meningkatkan kadar U-235. Proses ini dilakukan dengan ribuan mesin sentrifugal yang berputar sangat cepat untuk memisahkan isotop-isotop tersebut.

Untuk bahan bakar sebagian besar pembangkit listrik tenaga nuklir, dibutuhkan tingkat pengayaan sekitar 3,7 persen. Jika sudah melewati 20 persen, uranium dikategorikan sebagai pengayaan tinggi karena memerlukan penanganan khusus dan lebih mudah ditingkatkan ke level senjata. Senjata nuklir umumnya menggunakan uranium dengan kemurnian sekitar 90 persen. Uranium 60 persen sebenarnya sudah bisa dipakai untuk bom sederhana, meski daya ledak dan keandalannya lebih rendah.

Iran sebelumnya menyatakan bersedia membatasi pengayaan uranium pada level yang dibutuhkan untuk tujuan non-militer, tetapi tidak akan menghentikannya sepenuhnya.

Seberapa besar kemampuan pengayaan Iran saat ini?

Belum jelas apakah Iran masih bisa melakukan pengayaan di dua fasilitas utamanya yakni di Fordow dan Natanz setelah keduanya diserang tahun lalu. Citra satelit menunjukkan kerusakan besar di permukaan akibat bom penghancur bunker yang dijatuhkan AS pada Juni. Namun belum diketahui apakah fasilitas yang berada jauh di bawah tanah ikut terdampak, dan bagaimana kondisinya setelah serangan terbaru.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Fasilitas utama di Natanz, yang terletak di bagian tengah Iran, memiliki struktur lebih dari 40 meter di bawah permukaan tanah dan dilindungi lapisan baja serta beton setebal sekitar delapan meter. Fordow bahkan lebih terlindungi karena dibangun di sisi gunung dan diyakini berada di kedalaman sekitar 60 hingga 90 meter di bawah tanah.

Trump sebelumnya menyatakan bahwa program nuklir Iran telah dihancurkan oleh serangan AS tahun lalu. Namun banyak pakar menilai Iran masih mempertahankan kemampuan kunci. Analisis awal Pentagon memperkirakan program nuklir Iran mundur sekitar satu hingga dua tahun. Gambaran yang benar-benar jelas kemungkinan baru akan diketahui setelah inspektur IAEA bisa melakukan verifikasi langsung di lokasi.