AS Desak China Tahan Diri usai Gelar Latihan Militer Skala Besar dekat Taiwan
Wakil Juru Bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Tommy Pigott menegaskan, pihaknya telah mendesak China untuk menahan diri, menghentikan tekanan militer terhadap Taiwan, serta terlibat dalam dialog yang bermakna menyusul latihan militer terbaru Beijing di sekitar pulau tersebut.
“Aktivitas dan retorika militer China terhadap Taiwan dan pihak lain di kawasan meningkatkan ketegangan yang tidak perlu,” kata Pigott dalam sebuah pernyataan, dikutip Sabtu, 3 Januari 2026.
“Kami mendesak Beijing untuk menahan diri, menghentikan tekanan militernya terhadap Taiwan, dan memilih terlibat dalam dialog yang bermakna," ujarnya.
Tentara Militer China gunakan teropong, kejauhan tampak frigate Lan Yang Taiwan
Pernyataan itu menegaskan bahwa AS mendukung perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan, serta menentang perubahan sepihak terhadap status quo termasuk melalui penggunaan kekuatan atau paksaan.
Latihan militer gabungan China yang diberi nama 'Justice Mission 2025' itu telah diluncurkan pada Senin, 29 Desember 2025. Hal itu terjadi beberapa hari setelah AS menyetujui satu paket penjualan senjata dengan nilai tertinggi sepanjang sejarah kepada Taipei, dengan nilai lebih dari US$11 miliar atau sekitar Rp 183,9 triliun.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian mengatakan, latihan tersebut merupakan “respons hukuman dan pencegahan terhadap kekuatan separatis kemerdekaan Taiwan yang berupaya meraih kemerdekaan melalui penguatan militer.”
Sementara Pemimpin Taiwan, William Lai Ching-te menyatakan, Beijing terus meningkatkan ketegangan militer di kawasan, yang menurutnya tidak mencerminkan perilaku kekuatan dunia yang bertanggung jawab.
Dia menegaskan bahwa Taiwan tidak akan memprovokasi konfrontasi maupun mencari konflik dengan China.
Sementara China sendiri diketahui memandang Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri, sementara Taipei telah bersikeras mempertahankan sikap akan kemerdekaannya sejak tahun 1949.