Disebut Ingin Kuasai Minyak Venezuela, Seberapa Besar Cadangannya dan Mengapa Sangat Penting bagi AS?
Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan khusus Amerika Serikat yang berlangsung cepat dan terang-terangan di ibu kota negara Amerika Latin itu telah mengubah peta geopolitik dunia. Peristiwa ini sekaligus menyorot kekayaan alam Venezuela yang luar biasa terutama minyak bumi.
Seperti diketahui menyusul dengan penangkapan presiden Venezuela, Trump mengerahkan perusahan-perusahaan minyak besar AS untuk membantu memperbaiki infrastruktur perminyakan di negara Amerika Latin itu. Sejumlah perusahaan raksasa minyak AS juga telah siap menggelontorkan investasi hingga miliaran dolar untuk memulihkan dan meningkatkan produksi minyak di negara tersebut.
“Kita akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak AS yang sangat besar, yang terbesar di dunia untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak dan mulai menghasilkan uang untuk negara ini,” kata Trump.
Menyusul pernyataan Trump itu, kemudian muncul pertanyaan seberapa besar cadangan minyak di negara itu, berapa nilai uang yang diperebutkan, dan siapa yang akan menguasainya sekarang maupun di masa depan?
Mengapa minyak Venezuela begitu penting bagi AS di era Trump?
Negara yang selama puluhan tahun dipimpin rezim komunis ini memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, diperkirakan mencapai 303,221 miliar barel. Angka fantastis ini bahkan melampaui negara-negara raksasa energi seperti Arab Saudi dan Iran, seperti dikutip dari laman Hindustan Times, Senin 5 Januari 2026.
Namun ironisnya, meski sangat kaya minyak, produksi Venezuela saat ini hanya sekitar 1 juta barel per hari. Angka ini turun drastis dibandingkan 3,5 juta barel per hari ketika presiden pendahulu Maduro sekaligus mentornya, Hugo Chavez, pertama kali berkuasa pada 1999.
Saat ini, Venezuela hanya menyumbang kurang dari 1 persen pasokan minyak dunia, meskipun memiliki cadangan terbesar di planet ini.
Bagaimana kondisi infrastruktur minyak Venezuela saat ini?
Meski cadangannya melimpah, kemampuan untuk mengekstraksi minyak tersebut berada dalam kondisi kacau. Bertahun-tahun kelalaian, infrastruktur yang rusak, minim investasi, serta korupsi sistemik telah melumpuhkan kapasitas produksi negara itu, menurut laporan kantor berita AFP.
Sanksi yang dijatuhkan pada masa jabatan pertama Trump juga memperparah keadaan, hingga produksi minyak Venezuela anjlok ke titik terendah dalam sejarah pada tahun 2020.
Trump menawarkan solusi dengan mengembalikan perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika ke Venezuela. Menurutnya, dengan menggelontorkan dana miliaran dolar untuk memperbaiki infrastruktur yang ‘rusak parah’, AS dapat kembali menjual minyak dalam jumlah besar ke pasar global.
Trump juga berpendapat bahwa Amerika perlu dikelilingi oleh negara-negara yang aman dan stabil, serta memiliki sumber energi yang dapat diandalkan di dekat wilayahnya.
Lebih jauh lagi, ia menyebut bahwa keuntungan dari minyak Venezuela akan menjadi bentuk penggantian biaya, dengan klaim bahwa AS akan ‘dibayar kembali atas semua yang telah dikeluarkan’ untuk operasi militer dan pengelolaan negara tersebut setelahnya.
Namun para pedagang dan analis memperingatkan bahwa rencana ini tidak akan berjalan cepat dan bisa memakan waktu bertahun-tahun.
Bagaimana faktor geopolitik dan China masuk dalam rencana Trump?
Di luar keuntungan finansial, ada kepentingan strategis yang lebih besar. Pemerintah AS memandang minyak yang diekspor Venezuela selama masa embargo sebagai minyak yang dicuri dari komunitas internasional. Para ahli menilai Washington ingin merebut kembali volume minyak yang awalnya diekstraksi menggunakan peralatan dan investasi Amerika, sebelum dinasionalisasi oleh Hugo Chavez.
Selain itu, AS juga ingin menekan pengaruh China di Belahan Barat. Saat ini, China diperkirakan membeli sekitar 80 persen minyak Venezuela, sering kali menggunakan kapal tanker bayangan dan bendera palsu untuk menghindari sanksi AS.
Dengan mengambil alih sektor energi Venezuela, AS berharap dapat memutus pijakan China di kawasan tersebut, sekaligus mengurangi pengaruhnya terhadap Terusan Panama jalur transit penting bagi pengiriman minyak mentah Venezuela.
Apakah rencana Trump untuk meningkatkan produksi minyak dengan cepat benar-benar realistis?
Meski Trump terdengar optimistis, para pelaku pasar justru meragukan bahwa pemulihan produksi bisa terjadi dalam waktu singkat. Menurut laporan Associated Press (AP), berinvestasi di Venezuela saat ini dinilai kurang menarik bagi banyak perusahaan minyak besar. Pasalnya, harga minyak global sedang tertekan akibat kelebihan pasokan.
Kondisi kelebihan pasokan ini bahkan masih berlanjut hingga 2025, dipicu oleh berbagai faktor seperti perang tarif yang dilancarkan Trump sendiri serta konflik yang terus berlangsung di Ukraina.
Analis dari Saxo Bank dan UBS juga mengingatkan bahwa perusahaan minyak AS pada dasarnya bertanggung jawab kepada para pemegang saham, bukan kepada pemerintah.
Dengan kondisi infrastruktur yang sudah nyaris runtuh dan risiko keuangan yang sangat besar, banyak pihak menilai tidak akan ada gelombang besar minat dari investor swasta dalam waktu dekat.
Selain itu, karena pasokan minyak global saat ini sudah melimpah, para analis memperkirakan ketidakstabilan di Venezuela hanya akan mendorong kenaikan harga minyak secara tipis.
Sementara militer AS terus melanjutkan operasinya dan Mahkamah Agung Venezuela memerintahkan Wakil Presiden Delcy Rodríguez untuk menjabat sebagai presiden sementara, masa depan negara itu berada di ujung tanduk.
Apakah Trump benar-benar mampu mengelola Venezuela dan mengekstraksi ‘emas hitam’-nya masih menjadi tanda tanya. Namun bayang-bayang intervensi masa lalu terus menghantui perdebatan ini seperti biaya besar perang Irak kerap dijadikan contoh, bahkan pernah disinggung sendiri oleh Trump sebelum ia menjadi presiden.