Dua Pelaut Asal Luwu Jadi Korban Ledakan Kapal Musaffah 2 di Selat Hormuz

pelaut, Makassar, Kapal Musaffah, Selat Hormuz, Luwu, Dua Pelaut Asal Luwu Jadi Korban Ledakan Kapal Musaffah 2 di Selat Hormuz

Insiden ledakan kapal tugboat Musaffah 2 di Selat Hormuz, perairan antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Oman, pada Jumat (6/3/2026) dini hari, menyisakan duka mendalam bagi warga Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Dua awak kapal tersebut diketahui merupakan putra daerah Luwu, yakni Capt. Miswar (50) dan Chief Engineer Sirajuddin.

Hingga Senin (9/3/2026), suasana haru masih menyelimuti kediaman keluarga korban. Berdasarkan laporan otoritas terkait, kapal berbendera UEA tersebut meledak saat sedang menjalankan misi pengecekan teknis terhadap kapal kontainer Safeen Prestige yang mengalami kerusakan.

Profil dan Sosok Chief Engineer Sirajuddin

Sirajuddin, warga asli Desa Temboe, Kecamatan Larompong Selatan, dikenal sebagai pilar utama keluarga. Istrinya, Sri Dwi Aisyah, mengungkapkan bahwa suaminya adalah tumpuan hidup satu-satunya, terlebih karena keduanya telah kehilangan orang tua masing-masing.

"Dia sosok ayah yang sangat bertanggung jawab. Dia harapan saya satu-satunya karena kami berdua sudah tidak punya orang tua lagi," ujar Sri Dwi Aisyah dengan nada lirih, Senin (9/3/2026).

Sirajuddin merupakan alumnus angkatan awal SBM Bahari Parepare dan telah berkarier sebagai pelaut selama 26 tahun sejak tahun 2000. Sebelum kembali melaut pada Agustus 2025, ia sempat berpesan agar kedua putrinya, Najwa Ajlea dan Azkaira Nur Malaika, rajin belajar bahasa asing.

"Pesan terakhirnya ke anak-anak, dia minta mereka rajin belajar Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Dia ingin sekali mereka kuliah di luar negeri," kenang Sri.

Capt. Miswar dan Firasat "GPS Error"

Di lokasi berbeda, tepatnya di Kelurahan Pattedong, Kecamatan Ponrang, keluarga Capt. Miswar (50) juga diliputi kecemasan. Miswar merupakan nakhoda senior lulusan Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Makassar angkatan ke-15 yang bekerja untuk perusahaan Abu Dhabi Ports.

Adik ipar Miswar, Sumarlin Ahmad (41), mengungkapkan adanya komunikasi terakhir pada Rabu (4/3/2026) yang mengisyaratkan hal tidak biasa. Miswar sempat melaporkan adanya gangguan teknis pada sistem navigasi kapal sebelum kejadian.

"Beliau bilang GPS kapal error. Katanya seperti melihat sesuatu di sekitar kapal dan sempat meminta panduan," ungkap Sumarlin.

Biasanya, Capt. Miswar hanya bertugas di sekitar pelabuhan Abu Dhabi. Namun, dalam misi kali ini, ia harus berlayar cukup jauh dengan waktu tempuh sekitar satu hari menuju lokasi kapal Safeen Prestige.

Kronologi Kejadian dan Upaya Pencarian

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Yvonne Mewengkang, mengonfirmasi bahwa ledakan terjadi sekitar pukul 02.00 waktu setempat. Kapal Musaffah 2 membawa tujuh awak, termasuk empat WNI yang bekerja sebagai ABK dan satu WNI sebagai teknisi.

"Berdasarkan saksi mata, Musaffah 2 mengalami ledakan yang menyebabkan kapal terbakar. Saat kejadian, empat WNI ABK berada di kapal, sementara satu WNI teknisi berada di kapal kontainer Safeen Prestige," jelas Yvonne dalam pernyataan resminya.

Hingga saat ini, status lima WNI tersebut adalah sebagai berikut:

  • 1 WNI ABK: Menjalani perawatan luka bakar di RS Kota Khasab, Oman.
  • 1 WNI Teknisi: Selamat dan berada di Abu Dhabi.
  • 3 WNI ABK: Masih dalam proses pencarian intensif oleh otoritas UEA dan Oman.

Pemerintah Indonesia melalui KBRI Abu Dhabi dan KBRI Muscat terus berkoordinasi dengan pihak perusahaan dan otoritas setempat. Kemlu juga mendorong adanya penyelidikan menyeluruh untuk mengetahui penyebab pasti ledakan, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang sangat sensitif.

Keluarga para korban di Luwu kini hanya bisa berserah diri sembari menunggu kabar resmi dari pihak perusahaan maupun kedutaan.

Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Sosok Sirajuddin ABK Musaffah 2 di Mata Istri: Penyayang dan Impikan Anak Kuliah di Luar Negeri