Survei: Gen Z Anggap Pekerjaan Seperti ‘Situationship’, Apa Artinya?

Ilustrasi Gen Z.
Ilustrasi Gen Z.

Generasi Z atau kelompok pekerja yang lahir antara 1997–2012, membawa perspektif baru di dunia kerja. Berbeda dari generasi sebelumnya, mereka tumbuh sebagai digital natives yang terbiasa dengan informasi instan, fleksibilitas, dan mobilitas tinggi. 

Hal ini turut memengaruhi cara mereka menilai pekerjaan dan hubungan dengan perusahaan.

Dalam kondisi ekonomi yang menantang dan biaya hidup yang semakin tinggi, Gen Z menempatkan prioritas berbeda, bukan sekadar loyalitas pada satu perusahaan, tetapi pengalaman, gaji, dan kesehatan mental yang seimbang. Tren ini terlihat jelas dari survei terbaru yang dilakukan Gateway Commercial Finance.

Survei yang melibatkan lebih dari 1.008 responden, setengahnya Gen Z dan setengahnya manajer atau pekerja dengan pengalaman perekrutan, mengungkap fakta mengejutkan. Sebanyak 58 persen responden melihat pekerjaan mereka sebagai ‘situationship’. 

Artinya, pekerjaan dianggap hubungan jangka pendek dengan komitmen rendah yang tidak dimaksudkan untuk bertahan lama. Hampir setengah Gen Z, atau 47 persen, menyatakan berencana meninggalkan pekerjaan dalam satu tahun pertama. 

Bahkan, banyak yang siap mengundurkan diri kapan saja jika muncul peluang lebih menarik. Survei menunjukkan bahwa hanya 25 persen Gen Z yang benar-benar menilai peran mereka sebagai kesempatan jangka panjang, sementara 37 persen melihat pekerjaan sebagai sumber gaji semata.

Masih berdasarkan survei, 55 persen menyebut gaji lebih tinggi di tempat lain sebagai faktor utama. Selain itu, 34 persen melaporkan mengalami kesehatan mental yang buruk atau burnout, dan 22 persen merasa tidak dihargai atau diakui di tempat kerja. 

Kurangnya loyalitas jangka panjang menjadi perhatian bagi perusahaan. Satu dari empat manajer menganggap pengalaman kerja singkat, kurang dari satu tahun, di CV Gen Z sebagai red flag, sementara lebih dari sepertiga mengaku menolak kandidat karena kebiasaan job-hopping ini. 

Ilustrasi Gen Z

Fenomena ini memaksa perusahaan menyesuaikan strategi rekrutmen, termasuk menawarkan budaya kerja yang lebih fleksibel dan penghargaan yang nyata. Meski terlihat sering berpindah kerja, Gen Z tetap menunjukkan kepedulian pada kestabilan finansial. 

Studi Better Money Habits Bank of America 2025 mencatat 72 persen Gen Z mengambil langkah untuk memperbaiki kesehatan keuangan mereka sepanjang tahun. Namun, dukungan finansial dari keluarga menurun, hanya 39 persen dibanding 46 persen pada 2024.

“Mereka menantang stereotip soal generasi muda dan keuangan. Meskipun menghadapi hambatan ekonomi dan biaya hidup tinggi, mereka bekerja keras untuk mandiri secara finansial dan mengelola uang mereka sendir,” kata Holly O’Neill, Presiden Consumer, Retail, dan Preferred Banking Bank of America, sebagaimana dikutip dari Independent, Senin, 12 Januari 2026.

Fenomena ‘situationship’ Gen Z mengingatkan job seeker dan perusahaan akan perubahan paradigma dunia kerja. Bagi pencari kerja, penting menyeimbangkan fleksibilitas, pengalaman, dan kesehatan mental tanpa merusak reputasi profesional. 

Sementara perusahaan perlu menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan, pengakuan, dan kesejahteraan karyawan agar mampu mempertahankan talenta muda di tengah pasar kerja kompetitif.