Survei Kemenag: Gen Z Paling Toleran, Lebih Bisa Menghargai Kegiatan Agama Lain
Hasil survei menunjukkan bahwa Generasi Z atau Gen Z menjadi kelompok dengan tingkat toleransi beragama paling menonjol dibandingkan generasi Milenial maupun Baby Boomers.
Gen Z juga tercatat sebagai generasi dengan kemampuan membaca Al-Quran tertinggi.
Hal tersbeut tercermin dalam hasil Survei Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam 2025 yang dilakukan Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam bersama Alvara Strategic Research.
Survei ini dilakukan dengan metode kuantitatif berskala nasional dengan melibatkan 1.208 responden Muslim di 34 provinsi.
Pengambilan sampel dilakukan melalui multistage random sampling dengan wawancara tatap muka langsung.
Margin of error tercatat sebesar 2,89 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
"Secara resmi, rilis survei akan diumumkan pada Januari 2026. Terdapat banyak temuan survey di bidang kehidupan beragama. Hasilnya cukup menggembirakan dan memberikan optimisme," ujar Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat, dikutip dari laman resmi Bimas Islam, Senin (5/1/2026).
"Laporan ini idealnya menjadi acuan bagi para pengambil kebijakan untuk merumuskan langkah strategis dalam meningkatkan kualitas kehidupan beragama di tanah air," tambahnya.
Hasil survei juga menunjukkan bahwa Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam 2025 berada pada skor 78,80 dan masuk kategori tinggi.
Sementara itu, dimensi akhlak menjadi aspek dengan nilai tertinggi, yakni 81,88.
3 Temuan Survei Kemenag dan Alvaera Strategic Research
Menurut, peneliti Alvara Strategic Research Lilik Purwandi, Generasi Z memiliki posisi strategis sebagai penggerak utama menuju Indonesia Emas 2045.
Survei ini yang dilakukan bersama Kemenag mencatat sejumlah indikator yang menguatkan optimisme tersebut.
Pada aspek literasi Al-Quran, khususnya kemampuan membaca dengan tartil, Gen Z mencatat indeks tertinggi dibandingkan generasi lain.
Nilai indeksnya mencapai 56,29, melampaui Milenial (54,06), Generasi X (53,97), dan Baby Boomers (50,95).
Selain itu, Gen Z juga menempati posisi teratas dalam indikator toleransi beragama.
Pada sikap tidak membubarkan kegiatan keagamaan kelompok atau aliran lain, indeks Gen Z tercatat sebesar 80,03, lebih tinggi dibandingkan Milenial (78,77), Generasi X (78,97), dan Baby Boomers (78,81).
Secara agregat, indeks pengamalan toleransi Gen Z berada di angka 79,65, hanya selisih tipis dari Generasi X yang mencatat 79,67, serta lebih tinggi dibandingkan Milenial (79,07) dan Baby Boomers (78,63).
Indikator ini mencakup penerimaan terhadap ibadah agama lain, sikap tidak mencela, menolak persekusi, serta tidak menyebarkan ujaran kebencian.
“Data ini menunjukkan Gen Z memiliki kedewasaan sikap yang luar biasa dalam menghargai perbedaan. Mereka adalah generasi yang paling menolak praktik persekusi atau pembubaran kegiatan keagamaan pihak lain,” ujar Lilik.
Survei juga mengungkap potensi positif kehidupan beragama di wilayah perkotaan yang didominasi penduduk usia muda.
Meski indeks dimensi ibadah di kawasan urban (78,38) sedikit berada di bawah wilayah perdesaan (79,37), pemahaman keagamaan yang kuat dinilai menjadi modal penting untuk pengembangan spiritual ke depan.
“Gen Z dan Milenial adalah pilar masa depan. Walaupun terdapat tantangan dalam pengamalan ibadah harian, modal intelektual melalui pemahaman Al-Qur’an dan sikap toleransi yang matang merupakan aset besar bagi kohesi sosial,” kata Lilik.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang