Semakin Memanas, Iran Ancam Serang Militer AS dan Israel Jika Lindungi Demonstran
Aksi protes yang terjadi di seluruh Iran kembali menimbulkan korban jiwa. Dilaporkan setidaknya ada 538 orang meninggal dunia menyusul aksi protes tersebut hingga Minggu 11 Januari 2026 waktu setempat. Di saat yang sama, Iran memperingatkan bahwa militer Amerika Serikat dan Israel akan menjadi ‘target yang sah’ jika Amerika Serikat menggunakan kekuatannya untuk melindungi para demonstran.
Melansir AP News, lembaga Human Rights Activists News Agency yang berbasis di Amerika Serikat menyebut lebih dari 10.600 orang telah ditangkap selama dua pekan aksi demonstrasi di Iran. Lembaga ini dikenal cukup kredibel karena dalam beberapa tahun terakhir kerap melaporkan kerusuhan di Iran dengan mengandalkan jaringan pendukung di dalam negeri untuk saling memverifikasi data. Menurut laporan mereka, dari total korban tewas, 490 orang merupakan demonstran dan 48 lainnya adalah anggota pasukan keamanan. Namun hingga kini, pemerintah Iran belum memberikan data resmi mengenai jumlah korban jiwa dalam rangkaian demonstrasi tersebut.
Sementara itu, di tengah gelombang aksi protes yang meluas, pemerintah Iran juga memutus akses internet dan jaringan telepon. Langkah ini membuat pihak luar semakin sulit memantau perkembangan situasi di dalam negeri. Pemadaman komunikasi tersebut dikhawatirkan justru membuka ruang bagi kelompok garis keras di tubuh aparat keamanan untuk melakukan penindakan secara lebih brutal. Meski demikian, pada Minggu, para demonstran kembali turun ke jalan dan memadati sejumlah wilayah di ibu kota Teheran serta di Mashhad, kota terbesar kedua di Iran.
Respon Amerika Serikat
Presiden AS Donald Trump bersama tim keamanan nasionalnya dikabarkan sedang mempertimbangkan berbagai opsi respons terhadap Iran, mulai dari serangan siber hingga serangan langsung oleh AS atau Israel. Informasi ini disampaikan oleh dua sumber yang mengetahui pembahasan internal di Gedung Putih dan berbicara dengan syarat anonim.
“Militer sedang mengkaji hal ini, dan kami sedang mempertimbangkan beberapa opsi yang sangat keras. Jika mereka melakukan itu, kami akan menghantam mereka pada tingkat yang belum pernah mereka alami sebelumnya,” kata Trump kepada wartawan Minggu malam 11 Januari 2026 waktu setempat.
Penempatan besar-besaran militer AS yang sedang berlangsung di kawasan Karibia juga menjadi faktor yang harus dipertimbangkan Pentagon dan perencana keamanan nasional Trump.
Ancaman dari Parlemen
Ancaman untuk menyerang militer AS dan Israel disampaikan dalam pidato parlemen oleh Mohammad Baagher Qalibaf, Ketua Parlemen Iran yang dikenal berhaluan keras dan pernah mencalonkan diri sebagai presiden. Ia secara langsung mengancam Israel dengan menyebutnya sebagai wilayah pendudukan.
“Jika terjadi serangan terhadap Iran, maka wilayah pendudukan dan seluruh pusat militer Amerika, pangkalan, serta kapal-kapalnya di kawasan ini akan menjadi target sah kami. Kami tidak menganggap diri kami hanya akan bereaksi setelah serangan terjadi, melainkan akan bertindak berdasarkan setiap tanda objektif adanya ancaman,” ujar Qalibaf.
Pidato itu disambut anggota parlemen yang berbondong-bondong ke mimbar sambil meneriakkan, “Matilah Amerika!”
Masih belum jelas seberapa serius Iran akan benar-benar melancarkan serangan, terutama setelah sistem pertahanan udaranya hancur dalam perang 12 hari melawan Israel pada Juni lalu. Keputusan untuk berperang sepenuhnya berada di tangan Pemimpin Tertinggi Iran yang kini berusia 86 tahun, Ayatollah Ali Khamenei.
Militer AS menyatakan pasukannya di Timur Tengah telah diposisikan dengan kemampuan tempur penuh untuk melindungi pasukan kami, mitra dan sekutu, serta kepentingan Amerika Serikat. Pada Juni lalu, Iran sempat menargetkan pasukan AS di Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, sementara Armada Kelima Angkatan Laut AS bermarkas di Bahrain.
Israel sendiri disebut terus memantau dengan saksama perkembangan hubungan AS–Iran. Seorang pejabat Israel mengatakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, termasuk membahas isu Iran.
“Rakyat Israel, bahkan seluruh dunia, terpesona oleh keberanian luar biasa warga Iran,” kata Netanyahu, yang dikenal lama bersikap keras terhadap Iran.
Di Vatikan, Paus Leo XIV menyebut Iran sebagai salah satu tempat di mana ketegangan yang terus berlangsung masih merenggut banyak nyawa. Ia menambahkan harapan dan doanya agar dialog dan perdamaian dapat terus dipupuk demi kebaikan bersama seluruh masyarakat.
Aksi solidaritas untuk mendukung para demonstran juga digelar di sejumlah ibu kota dunia. Seorang juru bicara mengatakan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres merasa terkejut atas laporan kekerasan terhadap demonstran yang menyebabkan puluhan kematian, dan mendesak otoritas Iran untuk menahan diri serta memulihkan komunikasi.