Balasan Telak, Iran Ancam Potong Tangan Siapapun yang Menyerang!

Rakyat Iran di Ibukota Tehran
Rakyat Iran di Ibukota Tehran

Komandan Markas Khatam al-Anbiya, Mayor Jenderal Ali Abdolllahi mengatakan bahwa setiap aksi serangan baru dari Amerika Serikat maupun sekutu akan dibalas dengan kekuatan penuh. Dia menyebut bahwa Iran kini dalam kondisi yang lebih kuat dan lebih siap dibanding sebelumnya untuk mempertahankan kedaulatan negara.

Disebutnya bahwa angkatan bersenjaata Iran kini berada pada tingkat kesiapan dan kekuatan tertinggi sepanjang sejarah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Kami memperingatkan Amerika dan sekutunya, jangan membuat kesalahan strategis atau salah perhitungan lagi.  Mereka harus tahu bahwa setiap agresi atau invasi baru dari musuh terhadap tanah air dan bangsa kami akan dibalas dengan respons yang cepat, tegas, kuat, dan berskala luas,” kata sang komandan dikutip dari laman presstv.ir, Selasa 19 Mei 2026.

Ia juga mengingatkan bahwa musuh-musuh Amerika dan Zionis Israel telah berulang kali menguji keberanian rakyat Iran serta kekuatan militer negara itu, namun selalu mendapat balasan yang keras.

“Dengan tekad dan keyakinan yang kuat, kami telah membuktikan bahwa kami mampu menunjukkan kekuatan dan kemampuan kami kepada musuh di medan perang,” tegasnya.

Abdollahi memperingatkan bahwa jika musuh kembali melakukan kesalahan, Iran akan menghadapi mereka dengan kekuatan yang jauh lebih besar dibanding saat perang yang berlangsung selama 40 hari sebelumnya.

“Kami akan membela hak-hak rakyat Iran dengan seluruh kekuatan yang kami miliki dan mematahkan tangan siapa pun yang mencoba menyerang,” tutupnya.

Para petinggi militer Iran sebelumnya juga menegaskan bahwa meski Iran tidak menginginkan perang dan mendambakan perdamaian serta stabilitas di kawasan, negara itu tidak akan ragu memberikan balasan keras dan setimpal terhadap setiap provokasi atau serangan terhadap rakyat dan wilayahnya.

Mereka berulang kali menekankan bahwa kekuatan militer Iran yang terus berkembang semata-mata digunakan sebagai efek penangkal terhadap ancaman dan campur tangan asing.

Sebagai respons atas agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam Iran pada 28 Februari, angkatan bersenjata Iran meluncurkan operasi rudal dan drone setiap hari dengan menargetkan wilayah pendudukan Israel serta pangkalan dan aset militer Amerika di berbagai kawasan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, Iran juga membalas serangan tersebut dengan menutup Selat Hormuz, yang memicu lonjakan signifikan harga minyak dan produk turunannya di pasar global.

Pada 8 April, tepat 40 hari sejak perang dimulai, gencatan senjata sementara antara Iran dan Amerika Serikat yang dimediasi Pakistan mulai berlaku. Negosiasi kemudian berlangsung di Islamabad, ibu kota Pakistan, namun belum menghasilkan kesepakatan karena tuntutan maksimal dari Washington dan sikap yang dianggap tidak realistis.