Top 7+ Sikap Orangtua yang Tanpa Disadari Membuat Anak Mudah Cemas 

sikap orangtua, 7 Sikap Orangtua yang Tanpa Disadari Membuat Anak Mudah Cemas , 1. Melakukan sesuatu yang bisa dilakukan anak sendiri, 2. Terlalu cepat menyelamatkan anak dari masalah, 3. Terlalu menekankan emosi , 4. Terlalu mempersiapkan anak untuk semua kemungkinan buruk, 5. Melindungi anak dari emosi yang menyakitkan, 6. Memberikan terlalu banyak pilihan kepada anak, 7. Terlalu sering memuji kecerdasan anak

Niat baik orangtua untuk membantu anak terkadang tanpa disadari dapat memicu kecemasan atau anxiety pada anak.

Psikolog anak Dr. Amy Kincaid Todey, Ph.D. mengatakan, orangtua biasanya melakukan berbagai hal demi memastikan anak tumbuh bahagia dan sukses.

“Kamu mencurahkan cinta, sumber daya, dan energi untuk membentuk hidup mereka agar mereka bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang sehat dan mampu menyesuaikan diri,” jelas Todey, disadur dari Parade, Jumat (13/3/2026).

Meski demikian, tidak semua bentuk perhatian atau bantuan selalu berdampak positif bagi perkembangan emosional anak. Berikut beberapa sikap orangtua yang tanpa disadari dapat memicu kecemasan pada anak.

7 Sikap orangtua yang membuat anak mudah cemas

1. Melakukan sesuatu yang bisa dilakukan anak sendiri

Sebagian orangtua terbiasa membantu anak menyelesaikan berbagai hal, mulai dari merapikan barang hingga menyelesaikan tugas sederhana. Padahal, jika dilakukan terlalu sering, hal ini bisa membuat anak kurang percaya diri.

Menurut Todey, membantu anak secara berlebihan justru dapat menghambat perkembangan rasa kompetensi mereka.

“Menyelesaikan tugas yang sebenarnya mampu dilakukan anak dapat secara tidak sengaja merusak rasa kompetensi mereka,” ujarnya.

Ketika anak tidak diberi kesempatan mencoba dan menghadapi tantangan sendiri, mereka kehilangan peluang untuk belajar serta merasakan keberhasilan dari usaha mereka sendiri.

Dalam jangka panjang, anak bisa merasa tidak mampu menghadapi masalah tanpa bantuan orang lain.

sikap orangtua, 7 Sikap Orangtua yang Tanpa Disadari Membuat Anak Mudah Cemas , 1. Melakukan sesuatu yang bisa dilakukan anak sendiri, 2. Terlalu cepat menyelamatkan anak dari masalah, 3. Terlalu menekankan emosi , 4. Terlalu mempersiapkan anak untuk semua kemungkinan buruk, 5. Melindungi anak dari emosi yang menyakitkan, 6. Memberikan terlalu banyak pilihan kepada anak, 7. Terlalu sering memuji kecerdasan anak

Ilustrasi anak bermain.

2. Terlalu cepat menyelamatkan anak dari masalah

Melihat anak kesulitan atau hampir melakukan kesalahan sering membuat orangtua ingin segera turun tangan. Namun, terlalu cepat menyelamatkan anak dari masalah juga dapat berdampak negatif.

Psikolog Dr. Dale Atkins, Ph.D. menjelaskan, kebiasaan ini dapat membuat anak merasa situasi sulit adalah sesuatu yang tidak mampu mereka hadapi.

“Menyelesaikan masalah dengan cepat, menjawab untuk anak, atau menghilangkan tantangan adalah upaya untuk mengurangi ketidaknyamanan. Namun hal ini dapat memberi sinyal bahwa situasi tersebut terlalu berat untuk ditangani anak,” kata Atkins.

Akibatnya, anak dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa kecemasan harus selalu dihindari, bukan dihadapi.

3. Terlalu menekankan emosi 

Kesadaran akan kesehatan mental membuat banyak orangtua lebih terbuka dalam membahas emosi anak. 

Hal ini tentu penting, tetapi jika dilakukan tanpa mengajarkan keterampilan mengelola emosi, justru bisa memperburuk kecemasan.

Todey menjelaskan, memvalidasi perasaan anak memang penting, tetapi memberikan penguatan secara berlebihan tanpa solusi dapat meningkatkan kecemasan.

“Memvalidasi emosi anak memang penting, tetapi memberikan jaminan berlebihan atau menghindari masalah dapat memperburuk kecemasan, terutama pada anak yang cenderung banyak berpikir atau khawatir,” jelasnya.

Anak perlu belajar bahwa mereka tetap bisa menghadapi situasi sulit meski merasa takut atau cemas.

4. Terlalu mempersiapkan anak untuk semua kemungkinan buruk

Banyak orangtua mencoba mempersiapkan anak menghadapi berbagai kemungkinan sebelum menghadapi situasi baru, seperti hari pertama sekolah atau ujian.

Namun, terlalu banyak membahas skenario buruk justru bisa membuat anak semakin cemas.

Menurut Atkins, terlalu banyak persiapan bisa membuat anak fokus pada hal-hal yang berpotensi salah.

“Bagi anak yang mudah cemas, persiapan berlebihan dapat memperbesar ketidakpastian dan memicu pola pikir yang terlalu membayangkan hal buruk,” tutur dia.

Alih-alih merasa siap, anak justru bisa merasa kewalahan memikirkan berbagai kemungkinan negatif.

5. Melindungi anak dari emosi yang menyakitkan

Sebagian orangtua berusaha melindungi anak dari perasaan sedih atau pengalaman yang menyakitkan, seperti kehilangan hewan peliharaan atau konflik keluarga.

Padahal, menghindarkan anak dari emosi tersebut dapat menghambat kemampuan mereka memahami dan mengelola perasaan.

Psikolog Dr. Emily Guarnotta, Psy.D., PMH-C mengatakan, anak sebenarnya sangat peka terhadap suasana di sekitarnya.

“Anak-anak sangat peka. Ketika mereka merasakan kesedihan atau ketegangan di rumah tetapi diberi tahu bahwa semuanya baik-baik saja, hal itu justru menimbulkan kebingungan,” ujar Guarnotta.

Ia menambahkan, kondisi tersebut dapat membuat anak merasa emosi negatif adalah sesuatu yang terlalu menakutkan untuk dihadapi.

6. Memberikan terlalu banyak pilihan kepada anak

Memberi anak pilihan sering dianggap sebagai cara melatih kemandirian. Namun, jika jumlah pilihan terlalu banyak, hal ini justru dapat membuat anak kewalahan.

Menurut Guarnotta, otak anak yang masih berkembang belum tentu siap menghadapi terlalu banyak keputusan.

“Meskipun kemandirian itu baik, terlalu banyak pilihan bisa membuat otak yang sedang berkembang merasa kewalahan,” jelasnya.

Akibatnya, anak bisa mengalami kelelahan dalam mengambil keputusan dan merasa cemas karena takut memilih hal yang salah.

7. Terlalu sering memuji kecerdasan anak

Memuji anak sebagai pintar atau cerdas memang terdengar positif. Namun, jika pujian tersebut terlalu sering diberikan, anak bisa mengaitkan harga diri mereka dengan kecerdasan.

Guarnotta menjelaskan, hal ini dapat memicu kecemasan ketika anak menghadapi kegagalan.

“Ketika anak sering diberi tahu bahwa mereka pintar, mereka bisa mulai mengaitkan nilai diri mereka dengan kecerdasan tersebut,” ujarnya.

Akibatnya, anak mungkin takut mencoba hal baru atau membuat kesalahan karena khawatir dianggap tidak pintar.

Oleh karena itu, para ahli menyarankan orangtua lebih menekankan pada usaha dan proses yang dilakukan anak, bukan hanya hasil atau kecerdasannya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang