Banjir Banjar Terjang 14 Kecamatan: 116.027 jiwa dan 22.991 Rumah Terdampak
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, mencatat dampak banjir yang meluas akibat tingginya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir.
Hingga saat ini, tercatat sebanyak 41.196 kepala keluarga atau 116.027 jiwa terdampak banjir, dengan total 22.991 rumah terendam di sejumlah wilayah Kabupaten Banjar.
Data tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Banjar Yayan Daryanto saat mendampingi Menteri Sosial Saifullah Yusuf meninjau langsung lokasi terdampak banjir di Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, pada Minggu (4/1/2026).
Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi lapangan sekaligus menilai langkah penanganan darurat yang telah dan akan dilakukan pemerintah daerah bersama pemerintah pusat.
Siapa saja kelompok rentan yang terdampak banjir?
Berdasarkan laporan infografis BPBD Banjar per 4 Januari 2025, bencana banjir ini turut berdampak signifikan terhadap kelompok masyarakat rentan.
Kelompok rentan tersebut membutuhkan perhatian khusus karena memiliki risiko lebih besar terhadap gangguan kesehatan, keselamatan, dan keterbatasan mobilitas.
Adapun kelompok rentan yang tercatat terdampak banjir meliputi:
- Ibu hamil sebanyak 272 orang
- Bayi sebanyak 455 orang
- Balita sebanyak 1.521 orang
- Anak-anak sebanyak 2.380 orang
- Penyandang disabilitas sebanyak 275 orang
- Lansia sebanyak 2.911 orang.
Bagaimana dampak banjir terhadap fasilitas umum dan lahan warga?
Selain berdampak pada pemukiman warga, banjir juga mengganggu berbagai fasilitas publik dan sarana pendukung aktivitas masyarakat. BPBD Banjar mencatat sejumlah fasilitas mengalami kerusakan maupun tidak dapat difungsikan secara optimal akibat genangan air.
Fasilitas yang terdampak banjir antara lain:
- 141 unit sekolah
- 131 tempat ibadah
- 18 gedung perkantoran
- 96 unit fasilitas umum
- 18 unit jembatan
- 3.451 hektare lahan sawah dan kebun.
Berapa warga yang masih mengungsi hingga saat ini?
BPBD Banjar melaporkan hingga saat ini masih terdapat 5.045 jiwa yang harus bertahan di lokasi pengungsian.
Para pengungsi tersebar di beberapa titik yang dinilai lebih aman dari ancaman banjir susulan. Pemerintah daerah memastikan kebutuhan dasar pengungsi, seperti logistik, layanan kesehatan, dan sanitasi, tetap menjadi prioritas selama masa tanggap darurat.
Yayan Daryanto menjelaskan bahwa secara umum terjadi penurunan cakupan wilayah terdampak banjir.
Pada awal kejadian, banjir melanda 16 kecamatan, kemudian berkurang menjadi 14 kecamatan, lalu 10 kecamatan, dan saat ini tercatat tinggal delapan kecamatan yang masih terdampak.
Menurut Yayan, penurunan jumlah kecincatan terdampak tidak serta-merta berarti jumlah warga terdampak juga berkurang secara signifikan. Kondisi banjir bersifat fluktuatif dan sangat dipengaruhi oleh karakteristik wilayah.
Ia menjelaskan bahwa di daerah hulu, dampak banjir mungkin relatif lebih kecil. Namun, di daerah hilir, hampir seluruh wilayah sepanjang aliran sungai masih terdampak banjir.
Terkait penanganan pascabanjir, BPBD Banjar menyampaikan bahwa bantuan hunian rumah sementara maupun hunian tetap bagi korban banjir akan dibahas lebih lanjut.
“Nanti setelah masa darurat selesai, kami akan mendata. Kami akan melihat hasil asesmen dan penilaian di lapangan untuk menentukan apakah warga terdampak memerlukan huntara atau bentuk bantuan lainnya, termasuk penilaian terhadap kategori kerusakan rumah masing-masing,” ujar Yayan Daryanto.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang