Profesi Blue-Collar Terancam! Robot AI Bakal Bisa Gantikan Tukang Las hingga Teknisi Listrik

Ilustrasi robot.
Ilustrasi robot.

 Teknologi kecerdasan buatan (AI) terus berkembang pesat, tidak hanya di dunia digital, tetapi kini mulai merambah dunia fisik. Dari mobil swakemudi hingga robot yang bisa bekerja di lokasi konstruksi, AI semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. 

Perkembangan ini menimbulkan pertanyaan, seberapa siap pekerja menghadapi era robot yang semakin cerdas?

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bagi sebagian orang, AI mungkin terdengar seperti masa depan yang jauh. Tapi kenyataannya, banyak startup yang kini menginvestasikan miliaran dolar untuk menciptakan robot yang dapat menggantikan tugas-tugas manusia, terutama pekerjaan yang membutuhkan fisik dan ketangkasan.

Melansir dari laporan Axios, Jumat, 6 Februari 2026, startup AI tengah menggalang miliaran dolar untuk mengembangkan “otak” robot yang dapat bekerja di berbagai sektor, mulai dari rig minyak hingga konstruksi dan logistik. Tujuan utamanya adalah menciptakan robot yang memahami fisika dan kondisi dunia nyata, sehingga bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah-ubah.

Bentuk robot tidak selalu humanoid, yang terpenting adalah kemampuan dan fungsi. Jika robot memiliki kemampuan fisik untuk melakukan suatu tugas, maka kemungkinan besar ia juga bisa memiliki “pengetahuan fleksibel”. 

Pekerjaan seperti plumbing, kelistrikan, pengelasan, perbaikan atap, servis mobil, hingga memasak, akan bisa dilakukan robot dengan AI. Meski potensinya besar, belum ada kesepakatan tentang cara terbaik menerapkan AI dalam robotika. 

Beberapa perusahaan mengumpulkan data dunia nyata untuk melatih model AI mereka. Sementara itu, pendekatan “world models” menggunakan data simulasi fisik dunia nyata. Cara ini lebih murah karena memanfaatkan pemahaman dasar seperti gravitasi, dan didukung oleh Yann LeCun, mantan kepala ilmuwan AI di Meta yang kini membentuk perusahaan AMI Labs.

Di sisi pendanaan, Toronto-based Waabi berhasil menggalang hingga US$1 miliar atau setara Rp16,8 triliun. Ini kemungkinan menjadi pendanaan terbesar untuk startup Kanada. Fokus awal mereka adalah robo-taxi dan truk swakemudi. 

“Jelas bahwa momen AI real secara fisik sudah tiba,” kata pendiri dan CEO Waabi, Raquel Urtasun. “Otonomi adalah aplikasi pertama di mana skala akan terjadi,” ujarnya. 

Pittsburgh-based Skild AI baru saja mengumpulkan US$1,4 miliar atau Rp23,52 triliun, dengan valuasi US$14 miliar atau Rp235,2 triliun. Moto mereka adalah “Any robot. Any task. One brain.”

Sementara itu, FieldAI bulan lalu menggalang hampir US$400 juta atau Rp6,72 triliun untuk fokus pada industri kotor, membosankan, atau berbahaya seperti energi dan logistik. Software mereka dapat membantu robot membangun pusat data, AI yang membantu AI, sementara manusia hanya memantau.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski potensinya besar, sulit memperkirakan berapa banyak pekerjaan blue-collar yang bisa terdampak atau seberapa cepat perubahan ini terjadi. Bahkan jika robot AI mampu melampaui manusia, biaya perangkat keras tambahan dan biaya transisi mungkin lebih besar daripada efisiensi yang diperoleh. Setidaknya untuk saat ini.

Mereka yang optimis berpendapat bahwa tidak akan ada kehilangan pekerjaan secara masif, karena teknologi baru selalu menciptakan kebutuhan tenaga kerja baru. Namun, kritikus mengingatkan bahwa sejarah tidak selalu menjadi patokan, karena AI menghadirkan perubahan yang lebih ekstrem dibanding teknologi sebelumnya.