Gawat! AI Mulai Gantikan Manajer, Banyak Perusahaan Rombak Struktur Kerja

Ilustrasi robot dan manusia bekerja bersama
Ilustrasi robot dan manusia bekerja bersama

 Perkembangan kecerdasan buatan (AI) semakin mempercepat perubahan di lingkungan kerja. Setelah hanya dianggap sebagai alat bantu, kini AI mulai mengambil peran lebih dalam dalam kegiatan operasional perusahaan. 

Dampaknya tak hanya terasa pada proses kerja, tetapi juga pada struktur organisasi dan ekspektasi terhadap manajer. Hal ini disampaikan para pemimpin industri dalam konferensi Fortune Brainstorm AI, yang menilai AI sudah mulai menghapus sejumlah tugas yang dulu dianggap sebagai pekerjaan inti seorang manajer.

Beberapa perusahaan besar pun sudah mengambil langkah berani. Amazon, Moderna, dan McKinsey mulai memangkas lapisan manajemen, meratakan organisasi, dan mempekerjakan agen AI untuk menangani pekerjaan administratif yang sebelumnya memakan waktu manajer. 

Transformasi ini menunjukkan betapa cepatnya teknologi menggeser definisi pekerjaan manajerial. Danielle Perszyk, ilmuwan kognitif di laboratorium AI Amazon, menjelaskan bahwa beban administratif adalah masalah nyata yang selama ini menghalangi produktivitas. 

“Baik Anda seorang manajer maupun kontributor individual, Anda terikat pada layar komputer, dan semua aplikasi produktivitas yang kita gunakan justru merusak produktivitas kita,” ujarnya sebagaimana dikutip dari Fortune, Jumat, 12 Desember 2025.

Ilustrasi robot dan manusia di industri.

Menurutnya, agen AI bisa menjadi “rekan kerja universal” yang mengambil alih tugas berulang sehingga manajer dapat fokus pada strategi. Aashna Kircher, pimpinan di divisi SDM Workday, menilai perubahan ini akan menggeser prioritas pekerjaan manajer.  

“Peran manajer ke depan akan sangat lebih fokus menjadi pelatih, pemberi dukungan, dan pengarah kerja tim, yang secara teori memang selalu menjadi peran tersebut,” paparnya. 

Dengan berkurangnya tugas administratif, waktu manajer bisa dialihkan ke aktivitas yang lebih manusiawi seperti pembinaan dan pengembangan tim. Toby Roberts, eksekutif senior teknologi di Zillow, juga melihat dampak struktural yang lebih besar. 

Ia memprediksi manajer bisa memimpin tim yang lebih besar tanpa kehilangan efektivitas. Menurutnya, ketika manajer terbebas dari pekerjaan kecil sehari-hari, kapasitas mereka meningkat secara signifikan.

Namun, perubahan ini juga memaksa perusahaan menata ulang standar penilaian terhadap manajer. “Secara historis, kita menilai manajer dari output timnya, bukan dari kualitas mereka sebagai pemimpin,” ujarnya. 

Ia menambahkan bahwa organisasi harus membangun struktur akuntabilitas dan insentif baru untuk menghargai aspek kepemimpinan yang lebih penting di era AI. Meski membawa efisiensi, penggunaan AI tidak bisa dilakukan tanpa batas. 

Kate Niederhoffer, ilmuwan utama di BetterUp Labs, memperingatkan bahwa penggunaan AI secara berlebihan dapat merusak hubungan antar manusia di sistem kerja. “Persepsi bawahan terhadap manajer menurun ketika mereka merasa AI digunakan dalam momen apresiasi atau pemberian umpan balik.” 

Menurutnya, manusia tetap lebih baik dalam tugas-tugas yang membutuhkan empati. Niederhoffer menambahkan bahwa ketika interaksi emosional digantikan oleh sistem otomatis, kemampuan bekerja sama dalam organisasi ikut menurun. 

Stefano Corazza, kepala riset AI di Canva, menambahkan bahwa empati buatan bukanlah pengganti hubungan manusia. “Semakin banyak AI, semakin dihargai orisinalitas.” Ia menekankan bahwa perhatian tulus dari seorang manajer jauh lebih efektif daripada interaksi otomatis yang dipoles oleh AI.