Top 9+ Bangku Kosong di SDN 33 Koto Alam, Duka Guru di Agam Kehilangan Murid Akibat Banjir Sumatera

Suasana Senin (1/12/2025) menjadi hari yang tidak biasa bagi Kepala SDN 33 Koto Alam, Mardiah ZN.
Meski telah memacu sepeda motornya melewati jalan yang masih dipenuhi lumpur dan material longsor, setibanya di sekolah yang terletak di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar), ia hanya mendapati bangunan terkunci dan sampah berserakan.
Tak ada lagi gelak tawa dan sorak siswa yang biasanya menyambutnya. Yang terdengar hanya kicau burung dan deru air sungai.
Sungai yang sama, yang kini jaraknya kian dekat ke sekolah, telah menjadi saksi bisu tragedi banjir bandang (galodo) yang merenggut nyawa ratusan warga di Jorong Salareh Aie dan Salareh Aie Timur.
Tragedi itu juga menelan sembilan murid SDN 33 Koto Alam. Empat di antaranya hingga kini belum ditemukan jasadnya.
“Biasanya kalau saya datang, pasti mereka langsung menyapa atau menyalami,” ujar Mardiah (55) dengan suara bergetar.
Tangisnya pecah ketika mengenang rutinitas yang kini hanya tinggal kenangan.
Duka Mardiah berlapis. Luka kehilangan buah hatinya dua tahun lalu belum sepenuhnya pulih, kini ia kembali diuji dengan kehilangan murid-murid yang telah ia anggap seperti anak sendiri.
Sekolah Sunyi Pasca Banjir Bandang Agam
Di ruang guru SDN 33 Koto Alam, suasana terasa hampa. Mardiah tetap datang menjalankan tugasnya sebagai kepala sekolah, merapikan diri dan berdandan sederhana layaknya guru panutan.
Namun komunikasi antar guru berlangsung seperlunya, hanya untuk menyelesaikan laporan yang diminta dinas pendidikan.
“Setelah tugas selesai, kami cepat pulang. Rasanya berat berlama-lama di sekolah,” kata salah seorang guru.
Proses belajar mengajar pascabencana banjir bandang Agam pun dialihkan secara fleksibel.
Para siswa tetap menerima tugas melalui grup WhatsApp, tanpa paksaan. Orang tua diminta tidak memaksa anak belajar jika masih diliputi trauma.
Kebijakan ini diambil karena hampir seluruh siswa, termasuk yang tidak terdampak langsung, mengalami tekanan psikologis akibat kehilangan teman dan menyaksikan dampak bencana.
Kekhawatiran yang Menjadi Kenyataan
Jauh sebelum banjir bandang melanda pada Kamis (27/11/2025), Mardiah telah diliputi kecemasan. Lokasi sekolah yang berada di lereng bukit dan hujan deras selama sepekan membuatnya waswas.
“Sejak cuaca ekstrem, saya sudah takut,” kenangnya.
Ia bahkan telah menginstruksikan guru memulangkan siswa lebih cepat dan menyelesaikan pekerjaan di rumah. Arahan itu disampaikan resmi kepada komite sekolah.
Namun bencana datang dengan skala jauh lebih besar dari perkiraannya.
Ironisnya, para murid tidak menjadi korban di sekolah, melainkan di rumah masing-masing bersama orang tua mereka. Mayoritas siswa SDN 33 Koto Alam berdomisili di Jorong Subarang Aie, wilayah yang menjadi episentrum banjir bandang Sumatera Barat.
“Setelah saya cek, ada yang berdua, berlima, bahkan satu keluarga bertujuh meninggal. Di antaranya murid saya,” ujar Mardiah sambil menangis.
Pasca tragedi, Mardiah memutuskan seluruh siswa belajar dari rumah. Keputusan ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten Agam. Meski orang tua bertanya soal ujian semester dan pembagian rapor, Mardiah memastikan proses penilaian tetap berjalan.
“Ujiannya sudah, tinggal menerima rapor. Nanti kami berkabar,” katanya.
Nilai rapor akan diambil dari akumulasi nilai harian dan ujian tengah semester.
Sembilan Murid, Sembilan Bangku Kosong
Dalam data Dinas Pendidikan Kabupaten Agam, tercatat sembilan murid SDN 33 Koto Alam meninggal dunia akibat banjir bandang, yakni Navian Aulia Putri, Kanza Rizkia, Ahmad Zulfadli, Anissa Aulya, M Abdul Hamid, Azam Syofyan, Sthevani Amykha, Ahmad Habiby, dan Wahyu Ariadi.
“Ini pertama kali saya kehilangan murid selama 34 tahun mengajar, dan jumlahnya sembilan orang,” ujar Mardiah.
Beberapa murid bahkan meninggal bersama seluruh anggota keluarganya.
Novian Aulia Putri (kelas 1) dan Annisa Aulya (kelas 3) tersapu banjir bersama kakak SMP dan kedua orang tuanya. Hingga kini, jasad keduanya belum ditemukan.
satunya anggota keluarga yang selamat adalah sang nenek, yang saat kejadian berada di rumah saudara.
Kisah serupa dialami Ahmad Habiby, yang hanyut bersama dua saudara dan kedua orang tuanya. Sementara M Abdul Hamid hanya meninggalkan seorang kakak perempuan.
“Untuk murid yang sudah tidak punya orang tua, rapornya nanti kami serahkan kepada ahli waris perempuan,” kata Mardiah.
Trauma Murid dan Guru
Dari total 96 siswa, kini SDN 33 Koto Alam hanya menyisakan 86 murid. Satu murid lainnya, Syifa Nurani, selamat namun harus menjalani dua kali operasi akibat patah tulang. Ia kehilangan kedua orang tuanya dan kini diasuh kakaknya di Padang Panjang.
Trauma juga dialami para guru. Beberapa di antaranya masih membersihkan rumah yang rusak akibat banjir bandang Agam.
“Kehilangan ini sangat berat, karena kami tahu betul kebiasaan dan karakter setiap murid,” ujar seorang guru kelas.
Mardiah berusaha menguatkan rekan-rekannya. “Saya bilang ke guru-guru, ikhlaskan mereka. Mudah-mudahan semua meninggal dalam keadaan syahid,” tuturnya.
Kisah Novian Aulia Putri, Senyum Terakhir di Sekolah
Salah satu kisah yang paling membekas bagi Mardiah adalah Novian Aulia Putri, siswi kelas 1 yang hingga kini belum ditemukan jasadnya. Sejak awal masuk sekolah, Novi, sapaan akrabnya enggan masuk kelas dan hanya mau belajar jika ditemani ibunya.
Guru-guru bahkan menyiapkan meja di teras sekolah agar Novi tetap bisa belajar. Meski pendiam, nilai akademiknya selalu baik.
Beberapa hari sebelum bencana, Mardiah berhasil membujuk Novi masuk kelas tanpa ibunya.
“Novi masuk kelas yuk, ibuk temanin,” kata Mardiah saat itu.
Novi mengangguk. Ia akhirnya belajar di dalam kelas selama sekitar 10 hari—sebuah kemenangan kecil yang kini menjadi kenangan paling menyakitkan.
“Sekarang tidak ada Novi lagi,” kata Mardiah lirih. “Jenazahnya belum ditemukan sampai sekarang.”
Kini, sembilan bangku kosong di SDN 33 Koto Alam menjadi simbol kehilangan akibat banjir bandang Sumatera Barat. Meski berat, Mardiah dan para guru berusaha mengikhlaskan.
“Kami hanya bisa berdoa. Semoga semua murid kami ditempatkan di surga Allah,” ucap Mardiah.
Di tengah reruntuhan fisik dan luka batin, tugas Mardiah tak hanya mengajar, tetapi menjaga harapan agar tetap hidup di SDN 33 Koto Alam, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Artikel ini telah tayang diTribunPadang.comdengan judul Kisah Duka dari SDN 33 Koto Alam, Sembilan Bangku Kosong Selamanya
Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini