Hari Ini Semarang Barat Masih Terendam Banjir Akibat Meluapnya Sungai Plumbon
Banjir kembali melanda wilayah Semarang Barat setelah Sungai Plumbon meluap akibat hujan deras.
Peristiwa ini terjadi pada Kamis (15/1/2026) malam dan menyebabkan sejumlah permukiman warga terendam.
Luapan air diperparah oleh jebolnya tanggul Sungai Plumbon di beberapa titik.
Hingga Jumat (16/1/2026), genangan banjir masih tersisa di sejumlah kelurahan terdampak.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Semarang, Endro P Martanto, mengatakan sebagian warga memilih bertahan di rumah masing-masing.
Namun, sebagian lainnya terpaksa mengungsi ke rumah kerabat yang lebih aman.
Genangan Masih Tersisa di Tiga Kelurahan
Hingga Jumat pagi, genangan air di wilayah Mangunharjo, Mangkang Indah, dan Wonosari masih berkisar sekitar 10 sentimeter.
"Genangan masih sekitar 10 cm. Itu di Mangunharjo, Mangkang Indah, dan Wonosari juga," jelas Endro, Jumat (16/1/2026), seperti dilansir dari Tribun Jateng.
Menurut Endro, banjir terjadi akibat debit Sungai Plumbon meningkat drastis setelah hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi mengguyur Kota Semarang.
Kondisi ini diperparah sistem drainase yang tidak mampu menampung aliran air, sehingga luapan sungai menggenangi kawasan permukiman.
"Pagi tadi pembersihan oleh Damkar," lanjutnya.
Luapan Sungai Plumbon berdampak langsung pada Kampung Wonosari Perum Mangkang Indah, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan.
Selain itu, banjir juga merendam Mangkang Kulon serta Kelurahan Mangunharjo, dengan air masuk ke rumah-rumah warga.
Ketinggian Air Bervariasi, Ratusan Jiwa Terdampak
Ketinggian genangan air di wilayah terdampak bervariasi. Di Wonosari RW 01, ketinggian air mencapai sekitar 10 hingga 60 sentimeter.
Di Mangkang Kulon, genangan berkisar 20 hingga 40 sentimeter, sementara di Jalan Kuda mencapai 10 hingga 25 sentimeter.
Akibat banjir ini, ratusan kepala keluarga terdampak. Di Perum Mangkang Indah, banjir merendam RT 01 hingga RT 13 RW 02 dengan total sekitar 250 KK atau 680 jiwa.
Di wilayah Mangkang Kulon, genangan terjadi di RT 02 RW 02 serta RT 01 dan RT 05 RW 04.
Sementara di Kelurahan Mangunharjo, sekitar 280 KK atau 693 jiwa terdampak di RT 01 hingga RT 06
Evakuasi Warga Dilakukan ke Tempat Aman
Endro menyebut BPBD Kota Semarang melakukan monitoring dan asesmen di lokasi terdampak, serta mengevakuasi warga yang membutuhkan bantuan.
Di Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, sejumlah warga terpaksa mengungsi ke rumah lain yang posisinya lebih tinggi karena air datang cepat dan sempat mencapai sepinggang orang dewasa.
Lurah Wonosari, Dimas Sancoyo, menjelaskan banjir dipicu limpasan Sungai Plumbon yang menggenangi hampir seluruh wilayah RW 2. Selain RW 2, genangan juga terjadi di RW 3 dan RW 7 Jalan Kuda.
“Hampir semua di RW 2, dari RT 1 sampai RT 13 terendam, kecuali RT 8 dan RT 9. Ketinggian air sepinggang orang dewasa,” kata Dimas, Jumat (16/1/2026).
Di kawasan Perumnas Mangkang, ketinggian air dilaporkan mencapai sekitar satu meter. Sebanyak 10 warga lanjut usia dan balita dievakuasi ke rumah warga lain yang lebih aman.
“Ada 10 orang lansia dan balita yang kami evakuasi. Warga harus menggendong karena air datang cukup cepat. Saat ini warga masih waspada karena debit Sungai Plumbon masih tinggi,” ujarnya.
Dua Titik Tanggul Jebol, Warga Masih Waspada
Banjir juga merendam ratusan rumah warga di Kecamatan Tugu, tepatnya di Kelurahan Mangunharjo dan Mangkang Kulon.
Selain luapan air sungai, banjir diperparah oleh jebolnya tanggul di sejumlah titik.
Data sementara mencatat tanggul Sungai Plumbon kembali jebol di dua lokasi, yakni RT 4 RW 4 Kelurahan Mangunharjo dan RT 2 RW 3 Kelurahan Mangkang Kulon.
Beberapa titik tanggul lainnya juga mengalami rembesan dan limpasan, sehingga air cepat masuk ke permukiman sejak sekitar pukul 18.00 WIB dan terus meningkat hingga pukul 21.00 WIB.
“Sekitar jam 20.00 malam air mulai masuk rumah. Rumah saya dekat sungai. Ini limpasan air sungai, dan banjir kali ini cukup parah,” ujar Novianti, warga RT 5 RW 4 Kelurahan Mangunharjo.
Ia menyebut ketinggian air di dalam rumah mencapai sekitar 50 sentimeter, sementara di luar rumah hampir sepinggang orang dewasa.
“Harapannya tentu normalisasi sungai, karena sudah beberapa kali ini warga kebanjiran,” keluhny
Lurah Mangunharjo, Siti Komariyah, menyatakan wilayah RW 4 menjadi lokasi terparah terdampak banjir. Kawasan tersebut sempat terisolasi karena berada dekat bibir Sungai Plumbon.
“Hampir semua RT terdampak, dan ada beberapa titik tanggul yang jebol. Desember kemarin warga kebanjiran dua kali, Januari ini kebanjiran lagi,” katanya.
Menurut Siti, hingga Jumat dini hari warga masih diminta waspada mengingat curah hujan yang masih tinggi.
Penanganan darurat tanggul jebol direncanakan dilakukan setelah air surut, termasuk pendirian dapur umum bagi warga terdampak.
Ia menambahkan, di wilayahnya, banjir mulai berangsur surut sekitar pukul 02.00 WIB dan warga langsung membersihkan lumpur yang mengendap di rumah masing-masing.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang