Jarang Dibahas, Ini 3 Gangguan Fungsi Intim yang Sering Dialami Pria

ilustrasi pria terkejut
ilustrasi pria terkejut

Ada berbagai masalah fungsi intim yang dapat dialami pria dan mengganggu kehidupan ranjang mereka. Beberapa masalah itu seperti disfungsi ereksi, infertilitas, kelengkungan organ intim (penyakit Peyronie), dan kondisi lainnya.

Ahli bedah urologi dari Mass General Brigham, Michael O’Leary, MD, MPH,  membagikan lima hal penting yang perlu diketahui pria tentang kondisi kesehatan seksual yang umum terjadi. Apa saja? Berikut ini kondisi kesehatan yang memengaruhi kesehatan seksual pria seperti dilansir dari situs resmi massgeneralbrigham, Kamis 29 Januari 2026.

1. Kondisi kesehatan seksual yang paling umum pada pria adalah disfungsi ereksi.

Disfungsi ereksi (disebut juga ED atau impotensi) adalah kondisi ketika pria tidak mampu mendapatkan atau mempertahankan ereksi yang cukup kuat untuk berhubungan intim. Masalah ini semakin sering terjadi seiring bertambahnya usia.

Pada usia 40 tahun, sekitar 4 dari 10 pria mengalami masalah ini, dan pada usia 70 tahun, angkanya meningkat menjadi 7 dari 10 pria, menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK).

Penyakit dan kondisi yang paling sering menyebabkan masalah ini antara lain:

  • Penyakit kronis, seperti diabetes, penyakit ginjal kronis, obesitas atau kelebihan berat badan, serta penyakit paru obstruktif kronis (COPD)
  • Penyakit jantung dan pembuluh darah, seperti aterosklerosis, tekanan darah tinggi, dan stroke
  • Gangguan hormon, seperti testosteron rendah dan masalah tiroid
  • Kerusakan atau gangguan saraf, seperti multiple sclerosis, cedera tulang belakang, dan kerusakan akibat operasi panggul
  • Masalah pada sistem reproduksi pria, seperti pembesaran prostat dan kelengkungan penis

Menurut Dr. O’Leary, banyak pengobatan awal untuk mengatasi masalah ini berupa obat-obatan yang efektif pada sekitar 50 hingga 70 persen pria. Jika pasien tidak merespons obat, tersedia beberapa pilihan non-bedah untuk membantu terjadinya ereksi dengan meningkatkan aliran darah.

Dalam beberapa kasus, pasien memerlukan terapi yang lebih invasif. Misalnya, dokter dapat memasukkan obat melalui uretra. Uretra adalah saluran yang membawa urine dari kandung kemih ke luar tubuh. Pada pria, uretra melewati kelenjar prostat dan penis.

Pasien yang tidak mendapatkan hasil memuaskan dari pengobatan awal juga dapat mempertimbangkan tindakan operasi, seperti pemasangan implan atau prostesis penis (organ intim buatan).

2. Masalah kesehatan mental dapat menyebabkan disfungsi ereksi.

Stres, depresi, dan gangguan kesehatan mental lainnya merupakan penyebab umum disfungsi ereksi pada pria.

“Organ terpenting yang kaitannya soal kehidupan ranjang bukan yang ada di bawah pinggang pria, melainkan yang ada di atas bahunya,” kata dia.

Jika tidak ditemukan penyebab fisik, dokter akan menilai disfungsi ereksi dengan mempertimbangkan kondisi mental dan emosional pasien.

3. Cedera ringan pada organ intim dapat menyebabkan penyakit Peyronie.

Penyakit Peyronie adalah gangguan ketika jaringan parut yang disebut plak terbentuk di bawah kulit organ intim. Plak ini berkembang di dalam penis, tepatnya pada selaput elastis tebal yang disebut tunika albuginea, yang berfungsi menjaga kekakuan penis saat ereksi. Plak dapat muncul di bagian mana pun sepanjang organ intim.

Seiring terbentuknya, plak menarik jaringan di sekitarnya dan menyebabkan penis melengkung atau bengkok, terutama saat ereksi. Kelengkungan ini bisa menimbulkan nyeri saat ereksi dan membuat hubungan intim terasa sakit, sulit, atau bahkan tidak mungkin dilakukan.

Meski penyebab pastinya belum diketahui, banyak pria dengan penyakit Peyronie memiliki riwayat cedera ringan yang menyebabkan perdarahan di dalam penis.

Untuk mendiagnosis kondisi ini, dokter biasanya melakukan pemeriksaan USG guna menilai fungsi ereksi dan struktur organ intim mereka. Dalam banyak kasus, penyakit Peyronie muncul dalam bentuk ringan dan nyeri awal akan mereda dalam 6 hingga 12 bulan, sehingga pasien dapat kembali berhubungan intim secara normal. Plak dapat ditangani dengan terapi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.