Top 5+ Keluhan Chanee Kalaweit Soal Kemenhut: Dicuekin hingga Dilarang Posting ke Medsos
Aktivis lingkungan dan pendiri Yayasan Kalaweit, Chanee Kalaweit, kembali menjadi sorotan publik setelah membeberkan sederet keluhannya terhadap Kementerian Kehutanan (Kemenhut).
Melalui pernyataannya di media sosial X, Chanee menegaskan bahwa berbagai tekanan yang ia alami selama bertahun-tahun berhubungan langsung dengan perjuangannya dalam konservasi alam di Indonesia. Scroll lebih lanjut yuk!
Pernyataan itu ia sampaikan di tengah maraknya bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan Aceh, sebagai pengingat bahwa isu lingkungan sudah berada pada tahap yang sangat mendesak. Menurutnya, menjaga alam adalah bentuk investasi jangka panjang bagi masa depan.
"Kalau kita berinvestasi dalam kerusakan alam atau melalui kegiatan yang merusak alam, kita akan menuju bencana seperti yang kita lihat sekarang dengan saudara-saudara di Sumatera yang kesusahan,” ucap Chanee melalui X pribadinya, dikutip Rabu, 10 Desember 2025.
kondisi kawasan hutan lindung yang ditebang di sekitar lokasi Harangan Repa
Berikut adalah deretan keluhan Chanee terhadap Kemenhut yang ia ungkapkan secara terbuka:
1. Merasa Dicueki Selama Lebih dari Dua Dekade
Chanee mengungkap bahwa selama 27 tahun bekerja melalui Yayasan Kalaweit untuk menjaga hutan dan satwa liar, hubungan dengan Kemenhut tidak berjalan mulus. Meski secara resmi menjadi mitra pemerintah dan menerima dukungan luas dari publik, ia menilai kementerian justru tidak memberikan perhatian sebagaimana mestinya.
"Selama 27 tahun berjuang di Indonesia dengan Yayasan Kalaweit, walaupun menjadi mitra dari Kementerian Kehutanan, walaupun dapat banyak sekali dukungan dari masyarakat Indonesia, kami selama ini cukup dicuekin oleh Kementerian Kehutanan, oleh Menteri Kehutanan sebelumnya,” ungkapnya.
2. Mengalami Tekanan Selama Hampir Satu Dekade
Keluhan Chanee tidak berhenti pada sikap diabaikan. Ia menyebut bahwa selama sembilan tahun terakhir, di masa menteri sebelumnya, tekanan justru semakin meningkat. Ia menilai hal itu menghambat upaya konservasi yang dilakukan oleh Kalaweit di lapangan.
"Jangankan hanya dicuekin, selama 9 tahun terakhir di masa Jabatan Menteri yang sebelumnya, 9 tahun, kami tidak hanya dicuekin, kami ditekan, perizinan kami tidak diperpanjang,” ujarnya.
3. Dilarang Mengunggah Konten Konservasi di Media Sosial
Salah satu hal yang paling disorot Chanee adalah adanya upaya pembatasan terhadap aktivitas komunikasi Kalaweit di media sosial. Menurutnya, kementerian meminta pihaknya untuk tidak membahas hal-hal yang dianggap tidak disukai oleh Kemenhut.
"Dan bahkan kami dibatasi atau kami di larang pos di media sosial hal-hal yang tidak disukai oleh kementerian tentang konservasi,” katanya.
Pembatasan ini, kata Chanee, membuat ruang komunikasi publik terkait isu lingkungan menjadi semakin sempit.
4. Minimnya Komunikasi Resmi antara Kalaweit dan Kemenhut
Chanee mengungkap bahwa selama bertahun-tahun, komunikasi formal antara lembaganya dan kementerian hampir tidak pernah terjadi. Kondisi ini membuat proses koordinasi terkait perlindungan hutan dan satwa menjadi tidak maksimal.
Ia menyebut, hanya dalam setahun terakhir komunikasi mulai terbuka kembali, meski masih dalam tahap awal.
5. Perubahan Positif Baru Terjadi Setahun Terakhir
Menurut Chanee, angin segar baru terasa setelah Menteri Kehutanan saat ini, Raja Juli Antoni, mulai menunjukkan keterbukaan terhadap masukan dari lembaga konservasi. Bahkan, kunjungan menteri ke area hutan yang dilindungi Kalaweit menjadi momentum penting.
"Baru satu tahun, dimana kami bisa menyampaikan masukan saran minimal diskusi. Dan baru kemaren, Menteri Kehutanan datang ke sini dan itu menjadi momentum dimana beliau mau mendengarkan secara langsung masukan saran sudut pandang dari kalaweit tentang situasi alam di sini,” tandasnya.
Di akhir pernyataannya, Chanee kembali menekankan bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi hari ini merupakan hasil dari akumulasi selama puluhan tahun.
"Kita harus juga ingat. Kerusakan terjadi itu selama beberapa dekade. Dan tidak mungkin dalam enam bulan satu tahun itu menyelesaikan semuanya," jelas Chanee.
Ia menegaskan perlunya konsistensi dan investasi jangka panjang untuk menjaga sisa hutan Indonesia.
"Pentingnya kita saat ini menjaga alam hutan tersisa untuk generasi-generasi mendatang. Saya rasa alam sudah cukup mengingatkan kita akhir-akhir ini,” tutupnya.