Aktivis Chanee Kalaweit: Selama 9 Tahun Kami Dicuekin dan Ditekan Kemenhut

Aktivis lingkungan sekaligus pendiri Yayasan Kalaweit, Chanee Kalaweit
Aktivis lingkungan sekaligus pendiri Yayasan Kalaweit, Chanee Kalaweit

 Aktivis lingkungan sekaligus pendiri Yayasan Kalaweit, Chanee Kalaweit, mengaku kerap mendapat tekanan dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terkait konservasi alam.

Hal ini ia sampaikan di tengah bencana alam yang melanda sejumlah daerah di Sumatera dan Aceh, sekaligus untuk mengingatkan bahwa isu lingkungan saat ini membutuhkan perhatian serius.

Chanee menegaskan bahwa menjaga alam adalah bentuk investasi jangka panjang untuk masa depan yang aman dan layak. 

Ilustrasi area Bawangling di Taman Nasional Hutan Hujan Tropis Hainan

“Kalau kita berinvestasi dalam kerusakan alam atau melalui kegiatan yang merusak alam, kita akan menuju bencana seperti yang kita lihat sekarang dengan saudara-saudara di Sumatera yang kesusahan,” ucap Chanee melalui X pribadinya, dikutip VIVA Rabu, 10 Desember 2025.

Ia kemudian mengungkapkan pengalaman selama lebih dari dua dekade bekerja untuk perlindungan alam di Indonesia. Meski Yayasan Kalaweit menjadi mitra resmi Kemenhut dan menerima banyak dukungan publik, ia menyebut bahwa hubungan dengan kementerian tidak selalu berjalan ideal.

“Selama 27 tahun berjuang di Indonesia dengan Yayasan Kalaweit, walaupun menjadi mitra dari Kementerian Kehutanan, walaupun dapat banyak sekali dukungan dari masyarakat Indonesia, kami selama ini cukup dicuekin oleh Kementerian Kehutanan, oleh Menteri Kehutanan sebelumnya,” ungkapnya.

Ia menambahkan kondisi itu bahkan semakin memburuk selama hampir satu dekade. 

“Jangankan hanya dicuekin, selama 9 tahun terakhir di masa Jabatan Menteri yang sebelumnya, 9 tahun, kami tidak hanya dicuekin, kami ditekan, perizinan kami tidak diperpanjang,” ujarnya.

Tak berhenti di situ, ia mengungkap bahwa pihaknya juga dibatasi dalam menyampaikan kondisi konservasi di media sosial. 

“Dan bahkan kami dibatasi atau kami di larang pos di media sosial hal-hal yang tidak disukai oleh kementerian tentang konservasi.” Situasi tersebut membuat komunikasi antara Kalaweit sebagai NGO (Non-Governmental Organization) dan kementerian hampir tidak pernah terjadi.

Chanee menjelaskan bahwa baru dalam setahun terakhir komunikasi mulai terbuka kembali. Ia menyebut ada ruang diskusi minimal yang mulai terbangun, termasuk peluang menyampaikan masukan langsung. 

Puncaknya, menurut Chanee, terjadi saat Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, berkunjung ke area hutan yang selama ini ia lindungi.

Halaman Selanjutnya
“Baru satu tahun, dimana kami bisa menyampaikan masukan saran minimal diskusi. Dan baru kemaren, Menteri Kehutanan datang ke sini dan itu menjadi momentum dimana beliau mau mendengarkan secara langsung masukan saran sudut pandang dari kalaweit tentang situasi alam di sini,” tandasnya.
Halaman Selanjutnya