Bos Bank AS Tolak Keras Mahalnya Visa H-1B Jadi Rp1,6 Miliar, Soroti Matinya Pelaku Usaha Kecil hingga Rugikan Ekonomi
Penolakan terhadap rencana penerapan biaya baru visa kerja H-1B di Amerika Serikat kian menguat, salah satunya datang dari CEO International Bank of Commerce Texas, Dennis Nixon. Pimpinan salah satu bank di Amerika Serikat (AS) ini menyatakan bahwa tarif visa H-1B sebesar US$100.000 atau setara Rp 1,6 miliar (estimasi kurs Rp 16.660 per dolar AS) merupakan kebijakan sangat membebani ekonomi.
Ia menegaskan, regulasi ini justru mengancam dinamika pasar tenaga kerja dan menghambat pertumbuhan bisnis di AS. Pernyataan ini menepis komentar dari perusahaan besar Amazon, Microsoft, Meta, hingga Apple yang tidak mengatakan tidak keberatan atas kenaikan biaya visa pekerja ini.
Menurut Nixon, beban ini akan menghantam pelaku usaha kecil dan menengah yang bergantung pada talenta global. Pasalnya, hanya perusahaan raksasa sekelas Apple yang dapat merekrut tenaga kerja asing terbaik karena mampu membiayai visa H-1B yang ia sebut sangat mahal.
Ia menekankan bahwa lebih dari 45 persen perusahaan yang masuk dalam Fortune 500, seperti Nvidia, SpaceX, hingga Aphabet didikan oleh pekerja imigran yang berawal dari perusahaan kecil yang kemudian tumbuh menjadi tulang punggung ekonomi digital AS.
Ilustrasi pekerja.
Nixon juga menepis anggapan bahwa pekerja H-1B menggeser tenaga kerja lokal. Menurutnya, sebelum mempekerjakan tenaga asing, perusahaan wajib memastikan bahwa posisi tersebut tidak menggantikan pekerja lokal.
"Sejak 1990, program visa H-1B menawarkan akses masuk kepada para pekerja dengan gelar sarjana atau lebih tinggi. Pekerja keterampilan tinggi ini mengisi posisi khusus yang melengkapi bukan menggantikan pekerja Amerika," jelas Nixon dikutip dari Times of India pada Senin, 1 Desember 2025.
Lebih jauh, Nixon menekankan bahwa imigran bukan hanya tenaga kerja tetapi juga konsumen memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi AS. Mulai dari beriinvestasi di pasar modal AS hingga menciptakan lapangan kerja baru.
"Imigran juga merupakan konsumen yang tinggal dan bekerja di Amerika Serikat. Mereka berkontribusi langsung terhadap produk domestik bruto negara," kata Nixon.
Bahkan, kata Nixon, imigran lebih sering berada pada usia produktif. Mereka juga cenderung berkeluarga di negara Paman Sam ini lalu memiliki anak lalu memulai bisnis sehingga memperluas pasar tenaga kerja dalam negeri.
Kondisi ini sekaligus mengatasi pasar tenaga kerja AS yang menua serta kesenjangan keterampilan. Nixon mengungkap bahwa hampir 11.400 pekerja AS pensiun setiap harinya.
"Hanya 7.212 pekerja yang memasuki dunia kerja seiring dengan hilangnya tenaga kerja asing terampil dari sumber daya manusia semakin sulit untuk menemukan karyawan yang berkualitas," ujar Nixon.
Visa H-1B memanas di bawah pemerintahan Donald Trump lantaran pemerintah dinilai mengenakan biaya selangit sehingga membenani pengusaha yang secara tidak langsung juga menghambat pertumbuhan ekonomi AS. Di satu sisi, Trump menegaskan bahwa AS membutuhkan pekerja asing untuk keterampilan tertentu.