Harga Visa H-1B Capai Rp1,6 Miliar, Rekrutmen Pekerja IT India Anjlok Drastis

Ilustrasi Visa H-1B
Ilustrasi Visa H-1B

Kebijakan kenaikan biaya pengajuan visa kerja H-1B menjadi US$100.000 atau setara Rp1,6 miliar di bawah pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mulai menunjukkan dampak besar pada industri teknologi global. India menjadi negara paling terdampak lantaran selama ini mendominasi tenaga asing yang bekerja di sektor teknologi AS.

Perusahaan teknologi raksasa seperti Amazon, Meta, Microsoft, dan Google, yang sebelumnya bergantung pada tenaga IT India mulai mengalihkan fokus. Keemmpat perusahaan memilih mempertahankan pekerja asing yang ada daripada mengurus biaya mahal untuk merekrut pekerja baru dari luar negeri. 

Pergeseran strategi ini memicu penurunan tajam dalam jumlah persetujuan visa H-1B baru bagi pekerja IT India. Data National Foundation for American Policy (NFAP) yang bersumber pada USCIS mencatat bahwa persetujuan visa H-1B baru untuk perusahaan IT India mengalami penurunan drastis. 

Ilustrasi pekerja

Dikutip dari NDTV pada Jumat, 5 Desember 2025, jumlah pengajuan visa H-1B baru hanya sebanyak 4.573 pemohon sekaligus menjadi terendah dalam sepuluh tahun terakhir. Jumlah tersebut anjlok 70 persen dari tahun 2015 dan turun 37 persen dibandingkan tahun 2024.

Dari seluruh perusahaan layanan tenaga kerja (outsourcing) India, hanya Tata Consultancy Services (TCS) satu-satunya yang masuh dalam lima besar pemberi kerja terbesar untuk pemegang visa H-1B di AS. Namun, persetujuan awal TCS juga merosot signifikan dari 1.452 pada 2024 menjadi 846 pada 2025. 

TCS melaporkan telah memperoleh 5.293 persetujuan untuk memperpanjang visa H-1B bagi tenaga kerja India yang sudah bekerja di AS, Meskipun demikian, penolakan perpanjangan kontrak untuk karyawan yang mereka tangani meningkat dari 4 persen menjadi 7 persen.

TCS menjadi penyalur tenaga kerja asing dengan tingkat penolakan visa H-1B terendah dibadingkan perusahaan outsourcing lain di India. Jumlah penolakan pengajuan oleh HCL America sebesar 6 persen, LTIMindtree sebesar 5 persen, dan Capgemini sebesar 4 persen.

Di sisi lain, sertifikasi tenaga kerja untuk kategori software engineer terus menurun selama empat tahun terakhir. Data menunjukkan penurunan dari 40.378 sertifikasi pada tahun 2022 menjadi 23.922 pada kuartal III-2025. 

Fenomena ini juga mengubah peta dominasi pemberi kerja H-1B. Untuk pertama kalinya, posisi teratas dalam persetujuan visa baru sepenuhnya diisi perusahaan besar meliputi Amazon, Meta, Microsoft, dan Google. 

Data-data tersebut semakin memperkuat tren melemahnya perekrutan tenaga kerja IT India di pasar tenaga kerja teknologi AS. Dominasi ini menandai pergeseran dari perusahaan outsourcing India menuju raksasa teknologi AS.