Kenapa Saat Bersin Mata Selalu Merem? Ternyata.....

Bersin
Bersin

Pernah nggak kamu bertanya-tanya kenapa setiap kali bersin, mata otomatis merem tanpa bisa dikontrol? Bahkan meski kita mencoba menahannya agar tetap terbuka, tubuh tetap mengambil alih dan menutup mata dengan cepat.

Sekilas terlihat seperti gerakan kecil yang tidak penting, tapi ternyata di balik refleks ini ada mekanisme perlindungan cerdas yang bekerja dalam hitungan milidetik.

Bersin sendiri adalah reaksi tubuh untuk mengusir iritan seperti debu, cahaya terang, perubahan suhu, atau alergen keluar dari hidung.

Tapi yang menarik, meskipun pusat rangsangannya berasal dari hidung, rangkaian respons tubuh yang terkait dengan bersin melibatkan banyak bagian lain, termasuk otot perut, diafragma, tenggorokan, dan tentu saja mata. Nah, di sinilah rahasianya.

Refleks Oculonasal: Sistem Otomatis yang Tidak Bisa Dicegah

Alasan utama mata menutup saat bersin adalah sebuah refleks yang disebut refleks oculonasal. Refleks ini melibatkan saraf trigeminal, saraf besar di kepala yang bertanggung jawab atas sensasi di wajah, termasuk hidung dan mata. 

Saat hidung mendeteksi sesuatu yang perlu diusir, sinyal dikirim ke pusat refleks di batang otak. Dari sana, otak memicu rangkaian perintah otomatis, termasuk mengaktifkan otot orbicularis oculi (otot kelopak mata), sehingga mata menutup.

Refleks ini terjadi tanpa bisa dikontrol secara sadar, sama seperti ketika dokter mengetuk lutut kita dan kaki otomatis menendang. Meski beberapa orang mengaku bisa bersin dengan mata terbuka, itu sangat jarang dan tidak mudah dilakukan. Tubuh lebih memilih mengutamakan perlindungan.

Profesor otolaringologi di Harvard Medical School, Dr. Neil Bhattacharyya, yang sering menjadi rujukan dalam penelitian seputar bersin dan sistem pernapasan atas. Dalam beberapa wawancara publiknya, Dr. Bhattacharyya menjelaskan bahwa kedipan saat bersin adalah cara tubuh mencegah tekanan dan partikel dari bersin masuk kembali atau mengiritasi mata.

Menurut Dr. Bhattacharyya, bersin menciptakan tekanan udara yang sangat kuat, yang bisa mencapai kecepatan lebih dari 150 km/jam. Tekanan ini dapat memaksa partikel yang terlontar untuk bergerak ke berbagai arah, termasuk ke area sekitar mata. 

Dengan menutup mata secara otomatis, tubuh memastikan bahwa tidak ada partikel asing, bakteri, atau aerosol dari bersin yang masuk ke permukaan mata yang sensitif.

Ia menyebut refleks ini sebagai mekanisme perlindungan bawaan yang dirancang untuk menjaga mata tetap aman dalam situasi yang tidak dapat diprediksi.

Penjelasan ini diperkuat oleh penelitian neurologi yang menunjukkan bahwa saraf trigeminal yang mengontrol bersin juga memiliki jalur yang terhubung dengan saraf yang mengatur kedipan. Jadi begitu sinyal bersin diaktifkan, refleks kedipan hampir selalu ikut terpicu.

Mencegah Kontaminasi: Bersin itu ‘Kotor’, dan Mata Harus Dilindungi

Saat bersin, ribuan droplet kecil keluar dari hidung dan mulut. Droplet ini bisa berisi bakteri, jamur, atau partikel iritan lain. Meskipun sebagian besar keluar menjauh dari tubuh, sebagian kecil bisa menyembur kembali ke area wajah.

Mata, dengan permukaan lembut dan selalu basah, sangat rentan terhadap kontaminasi. Jika mata tetap terbuka saat bersin, ada kemungkinan kecil namun tetap signifikan bahwa mikroorganisme dapat masuk ke konjungtiva dan menyebabkan iritasi atau infeksi.

Selain itu, tekanan internal yang meningkat saat bersin juga memberi dampak pada rongga wajah, termasuk area di sekitar mata. Dengan menutup mata, tubuh memastikan tidak ada tekanan yang secara tidak sengaja mendorong sesuatu masuk ke mata.

Lantas Bolehkah Bersin dengan Mata Terbuka? Sebenarnya, tidak ada bahaya besar jika seseorang mampu bersin dengan mata terbuka. Mitos bahwa mata akan keluar jika bersin dengan mata terbuka sudah lama dibantah oleh para ahli. Otot yang memegang bola mata jauh lebih kuat daripada tekanan dari bersin.

Namun, refleks menutup mata tetap dianggap mekanisme paling aman, sehingga tubuh secara alami memilih jalur itu. Artinya, kalau kamu mencoba menahan mata tetap terbuka, tubuh akan melawan. Dan jika pun berhasil, tidak ada manfaatnya dan justru membuat proses bersin terasa tidak nyaman.

Refleks yang Sama di Balik ‘Photic Sneeze Reflex’

Menariknya, sekitar 10–35% orang mengalami fenomena yang disebut photic sneeze reflex, yaitu bersin setelah melihat cahaya terang. Fenomena ini juga melibatkan jalur saraf trigeminal yang sama. 

Otak 'salah menangkap' sinyal cahaya sebagai iritan hidung dan memicu bersin, yang tentu saja disertai mata merem juga. Ini menunjukkan betapa kuat dan kompleksnya hubungan antara mata, hidung, dan otak dalam respons refleks tubuh.