Kenapa Petir Makin Sering Terjadi Saat Musim Hujan? Ini Penjelasannya

— Saat musim hujan tiba, langit sering kali berubah menjadi gelap, disertai kilatan cahaya yang menyilaukan dan suara menggelegar yang membuat banyak orang terkejut. Fenomena ini dikenal dengan petir atau sering disebut halilintar dan kilat.
Petir menjadi salah satu tanda khas datangnya musim penghujan di Indonesia. Namun, mengapa petir terasa lebih sering dan intens saat musim hujan?
Apa Itu Petir?
Dikutip dari buku Mengenal Cuaca Petir, petir merupakan fenomena alam berupa pelepasan muatan listrik di atmosfer, terutama di dalam awan hujan besar yang disebut Cumulonimbus.
Awan jenis ini dapat tumbuh hingga 12 kilometer di atmosfer dan mengandung muatan listrik yang sangat besar.
Ketika terjadi perbedaan muatan listrik antara awan dan permukaan bumi, akan muncul loncatan listrik yang menghasilkan cahaya terang sesaat.
Beberapa detik kemudian, muncul suara menggelegar yang disebut guruh atau guntur.
Perbedaan waktu antara munculnya kilat dan bunyi guntur disebabkan oleh kecepatan cahaya yang jauh lebih cepat dibanding kecepatan suara.
Cahaya bergerak sekitar 300.000 km per detik, sedangkan suara hanya sekitar 340 meter per detik.
Suhu Petir Lebih Panas dari Permukaan Matahari
Fenomena petir sebenarnya sangat ekstrem. Energi yang dilepaskan dapat memanaskan udara di sekitarnya hingga mencapai 18.000 derajat Fahrenheit, atau lebih panas dibanding suhu permukaan Matahari.
Panas ekstrem ini membuat udara di sekitar petir mengembang dengan cepat, menimbulkan gelombang kejut yang menghasilkan bunyi menggelegar yang kita dengar sebagai guntur.
Tak hanya menghasilkan suara keras, sambaran petir juga bisa sangat berbahaya.
Energinya yang luar biasa mampu menghancurkan bangunan, memusnahkan pohon, bahkan bisa menyebabkan kematian pada manusia yang tersambar langsung.
Proses Terjadinya Petir
Petir biasanya terjadi bersamaan dengan pembentukan awan badai (Cumulonimbus). Proses ini bermula dari udara panas dan lembap di permukaan bumi yang naik ke atmosfer karena perbedaan suhu (proses konveksi).
Saat naik ke lapisan udara yang lebih dingin, uap air di dalam udara itu akan mengembun menjadi titik-titik air kecil yang membentuk awan.
Dalam kondisi tertentu, terutama saat suhu turun hingga di bawah titik beku, titik-titik air ini berubah menjadi butiran es.
Butiran es tersebut saling bertumbukan di dalam awan dan menyebabkan perpindahan muatan listrik antara bagian atas dan bawah awan.
Bagian atas awan bermuatan positif, sementara bagian bawahnya bermuatan negatif.
Ketika perbedaan muatan ini mencapai batas tertentu, muatan listrik akan dilepaskan secara tiba-tiba menuju bumi atau awan lain, menghasilkan kilatan cahaya terang yang kita kenal sebagai petir.
“Seluruh awan badai pada dasarnya bekerja seperti pembangkit listrik raksasa yang mampu menghasilkan beda potensial hampir 100 juta volt,” dijelaskan dalam buku Mengenal Cuaca Petir.
Arus listrik dari pelepasan muatan tersebut dapat mencapai kecepatan sekitar 100.000 kilometer per detik, atau hampir sepertiga kecepatan cahaya.
Mengapa Petir Lebih Sering Terjadi Saat Musim Hujan?
Pada musim hujan, udara di permukaan bumi menjadi lebih lembap dan tidak stabil, sehingga proses konveksi berlangsung lebih kuat.
Udara hangat yang membawa uap air naik dengan cepat ke lapisan atmosfer yang lebih dingin, membentuk awan Cumulonimbus besar.
Semakin sering awan jenis ini terbentuk, semakin tinggi pula kemungkinan terjadinya petir.
Kondisi geografis Indonesia yang berada di daerah tropis dengan suhu tinggi dan kelembapan tinggi membuat aktivitas petir di Indonesia tergolong sangat intens dibanding negara lain.
Selain itu, pada sore hingga malam hari, perbedaan suhu antara permukaan tanah dan lapisan udara atas menjadi lebih besar, memicu peningkatan aktivitas konveksi. Hal inilah yang menyebabkan petir lebih sering terdengar di sore atau malam hari selama musim hujan.
Bahaya Petir dan Cara Menghindarinya
Petir bisa menimbulkan risiko besar jika seseorang berada di area terbuka atau di dekat objek tinggi seperti pohon dan tiang listrik.
Arah sambaran petir cenderung mengikuti jalur terpendek menuju permukaan bumi, sehingga benda tinggi menjadi sasaran utama.
Karena itu, saat terjadi hujan disertai petir, hindarilah berteduh di bawah pohon atau di area terbuka. Pilih tempat berlindung di dalam bangunan dengan struktur kokoh.
“Gedung-gedung tinggi biasanya dipasangi penangkal petir berupa batang tembaga untuk mengalirkan muatan listrik ke tanah, sehingga dapat mencegah kerusakan akibat sambaran langsung,” tulis buku Mengenal Cuaca Petir.
Fenomena petir yang makin sering terjadi saat musim hujan merupakan akibat alami dari meningkatnya aktivitas awan badai akibat udara lembap dan suhu yang tidak stabil.
Meskipun menakjubkan, petir juga menyimpan bahaya besar yang perlu diwaspadai.
Dengan memahami proses terjadinya petir, masyarakat diharapkan dapat lebih waspada dan bijak saat berada di luar ruangan ketika hujan deras turun.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.