Top 5+ Cara Menjelaskan Kabar Buruk kepada Anak agar Tidak Memicu Kecemasan

anak, 5 Cara Menjelaskan Kabar Buruk kepada Anak agar Tidak Memicu Kecemasan, 1. Bersikap jujur, tetapi gunakan bahasa sederhana, 2. Berikan penjelasan yang menenangkan secara realistis, 3. Batasi paparan berita dan media, 4. Validasi perasaan anak, 5. Fokus pada hal positif dan cara menghadapi situasi

Berita buruk seperti kepergian orang terdekat, bencana, atau konflik di dunia sering kali sulit dijelaskan kepada anak-anak.

Di satu sisi, orangtua ingin jujur kepada anak. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa informasi tersebut justru bisa membuat anak merasa takut atau cemas.

Psikolog klinis Daniela Owen, Ph.D., mengatakan bahwa anak sebenarnya sering menangkap informasi dari percakapan orang dewasa atau media di sekitarnya sehingga penting bagi orangtua untuk membantu anak memahami situasi dengan cara yang tepat.

“Anak-anak sering penasaran dan menangkap potongan informasi dari hal yang mereka dengar. Ketika mereka bertanya secara langsung, orangtua sering bingung tentang apa yang perlu disampaikan dan seberapa banyak,” tulis Owen, dikutip dari Psychology Today, Selasa (10/3/2026).

Menurutnya, ada beberapa cara yang dapat dilakukan orangtua untuk membicarakan kabar buruk kepada anak tanpa menimbulkan kecemasan berlebihan.

Cara Menjelaskan Kabar Buruk

1. Bersikap jujur, tetapi gunakan bahasa sederhana

Owen menekankan bahwa kejujuran tetap menjadi pendekatan terbaik saat menjelaskan situasi sulit kepada anak.

“Anak-anak berhak mendapatkan jawaban yang jujur,” tulisnya.

Namun, kejujuran tersebut perlu disampaikan dengan cara yang sesuai usia. Pada anak kecil, orangtua cukup menjelaskan fakta secara sederhana tanpa memberikan terlalu banyak detail.

Misalnya, orangtua dapat mengatakan bahwa seseorang telah meninggal dan tidak akan kembali, tanpa menggunakan istilah yang membingungkan.

Owen juga mengingatkan agar tidak menggambarkan kematian sebagai “tidur”, karena hal ini bisa membuat anak takut untuk tidur.

Pada anak yang lebih besar, orangtua dapat memberikan penjelasan singkat terlebih dahulu, kemudian membiarkan rasa ingin tahu anak memandu percakapan.

Dengan cara ini, orangtua dapat menjawab pertanyaan anak sesuai kebutuhan tanpa memberikan informasi yang berlebihan.

2. Berikan penjelasan yang menenangkan secara realistis

Saat mendengar kabar buruk, anak biasanya membutuhkan rasa aman dari orangtua.

Namun, Owen mengingatkan bahwa orangtua sebaiknya tidak memberikan jaminan yang tidak realistis, seperti mengatakan bahwa hal buruk tidak akan pernah terjadi.

Sebaliknya, orangtua dapat memberikan penjelasan yang menenangkan berdasarkan fakta.

Misalnya dengan menjelaskan langkah-langkah yang dilakukan keluarga untuk menjaga keamanan, seperti memasang detektor asap di rumah atau melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.

Cara ini membantu anak merasa lebih aman tanpa memberikan harapan yang tidak realistis.

3. Batasi paparan berita dan media

Paparan berita yang berulang juga dapat meningkatkan rasa takut pada anak.

Owen mencontohkan penelitian setelah peristiwa 11 September 2001 di Amerika Serikat yang menemukan bahwa anak-anak yang berulang kali melihat rekaman peristiwa tersebut mengalami tingkat stres yang lebih tinggi.

Maka dari itu, ia menyarankan agar anak, terutama yang masih kecil, tidak terlalu sering melihat tayangan berita, terutama yang menampilkan gambar atau video yang mengganggu.

Pada remaja, orangtua dapat mendampingi ketika mereka mengakses berita agar bisa berdiskusi tentang apa yang mereka lihat dan rasakan.

4. Validasi perasaan anak

Ketika anak menunjukkan emosi seperti sedih, takut, atau bingung, orangtua perlu membantu mereka memahami perasaan tersebut.

Menurut Owen, penting bagi orangtua untuk mendengarkan terlebih dahulu sebelum memberikan respons emosional.

Orangtua dapat mengatakan bahwa perasaan tersebut wajar dan menunjukkan bahwa mereka juga memahami perasaan anak.

Namun, ia mengingatkan agar orangtua tidak menunjukkan emosi yang terlalu kuat karena hal itu justru bisa membuat anak makin takut.

5. Fokus pada hal positif dan cara menghadapi situasi

Selain menjelaskan situasi sulit, orangtua juga dapat membantu anak melihat sisi positif atau langkah yang dapat dilakukan untuk menghadapi keadaan.

Misalnya dengan menjelaskan bahwa menggunakan helm saat bersepeda dapat melindungi kepala jika terjadi kecelakaan, atau bahwa ada banyak orang yang bekerja membantu masyarakat saat terjadi keadaan darurat.

Pendekatan ini membantu anak memahami bahwa meskipun hal buruk bisa terjadi, selalu ada cara untuk menghadapi dan mengatasinya.

Menurut Owen, berbicara secara terbuka dengan anak tentang situasi sulit dapat membantu mereka merasa lebih tenang.

Ia menambahkan bahwa keluarga dapat membangun ketahanan emosional ketika mereka menghadapi dan melewati masa sulit bersama.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang