Top 10.000+ Pekerjaan 'Lenyap' dalam 3 Bulan Terakhir, Sektor Ini Paling Terpukul

Ilustrasi industri manufaktur.
Ilustrasi industri manufaktur.

 Berbagai negara tengah menghadapi tantangan pada pasar kerja. Tak terkecuali Selandia Baru yang juga mengalami hal serupa, meskipun sektor pertanian masih menjadi titik terang ekonomi di negara tersebut. 

Data terbaru dari Stats NZ menunjukkan bahwa jumlah pekerjaan yang terisi turun sebanyak 10.000 dalam tiga bulan terakhir, dan saat ini terdapat 50.000 pekerjaan lebih sedikit dibandingkan Desember 2023. 

Penurunan ini menimbulkan kekhawatiran di berbagai sektor, terutama di wilayah provinsi yang sebelumnya dianggap lebih stabil. Fenomena ini menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi pasca-pandemi berjalan lebih lambat dari yang diperkirakan. 

Meski ada aliran kas yang baik ke sektor pertanian dan pedesaan, investasi dan pengeluaran masih belum optimal, sehingga efek positif belum terlihat pada lapangan kerja. Pakar ekonomi mengingatkan, bahwa pasar tenaga kerja sering kali menjadi indikator yang tertinggal dibanding aktivitas ekonomi yang sebenarnya.

Data Business Employment dari Stats NZ untuk kuartal Juni menunjukkan konstruksi kehilangan 2.315 pekerjaan atau turun 1,3 persen, akomodasi dan layanan makanan turun 1,2 persen atau 1.869 pekerjaan, dan jasa administratif serta dukungan turun 1,4 persen atau 1.337 pekerjaan. 

Ilustrasi e-commerce vs ritel.

Ilustrasi e-commerce vs ritel.

Sejak Desember 2023, konstruksi kehilangan 16.000 pekerjaan, manufaktur 8.700, dan ritel 6.000. Kota-kota besar juga terdampak, di mana Auckland kehilangan 4.828 pekerjaan, Wellington 1.342, Hawke's Bay 837, dan Waikato 709.

Namun, beberapa wilayah provinsi mengalami penurunan yang jauh lebih tajam. Distrik Kaipara kehilangan 10,44 persen pekerja dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya, Horowhenua 10,78 persen, Gore 9,5 persen, dan Upper Hutt 9,31 persen. Sebaliknya, Hamilton naik 2 persen, Queenstown 4,59 persen, dan Porirua 4,56 persen.

"Kehilangan pekerjaan di pusat provinsi yang lebih kecil mengejutkan karena data lain menunjukkan ekonomi pedesaan sebenarnya sedang kuat berkat harga komoditas yang tinggi," kata Shamubeel Eaqub, kepala ekonom di Simplicity, seperti dikutip dari RNZ, Kamis, 11 September 2025.

Contohnya, kata dia, Ashburton, yang memiliki sektor susu yang kuat tetapi tetap kehilangan 6,7 persen pekerjaan terisi secara tahunan.

"Saya pikir sentimen umum di daerah pedesaan dan sektor pertanian masih berhati-hati, meski ada aliran kas yang baik. Dana tersebut belum tentu diinvestasikan atau dibelanjakan. Hal ini mungkin akan terlihat dalam 12 bulan ke depan, dengan pasar tenaga kerja sebagai indikator yang tertinggal terkait aktivitas ekonomi," ungkap Mike Jones, kepala ekonom BNZ.

Lebih lanjut, CEO Infometrics Brad Olsen menyoroti bahwa penurunan pekerjaan ini sebagian besar bersifat musiman, dengan sekitar 11.000 pekerjaan hilang dalam kuartal tersebut. "Penurunan pekerjaan konstruksi tercermin dari menurunnya aktivitas di sektor lain. Penjualan konstruksi turun US$720 juta atau setara Rp11,8 triliun. Penurunan ini berdampak pada industri manufaktur utama lainnya, seperti produk mineral non-logam turun 4,9 persen, produk logam turun 5,1 persen, dan produk kayu serta kertas turun 3,2 persen."

"Beberapa industri lain seperti akomodasi, layanan makanan, dan jasa administratif juga mengalami penurunan karena kondisi bisnis masih menantang dan tidak banyak perusahaan yang melakukan perekrutan atau dukungan tambahan," tambah Olsen.

Meski kuartal Juni menandai kemunduran, ada indikasi bahwa sektor lain mungkin akan mulai pulih. "Kuartal September menunjukkan sedikit rebound dari level yang lebih rendah sebelumnya," katanya.

"Perkiraan tetap menunjukkan kelemahan pasar tenaga kerja, dengan perkiraan pertumbuhan PDB kuartal kedua turun 0,5 persen. Sampai ekonomi menemukan pijakannya, sulit untuk yakin kapan pasar tenaga kerja akan mulai pulih," ungkap Shamubeel Eaqub.