'Return to Office' Jadi Tren Kerja 2026, Mengapa Banyak Perusahaan Wajibkan Karyawan Balik ke Kantor?

Ilustrasi kantor kosong.
Ilustrasi kantor kosong.

 Setelah bertahun-tahun bekerja dari rumah, dunia kerja kini bergerak ke fase baru. Banyak perusahaan saat ini kembali mewajibkan karyawan masuk kantor, atau istilahnya return to office (RTO). 

Perubahan besar ini memunculkan campuran antara antusiasme, kecemasan, hingga penolakan. Banyak organisasi percaya bahwa kerja tatap muka kembali menawarkan nilai tambah, sementara sebagian karyawan menganggap ini kemunduran dari fleksibilitas yang sudah terbangun sejak pandemi.

Lantas, apa sebenarnya alasan perusahaan memaksakan RTO, dan apa konsekuensinya bagi masa depan dunia kerja? Berikut informasi lengkapnya, sebagaimana dilansir dari Tech Target, Rabu, 19 November 2025.

Mengapa Banyak Perusahaan Meminta Karyawan RTO?

Ilustrasi sedang bekerja.

Beberapa perusahaan besar telah menerapkan kebijakan RTO secara agresif. Amazon memulai aturan wajib 5 hari kerja di kantor sejak 2 Januari 2025. Washington Post akan mengikuti pola serupa pada pertengahan tahun. 

JP Morgan Chase, Boeing, Salesforce, hingga Informa TechTarget juga mengambil langkah serupa dengan kebijakan “Time Together” 3 hari masuk kantor mulai 1 Juli 2025.

Sebelum pandemi, bekerja dari rumah masih jauh dari umum. Banyak perusahaan terpaksa mengadopsi sistem WFH secara mendadak pada 2020 tanpa persiapan matang. Namun seiring waktu, tim belajar beradaptasi dan produktivitas meningkat. 

Survei Future of Work dari Omdia menunjukkan 52,2 persen responden mengatakan fleksibilitas meningkatkan produktivitas, sementara hanya 15,1 persen merasa produktivitas menurun.

Menurut analis Omdia, Adam Holtby, perubahan ini berasal dari persepsi yang belum hilang. “Masih ada pandangan bahwa produktivitas kerja terkait lokasi. Bahkan bagi bisnis yang sukses dengan kerja jarak jauh, manajer merasa tingkat akuntabilitas dan pengawasan berbeda saat berada di kantor,” ungkapnya. 

Selain itu, banyak pimpinan HR menilai budaya dan koneksi sosial antarkaryawan lebih sulit dibangun secara virtual. “Meskipun kerja jarak jauh terbukti produktif, ada ketakutan kehilangan koneksi, budaya, dan kohesi tim. Ketika karyawan tidak merasa memiliki rasa kebersamaan dan inklusi, retensi, kreativitas, dan performa mereka menurun,” jelas Jackie Dube, Chief People Officer di The Predictive Index. 

Dampak dan Potensi Hasil dari RTO

Para ahli memprediksi beberapa dampak besar dari gelombang kebijakan ini. Berikut di antaranya:

1. Kolaborasi Lebih Baik

Salah satu alasan utama RTO adalah kesempatan bertemu langsung. Brenda Quach dari HR Transformed mengatakan, ada banyak momen ketika sesi brainstorming spontan meninggalkan dampak besar bagi karyawan baru yang merasakan budaya perusahaan secara langsung. "Ini sulit terjadi di ruang kerja sepenuhnya virtual,” paparnya. 

Monique Levy dari Levy Consulting Co. menambahkan, kantor bukan hanya ruangan penuh meja, tetapi itu titik awal percakapan spontan yang memicu ide. Namun Holtby mengingatkan, bahwa kolaborasi, di mana pun lokasinya, tetap membutuhkan tujuan untuk berhasil.

2. Turnover yang Meningkat

Banyak pakar HR melihat risiko tingginya karyawan resign akibat RTO. Tony Jamous, CEO Oyster, mengatakan, mengabaikan preferensi karyawan terhadap fleksibilitas membuat mereka merasa kesejahteraan tidak menjadi prioritas, dan ini mendorong talenta terbaik mencari peluang lain.

“Perusahaan dengan banyak pekerja remote atau hybrid akan mengalami banyak turnover jika memaksakan RTO tanpa dukungan kuat,” ungkap Hayden Cohen, CEO Hire With Near. 

3. Mentorship Lebih Kuat untuk Karyawan Baru

Karyawan baru atau junior dianggap lebih diuntungkan. Sebab, lebih baik bagi karyawan muda dan kurang berpengalaman menghabiskan waktu di kantor bersama mentor agar mereka lebih efektif belajar. Selain itu, dengan RTO, koneksi mentor-junior juga akan lebih mudah terbangun secara langsung.

4. Kerja Hybrid Akan Jadi Masa Depan

Mayoritas profesional yang diwawancarai sepakat bahwa masa depan bukan sepenuhnya kantor atau sepenuhnya remote, melainkan hybrid. 

“Masa depan kerja akan hybrid. Perusahaan yang merangkul gaya kerja campuran akan menarik dan mempertahankan talenta terbaik,” kata Holtby.