Tren Kerja Ekstrem 996 Menjalar di Industri AI, Karyawan Terancam Burnout

Ilustrasi kantor kosong.
Ilustrasi kantor kosong.

Persaingan sengit di industri kecerdasan buatan (AI) disebut-sebut memicu perubahan budaya kerja secara global, termasuk di Silicon Valley. Sejumlah perusahaan teknologi kini mulai mengadopsi pola kerja ekstrem yang dikenal sebagai “996”, yakni bekerja enam hari seminggu dari pukul 09.00 hingga 21.00. 

Dua peneliti AI menilai, tren ini berisiko memicu kelelahan berat (burnout) di kalangan pekerja. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebagaimana diketahui, budaya kerja 996 selama ini identik dengan perusahaan teknologi di China. Namun, menurut sejumlah pengamat, pola tersebut kini mulai terlihat di kawasan San Francisco, pusat industri teknologi Amerika Serikat. 

Meski Silicon Valley sejak lama dikenal memiliki etos kerja tinggi, sebagian perusahaan kini disebut menerapkan jadwal yang lebih kaku dan panjang. Nathan Lambert, ilmuwan riset senior di Allen Institute for AI, dan Sebastian Raschka, pendiri laboratorium riset AI, membahas fenomena ini. 

Raschka mengatakan, apa yang ia lihat memang tidak sepenuhnya sama seperti di China, tetapi arahnya mulai mendekati. Fenomena ini tak lepas dari lanskap industri teknologi saat ini yang diwarnai persaingan model-model AI yang saling menyalip demi mempertahankan posisi terdepan. 

Bagi perusahaan rintisan (startup), tekanan untuk meraup untung besar dapat berujung pada jam kerja yang sangat panjang bagi karyawan. “Sangat sulit karena Anda harus terus-menerus menghasilkan sesuatu,” kata Raschka, sebagaimana dikutip dari Business Insider, Kamis, 12 Februari 2026.

Menurutnya, kombinasi antara passion dan kompetisi mendorong mentalitas kerja tanpa henti di Silicon Valley. Ia mengaku pernah merasakan budaya tersebut saat bekerja sebagai akademisi di bidang AI. Meski tidak dipaksa lembur, ia memilih untuk bekerja berlebihan karena dorongan internal.

Lambert menambahkan, pola pikir seperti ini tampak di sejumlah perusahaan AI paling dikenal di San Francisco. “Seperti itulah OpenAI dan Anthropic,” ujarnya. 

Ia mengatakan, karyawan berkomitmen pada budaya kerja bertekanan tinggi karena memang ingin terlibat dalam pekerjaan tersebut, terutama para programmer. Meski demikian, Lambert mengingatkan bahwa lingkungan kerja seperti itu bisa datang dengan “biaya kemanusiaan”, termasuk berkurangnya waktu bersama keluarga, pola pikir yang semakin tertutup terhadap dunia luar, hingga gangguan kesehatan.

“Anda hanya bisa melakukan ini untuk jangka waktu tertentu, dan orang-orang jelas mengalami kelelahan berat,” katanya.

Raschka juga mengakui dampak fisik dari pola kerja intens tersebut. Ia mengalami nyeri punggung dan leher akibat sering melewatkan waktu istirahat yang seharusnya diambil.

Fenomena ini dinilai menjadi realitas yang harus dihadapi programmer muda yang ingin menorehkan prestasi di industri AI. Silicon Valley masih dianggap sebagai pusat inovasi dan tempat paling strategis untuk berkontribusi besar dalam pengembangan teknologi ini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Jika Anda benar-benar bersemangat ingin memberi dampak di AI, berada secara fisik di San Francisco adalah tempat paling mungkin untuk melakukannya,” kata Lambert. “Tetapi ada konsekuensinya.”

Tren budaya kerja 996 ini memperlihatkan sisi lain dari ledakan industri AI. Di satu sisi, kemajuan teknologi melahirkan inovasi cepat dan peluang besar. Namun di sisi lain, tekanan kompetisi global membuat sebagian pekerja harus membayar harga mahal berupa kesehatan dan keseimbangan hidup.