Tren Baru, Lulusan Kampus Elite China Ramai-ramai Pilih Kerja di Pabrik

Tren Baru, Lulusan Kampus Elite China Ramai-ramai Pilih Kerja di Pabrik

Ada pergeseran tren karier yang masif dan mengejutkan di daratan China.

Jika dulu para mahasiswa berlomba-lomba mengejar kursi empuk di perusahaan teknologi  atau sektor finansial, kini mereka justru ramai-ramai mengincar pekerjaan di lantai pabrik.

Lulusan dari universitas-universitas paling bergengsi di China kini mengalihkan pandangan mereka ke sektor manufaktur dan energi. Perubahan haluan ini bukan tanpa alasan, melainkan karena wujud "pabrik" di China kini telah berevolusi total.

Dihimpun KompasTekno dari Business Insider, tren ini terekam jelas dalam data terbaru yang dirilis oleh Tsinghua University, salah satu kampus paling bergengsi di China.

Laporan resmi dari Tsinghua University mencatat bahwa jumlah lulusan mereka yang terjun ke sektor manufaktur dan energi melonjak tajam sebesar 19,1 persen secara year-over-year (dari tahun ke tahun).

Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa talenta terbaik China, yang dulunya menjadi incaran raksasa internet dan bank investasi, kini lebih memilih merakit komponen fisik ketimbang hanya coding di balik meja.

Bukan lagi pekerjaan kasar

Lantas, mengapa otak-otak cemerlang ini mau turun ke pabrik? Para pakar yang diwawancarai oleh Business Insider menegaskan bahwa sifat dan definisi dari "pekerjaan manufaktur" di China telah berubah drastis seiring dengan strategi negara tersebut meningkatkan basis industrinya.

Pekerjaan pabrik di China hari ini bukan lagi tentang merakit mainan plastik murah atau menjahit pakaian dengan upah minimum. Sektor manufaktur yang dituju oleh para lulusan elite ini adalah pabrikan berteknologi tinggi.

Mereka masuk ke fasilitas produksi untuk mengembangkan kendaraan listrik (EV), semikonduktor canggih, kecerdasan buatan (AI), robotika pintar, hingga infrastruktur energi hijau.

Lantai pabrik kini telah menjelma menjadi laboratorium inovasi kelas dunia yang menawarkan gaji sangat kompetitif.

Pergeseran minat dari software ke hardware ini sangat sejalan dengan ambisi jangka panjang Beijing.

Di tengah ketegangan geopolitik global dan perang chip, China menyadari bahwa kemandirian teknologi manufaktur adalah kunci untuk bertahan dan mendominasi pasar dunia.

Dengan suntikan talenta segar dari kampus sekaliber Tsinghua, sektor pabrikan China diprediksi akan semakin berlari kencang meninggalkan para kompetitornya di negara-negara Barat yang tengah berjuang mengatasi krisis kekurangan tenaga kerja terampil di sektor manufaktur.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang