Deretan Motor yang Aman Diisi Pertalite, Cocok saat Harga Pertamax Melonjak

Motor bekas
Motor bekas

 Kenaikan harga Pertamax membuat banyak pemilik sepeda motor mulai mencari cara untuk menekan pengeluaran harian. Salah satu opsi yang paling sering dipertimbangkan adalah beralih ke Pertalite yang harganya jauh lebih murah.

Namun tidak semua motor cocok menggunakan bahan bakar dengan angka oktan atau Research Octane Number (RON) 90 tersebut. Penggunaan BBM harus disesuaikan dengan rasio kompresi mesin agar proses pembakaran berlangsung optimal.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Secara umum, motor dengan rasio kompresi hingga sekitar 10:1 masih dapat menggunakan Pertalite tanpa menimbulkan masalah berarti. Karena itu, sejumlah motor yang banyak beredar di jalanan Indonesia masih tergolong aman menggunakan BBM tersebut.

Berdasarkan penelusuran VIVA Otomotif Kamis 11 Juni 2026, beberapa model yang masih ramah Pertalite dari kubu Honda antara lain BeAT, Genio, Scoopy, Vario 125, Revo, serta Supra X 125. Motor-motor tersebut menjadi pilihan jutaan masyarakat Indonesia untuk aktivitas harian dan mayoritas masih menggunakan spesifikasi mesin yang sesuai dengan karakteristik Pertalite.

Yamaha juga memiliki beberapa model yang masih bisa mengandalkan BBM RON 90, seperti Mio M3, Gear 125, FreeGo 125, X-Ride 125, Fino 125, Vega Force, hingga Jupiter Z1.

Sementara itu dari Suzuki terdapat Nex II, Address, dan Smash FI yang juga masih masuk kategori aman menggunakan Pertalite untuk penggunaan sehari-hari.

Meski demikian, pemilik kendaraan tetap perlu memperhatikan rekomendasi bahan bakar yang tercantum dalam buku manual. Sebab beberapa motor generasi terbaru sudah menggunakan rasio kompresi yang lebih tinggi demi meningkatkan efisiensi dan performa mesin.

Contohnya Honda Vario 160, PCX 160, ADV 160, Yamaha NMAX, Aerox 155, Lexi LX 155, hingga Suzuki GSX-R150. Model-model tersebut lebih ideal menggunakan BBM dengan RON 92 atau setara Pertamax.

Jika motor yang membutuhkan RON tinggi dipaksa menggunakan Pertalite secara terus-menerus, risiko yang muncul bukan hanya penurunan performa. Mesin berpotensi mengalami knocking atau gejala ngelitik akibat pembakaran yang tidak sesuai.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat mempercepat terbentuknya kerak karbon di ruang bakar, membuat busi lebih cepat kotor, hingga meningkatkan kebutuhan perawatan pada sistem injeksi dan pembakaran.

Karena itu, sebelum memutuskan beralih ke Pertalite demi menghemat biaya operasional, pemilik kendaraan sebaiknya memastikan terlebih dahulu spesifikasi mesin motornya.