Minim Investasi Bisa Bikin Negara Krisis? Begini Penjelasan Ahli

Ilustrasi Krisis
Ilustrasi Krisis

 Investasi menjadi urat nadi bagi pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Tanpa arus modal yang kuat, banyak sektor strategis berisiko kehilangan daya saing dan produktivitasnya yang pada akhirnya menyebabkan krisis karena ekonomi negara terhambat.

Krisis bisa terjadi oleh negara mana saja. Indonesia diperkirakan akan hadapi defisit pasokan gas pada tahun 2033 jika investasi di sektor migas tidak segera ditingkatkan. 

Hal ini diungkapkan oleh Vice Chairman Asia Pacific Wood Mackenzie, Joshua Ngu. Namun, Ngu mengatakan kondisi yang dialami Indonesia belum termasuk sebagai krisis selama pemerintah dan pelaku industri mampu mempercepat proyek-proyek energi yang tengah dikembangkan.

“Saya rasa kata krisis terlalu keras. Masih ada waktu cukup panjang hingga 2033. Namun jika investasi baru tidak dilakukan, produksi yang ada akan menurun dan Indonesia bisa menghadapi defisit gas," ujar Ngu dalam wawancara via Zoom setelah konferensi energi internasional ADIPEC 2025 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, dikutip dari keterangan tertulis pada Senin, 10 November 2025. 

Menurut data Wood Mackenzie Indonesia memiliki lebih dari 35 triliun kaki kubik cadangan gas yang belum tergarap. Namun, sejumlah tantangan masih menghambat optimalisasi potensi tersebut. 

Ngu menambahkan, penurunan investasi menjadi faktor paling krusial yang dapat menekan produksi gas nasional. Tanpa tambahan modal dan proyek baru, lapangan gas eksisting akan terus menurun secara alami.

“Jika investasi baru tidak dilakukan, produksi akan menurun dan akhirnya menciptakan defisit,” kata Ngu.

Faktor-faktor yang Menghambat Investasi

Selain itu minimnya investasi, Ngu membeberkan beberapa faktor utama yang bisa memicu defisit pasokan gas dalam satu dekade ke depan.

1. Tantangan Fiskal dan Regulasi yang Belum Fleksibel

Meski Indonesia telah melakukan sejumlah reformasi fiskal, faktor fleksibilitas kebijakan masih menjadi pekerjaan rumah besar. Skema fiskal yang terlalu kaku membuat beberapa proyek berisiko tidak ekonomis bagi investor.

“Dibutuhkan fleksibilitas tambahan agar setiap jenis aset dan proyek mendapat skema fiskal yang sesuai,” jelas Ngu.

Selain itu, proses perizinan yang lambat turut menghambat momentum pengembangan proyek migas baru.

2. Ketidakpastian Arah Kebijakan Ekspor dan Produksi Domestik

Ngu menyoroti pentingnya kejelasan arah kebijakan ekspor gas. Ketidakpastian mengenai izin ekspor atau prioritas domestik bisa membuat investor ragu untuk menanamkan modal jangka panjang.

“Bukan hanya reformasi kebijakan, tapi kejelasan arah jangka panjang yang dibutuhkan investor,” katanya.

Menurutnya, keseimbangan antara kebutuhan dalam negeri dan komitmen ekspor bisa dicapai bila produksi nasional meningkat secara signifikan.

“Ini bukan soal memilih antara pasar domestik atau ekspor. Keduanya bisa berjalan paralel jika produksi ditingkatkan,” tambahnya.

Cara Menggaet Investor

Ngu menekankan bahwa konsistensi kebijakan dan kepastian hukum menjadi kunci untuk menjaga daya tarik Indonesia di mata investor global. Selain itu, teknologi carbon capture, utilization, and storage (CCUS) bisa menjadi solusi strategis untuk membuka potensi lapangan gas dengan kadar CO₂ tinggi sekaligus menekan emisi.

“Modal global sangat cair. Ia bisa masuk ke Indonesia, tapi juga mudah berpindah ke negara lain. Daya saing, stabilitas, dan kepastian hukum akan menentukan arah investasi jangka panjang,” ujarnya.

Dalam konteks transisi energi, Ngu menegaskan bahwa gas tetap memegang peran penting sebagai sumber energi pendamping energi terbarukan, terutama saat pasokan dari tenaga surya dan angin berfluktuasi.

Dengan kebijakan yang konsisten dan eksekusi proyek yang cepat, Indonesia diyakini masih punya cukup waktu untuk mencegah potensi defisit gas dan menghindari risiko krisis energi di masa depan.