Air Hujan di Semarang Ternyata Mengandung Mikroplastik, Ini Bahayanya bagi Kesehatan
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mengatakan, masalah mikroplastik sudah mencapai fase yang membutuhkan penanganan secara menyeluruh.
Hal tersebut dikatakan Agustina menyusul hasil observasi ECOTON Foundation atau Ecological Observation and Wetland Observation bahwa air hujan di Semarang ternyata mengandung mikroplastik.
Temuan mikroplastik diperoleh setelah ECOTON melakukan pengamatan hujan udara di atas Jalan MT Haryono pada Selasa (25/11/2025).
Sampel yang diuji mengandung mikroplastik sekitar 44 partikel yang terdiri dari 32 jenis fiber dan 11 jenis filamen.
“Mikroplastik adalah ancaman nyata. Oleh karena itu, seluruh instrumen kebijakan harus bergerak bersama untuk menjaga kualitas lingkungan hidup di Kota Semarang,” jelas Agustina dikutip dari , Jumat (5/12/2025).
Apakah Mikroplastik Bisa Masuk ke Tubuh Manusia?
Dosen Departemen Kesehatan Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Annisa Utami Rauf, mengatakan bahwa tingkat ancaman mikroplastik terhadap kesehatan manusia sangat besar.
Berdasarkan studi yang dilakukan pada hewan, mikroplastik sudah ditemukan di beberapa organ dan berisiko menyebabkan gangguan reproduksi.
Annisa menjelaskan, tingkat paparan mikroplastik menjadi lebih tinggi apabila seseorang berada di wilayah perkotaan yang padat penduduk.
Sebabnya, kehidupan sehari-hari masyarakat masih bergantung pada plastik sekali pakai.
Bahan tersebut, lanjut Annisa, memberikan kontribusi besar terhadap akumulasi partikel plastik di udara dan lingkungan.
“Risikonya memang tinggi di kota besar seperti Jakarta dan Yogyakarta. Namun, upaya mengganti plastik dengan bahan ramah lingkungan sudah mulai terlihat di beberapa tempat, dan hal ini perlu terus didukung,” jelas Annisa dikutip dari laman resmi UGM, Jumat (24/10/2025).
Ia menerangkan, beberapa studi internasional sudah menunjukkan keberadaan mikroplastik dalam darah dan organ manusia, termasuk sistem pencernaan.
Hal tersebut memperkuat dugaan bahwa partikel plastik bisa masuk dan menetap di tubuh dalam jangka waktu lama.
Kendati demikian, Annisa menekankan bahwa bukti ilmiah mengenai dampak spesifik terhadap kesehatan manusia masih dalam pengembangan.
“Beberapa penelitian memang menunjukkan adanya akumulasi dalam tubuh manusia, tetapi efek pastinya belum jelas karena penelitian masih berlangsung,” ujarnya.
Menurut Annisa, perbedaan respons tubuh terhadap paparan mikroplastik membuat penelitian di bidang ini semakin kompleks.
Setiap orang ternyata mempunyai kemampuan yang berbeda untuk melepaskan atau menahan partikel mikroplastik yang masuk ke tubuh.
Oleh sebab itu, Annisa menilai, langkah pencegahan menjadi hal yang paling masuk akal dilakukan saat ini.
“Kita belum tahu pasti seperti apa efeknya, tapi yang jelas upaya preventif harus dijalankan sedini mungkin,” kata Annisa.
Apa Bahaya Hujan Mengandung Mikroplastik bagi Kesehatan?
Sementara itu, dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Nafiah Chusniyati, mengatakan bahwa mikroplastik berbahaya bagi organ dan kesehatan kulit.
“Mikroplastik di udara akan mengikuti siklus air, sehingga saat hujan turun, partikel ini bisa mengenai kulit kita,” kata Nafiah dikutip dari laman resmi UMY, Sabtu (8/11/2025).
“Mikroplastik dapat bersifatsebagai iritan atau alergen, terutama bagi orang yang sensitif atau pernah terpapar sebelumnya,” tambahnya.
Menurut Nafiah, mikroplastik yang tersebar di udara sebenarnya mengikuti siklus air sehingga partikel bisa mengenai kulit ketika hujan turun.
Paparan mikroplastik perlu diwaspadai karena artikel ini bersifat sebagai iritan atau alergen, terutama untuk orang yang sensitif atau pernah terpapar.
Paparan tersebut dapat menimbulkan reaksi peradangan pada kulit, seperti gatal, kemerahan, hingga lenting berair yang muncul beberapa hari setelah terpapar.
“Karena mikroplastik bisa bertindak sebagai iritan dan alergen, penyakit yang muncul dapat berupa dermatitis, baik dermatitis atopik maupun numularis," jelas Nafiah.
“Ketika mantel kulit terganggu, bakteri juga lebih mudah masuk sehingga dapat timbul infeksi seperti impetigo atau folikulitis,” sambungnya.
Nafiah menambahkan, paparan mikroplastik juga bisa menyebabkan kerusakan jangka panjang pada struktur kulit, khususnya pada kolagen, protein penting yang menjaga kekenyalan dan elastisitas kulit.
Kondisi tersebut membuat kulit menjadi kering, tingkat elastisitas menurun, dan muncul tanda-tanda penuaan, seperti kerutan muncul lebih cepat.
Paparan mikroplastik dengan konsentrasi tinggi dan terus-menerus juga bisa mencapai DNA sel kulit.
Hal itu sebaiknya tidak diabaikan karena paparan dalam jangka panjang berpotensi memicu perubahan seluler yang berujung pada kanker kulit.
“Langkah paling dasar adalah memastikan fungsi barier kulit tetap baik dengan menggunakan pembersih yang lembut (gentle cleanser). Hindari sabun dengan kandungan alkohol tinggi atau antiseptik berlebihan karena dapat mengikis lemak pelindung kulit,” ujar Nafiah.
“Hindari juga produk skincare yang mengandung mikroplastik, seperti scrub dengan partikel sintetis. Gunakan bahan alami sebagai alternatif, misalnya kopi atau garam,” pungkasnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang