Cairan Hitam di Nganjuk Diduga Sumber Minyak Tua dari Zaman Belanda

minyak mentah, Nganjuk, cairan minyak di nganjuk, Cairan Hitam di Nganjuk Diduga Sumber Minyak Tua dari Zaman Belanda

Fenomena munculnya cairan berwarna kehitaman dari tanah di kawasan hutan Desa Pule, Kecamatan Jatikalen, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, terus menyita perhatian warga. Cairan yang diduga minyak mentah itu disebut sudah ada sejak masa kolonial Belanda.

Fenomena ini pertama kali viral setelah diunggah oleh Aries Trio Effendi, pegiat dari Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk (KOTASEJUK), melalui media sosial Facebook pada Selasa (7/10/2025). Aries memastikan lokasi keluarnya cairan berada di tengah hutan jati Desa Pule.

Menurutnya, rembesan minyak di lokasi tersebut bukan hal baru. “Sebelumnya (memang) sudah ada, era kolonial sudah ada,” kata Aries kepada Kompas.com, Jumat (24/10/2025).

Aries menjelaskan, ada dua titik rembesan berjarak sekitar 20–30 meter satu sama lain. Cairan yang keluar berwarna cokelat kemerahan hingga kehitaman dan berbau tajam seperti minyak. Ia bahkan sempat melakukan uji sederhana di lokasi dan menemukan bahwa cairan itu mudah terbakar.

“Itu cairannya panas, menyengat, baunya menyengat minyak. Terus kalau ranting atau kayu dimasukkan situ, dibakar ya kebakar langsung,” ujarnya.

Rumput di sekitar titik rembesan juga terlihat mati, diduga karena panas dari cairan tersebut. “Ya, (rumputnya) mati. Sebabnya kan panas,” tambahnya.

Sudah Ada Sejak Masa Penjajahan Belanda

Kepala Desa Pule, Luluk Mahfudhotin Zakaria, membenarkan bahwa sumber minyak di wilayahnya sudah dikenal sejak masa penjajahan Belanda.

“Sumber minyak ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda,” kata Luluk, Minggu (26/10/2025).

Menurut Luluk, pada masa kolonial, sumber minyak ini sempat dimanfaatkan sebagai pelumas untuk kendaraan pengangkut barang atau lori (kereta tebu). “Sumber itu dipergunakan oleh penjajah Belanda itu sebagai pengoles roda angkutan yang namanya lori,” ungkapnya.

Luluk menambahkan, di Desa Pule terdapat dua sumber minyak yang berjarak sekitar 10 meter. Keduanya berada di kawasan hutan KPH Jombang petak 79, wilayah RPH dan BKPH Munung Jatikalen.

Meski begitu, hingga kini belum ada penelitian resmi untuk memastikan kandungan cairan tersebut. “Belum ada penelitian mendalam terkait kandungannya,” ujarnya.

Pemkab Nganjuk Diminta Tindak Lanjut

Penemuan sumber cairan ini juga mendapat perhatian dari pemerintah kecamatan setempat. Peninjauan lokasi dilakukan oleh Plt Camat Jatikalen, Wardoyo, bersama unsur TNI, Polri, dan Kepala Desa Pule.

“Setelah ini kami akan laporkan kepada pak bupati agar ada tindak lanjut,” kata Wardoyo.

Ia berharap, temuan ini bisa segera diteliti oleh instansi terkait agar potensi sumber daya alam tersebut dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan warga.

“Harapannya setelah penemuan ini ada tindak lanjut dari pihak terkait,” ujarnya.

Wardoyo menjelaskan, sejauh ini volume semburan cairan masih tergolong kecil. Namun, ia menilai potensi sumber minyak itu tetap perlu diperhatikan. “Dengan harapan tentunya ada instansi terkait untuk bisa mengecek maupun meneliti sumber ini. Volume semburan kecil,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Nganjuk, Sujito, mengaku belum menerima laporan resmi terkait fenomena ini. “Secara resmi tidak ada laporan yang dikirimkan kepada kami,” kata Sujito kepada Kompas.com, Jumat (24/10/2025).

Apakah Anda ingin saya tambahkan subjudul tambahan seperti “Viral di Medsos” atau “Uji Bakar oleh Warga” agar tampilan beritanya lebih menarik untuk pembaca daring?

Artikel ini tayang di Surya.co.id dengan judul 2 Sumber Minyak Di Jatikalen Nganjuk Peninggalan Kolonial, Bisa Angkat Kesejahteraan Masyarakat

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.