Gaji Tukang Kini Bisa Kalahkan Karyawan Kantoran, Ada yang Tembus Rp1,8 Miliar!
Pandangan bahwa gelar kuliah menjadi jalan utama menuju karier mapan mulai berubah. Di tengah perkembangan teknologi dan boomingnya kecerdasan buatan alias AI, banyak pekerjaan teknis justru mengalami lonjakan permintaan dan kenaikan gaji signifikan.
Profesi seperti mekanik, teknisi robotik, hingga teknisi pendingin ruangan kini semakin diburu perusahaan. Bahkan, di sejumlah negara maju, penghasilan pekerja skilled trade atau tenaga kerja terampil mulai menyaingi pegawai kantoran.
Fenomena ini diungkap perusahaan rekrutmen global Randstad melalui data terbarunya mengenai tren pasar tenaga kerja. CEO Randstad, Sander van’t Noordende, menilai pola karier konvensional mulai bergeser.
“Saya akan mengatakan bahwa masa-masa kuliah lalu bekerja di kantor demi mendapatkan karier yang menguntungkan sudah berakhir,” kata Noordende, sebagaimana dikutip dari CNBC, Jum'at, 22 Mei 2026.
“Anda harus lebih cerdas dari itu. Saya pikir teknologi, segala jenis teknologi, masih menjadi jalur karier yang bagus,” sambungnya.
Ia mengatakan, pekerjaan berbasis keterampilan teknis kini berkembang jauh lebih cepat dibanding beberapa pekerjaan administratif tradisional. “Pekerjaan skilled trade berkembang sangat pesat. Saya akan mengatakan Anda bisa memiliki karier bagus dan menghasilkan uang yang baik di bidang tersebut. Itu jelas merupakan jalur karier,” lanjutnya.
Data Randstad menunjukkan rata-rata gaji pekerja skilled trade di Amerika Serikat naik hingga 30 persen sejak 2022. Kenaikan juga terjadi di Belanda sebesar 21 persen, Jerman 18 persen, dan Inggris 9 persen.
Di Belanda, mekanik kini bisa memperoleh rata-rata US$79 ribu atau sekitar Rp1,38 miliar per tahun. Sementara di Jerman, pendapatan mekanik mencapai US$76.600 atau setara Rp1,34 miliar per tahun.
Tak hanya itu, pekerja di sektor konstruksi dan perumahan di Inggris juga mencatat rata-rata penghasilan lebih dari US$78.500 atau sekitar Rp1,37 miliar per tahun.
Meningkatnya kebutuhan pekerja teknis salah satunya dipicu pembangunan pusat data atau data center yang menopang industri AI global. Fasilitas ini membutuhkan banyak tenaga kerja fisik mulai dari teknisi listrik, pendingin ruangan, otomasi industri, hingga robotika.
Noordende menilai perkembangan AI justru memperlihatkan bahwa transformasi digital tetap membutuhkan banyak tenaga manusia di lapangan. “Perdebatan mengenai dampak AI terhadap pasar tenaga kerja sering kali hanya fokus pada apakah model generatif akan menggantikan pekerjaan kantoran. Namun kenyataan penting justru terabaikan, AI tidak bisa membangun pusat datanya sendiri.”
Perusahaan teknologi besar seperti Alphabet, Microsoft, Meta, dan Amazon diketahui menyiapkan belanja modal gabungan hampir US$700 miliar atau sekitar Rp12.250 triliun tahun ini untuk memperluas infrastruktur data center mereka.
Dampaknya, kebutuhan tenaga kerja teknis ikut melonjak. Analisis Randstad terhadap 50 juta lowongan pekerjaan menemukan permintaan teknisi robotika meningkat 107 persen sejak 2022. Sementara lowongan teknisi HVAC naik 67 persen dan teknisi otomasi industri tumbuh 51 persen.
Di sisi lain, kemampuan AI juga mulai menjadi nilai tambah penting bagi lulusan baru. Randstad mencatat pekerja entry-level yang memiliki skill AI bisa menerima gaji hingga 25 persen lebih tinggi.
“AI adalah jalur cepat menuju promosi dan kenaikan gaji bagi pendatang baru di pasar tenaga kerja,” kata Noordende. “Asalkan dikombinasikan dengan kemampuan sosial seperti soft skill, penilaian, kolaborasi, empati, itu bisa mempercepat karier Anda.”
Dalam bidang pengembangan software, misalnya, gaji awal pekerja di Amerika Serikat bisa naik dari US$85 ribu atau sekitar Rp1,48 miliar menjadi US$105 ribu atau setara Rp1,83 miliar jika memiliki kemampuan AI tambahan.
Meski begitu, AI juga mulai memangkas sejumlah pekerjaan level pemula. Data perusahaan konsultan Challenger Gray & Christmas menyebut hampir 50 ribu PHK di Amerika Serikat tahun ini berkaitan dengan penggunaan AI.
Menariknya, perusahaan kini justru semakin mencari kandidat yang memiliki kemampuan interpersonal. Permintaan terhadap skill emotional intelligence naik 173 persen, sedangkan kreativitas meningkat 168 persen.
Menurut Noordende, kemampuan teknis memang bisa dipelajari lebih cepat, tetapi komunikasi, empati, dan kemampuan membangun relasi tetap menjadi keahlian yang sulit digantikan teknologi.