Berebut Suara Gen Z
Uni Eropa (UE) berusaha menjangkau generasi muda, terutama Gen Z, tapi masih menjadi pertanyaan apakah upaya ini akan berhasil.
Bagi Aisling Giltinane (18) dari Irlandia, cyberbullying atau perundungan online merupakan masalah yang sangat personal karena ia mengalaminya saat masih muda.
Ia langsung menyambut kesempatan untuk bergabung dengan kelompok kecil kaum muda Eropa yang datang ke markas Komisi UE di Brussels, Belgia, untuk bertemu dengan Komisaris Glenn Micallef pada September 2025, dan membahas masalah ini.
"Saya ingin membuat perbedaan. Saya ingin menunjukkan apa yang bisa kami lakukan agar anak-anak lain tidak harus mengalami hal yang sama," jelas dia, seperti dikutip dari situs DW, Selasa, 14 Oktober 2025.
Para peserta, beberapa masih di sekolah menengah, lainnya sudah bekerja, mendapat kesempatan untuk menyampaikan ide mereka sendiri.
Ide-ide tersebut termasuk mempermudah pelaporan cyberbullying, meningkatkan edukasi tentang topik ini, serta melibatkan guru dan orangtua lebih banyak.
Komisi UE ingin mempresentasikan 'Rencana Aksi Komprehensif UE tentang Cyberbullying' tahun depan, dan diskusi ini akan menjadi bagian dari rencana tersebut.
Namun, bagi banyak peserta, pertemuan ini lebih dari sekadar membahas cyberbullying.
“Bagi saya, ini terutama tentang kesempatan untuk menyuarakan tidak hanya kekhawatiran saya, tetapi juga ide-ide saya,” kata George Vella (18) asal Malta.
Dengan berbicara langsung kepada politisi, ia mengatakan bahwa kekhawatirannya lebih mungkin diperhatikan dibanding jika hanya disampaikan di media sosial atau ke teman-teman.
Senada, Giltinane mengaku jika dirinya mendapat pertukaran pandangan yang positif dengan Micallef, yang bertanggung jawab atas Keadilan Internasional, Pemuda, Budaya, dan Olahraga.
“Kami bisa menyampaikan apa yang kami inginkan, dan dia benar-benar memperhatikan hal itu,” tegasnya.
Berbeda dengan kelompok kecil yang berkunjung ke Brussels, tidak semua kaum muda di Uni Eropa menaruh kepercayaan ke UE atau struktur demokrasinya.
Survei baru oleh Yayasan TUI Jerman menemukan bahwa 40 persen peserta setuju dengan pernyataan bahwa cara kerja UE tidak terlalu demokratis.
Sementara 51 persen mengatakan UE adalah ide yang baik tetapi implementasinya buruk. Sedangkan, 53 persen percaya bahwa UE terlalu fokus pada hal-hal sepele.
Survei ini mewawancarai lebih dari 6.000 orang berusia 16 hingga 26 tahun dari Jerman, Prancis, Spanyol, Italia, Yunani, Polandia, dan Inggris.
Partisipasi pemilih pada pemilu Uni Eropa terakhir juga menunjukkan menurunnya minat untuk ikut serta dalam proses demokrasi UE. Pada 2019, 42 persen kaum muda berusia 15 hingga 24 tahun memilih.
Menurut kantor statistik Eurostat, hanya 36 persen hadir di bilik suara pada 2024, menurun 6 poin persentase. Jumlah pemilih muda pada pemilu terbaru juga lebih rendah dibanding rata-rata partisipasi sebesar 51 persen.
Merayu gen Z
Mendukung kaum muda termasuk prioritas masa jabatan Komisi UE saat ini yang berlangsung hingga 2029.
Sejak 2024, lebih dari 35 pertemuan, seperti yang membahas cyberbullying, telah diselenggarakan.
Dinamakan "Dialog Kebijakan Pemuda," hasilnya telah dipublikasikan dan dibahas secara online. Hasil ini akan menjadi bagian dari pembentukan kebijakan baru yang memengaruhi kaum muda, menurut situs web Komisi UE.
Inisiatif lain termasuk "Dewan Penasihat Pemuda," yang terdiri dari perwakilan pemuda dari seluruh UE, atau "Youth Check," yang menilai legislasi dari dampaknya terhadap kaum muda Uni Eropa.
Sementara itu, "European Youth Event" mempertemukan ribuan pemuda setiap dua tahun. Komisi UE juga menjangkau kaum muda Eropa melalui media sosial, misalnya membagikan informasi seperti program pertukaran Erasmus atau undian tiket kereta gratis.
Namun, di tengah skeptisisme dan polarisasi yang meluas, pertanyaannya tetap: apakah UE mampu mempertahankan dukungan Gen Z?
Hernandez-Diez menyoroti masalah yang berlaku di seluruh masyarakat dan kelompok usia:
“Itu masalah di setiap level demokrasi, orang yang tidak percaya pada demokrasi tentu tidak berpartisipasi di dalamnya. Tapi, menciptakan pengalaman demokrasi yang positif bagi kaum muda sangat penting. Bagaimana pun, kelangsungan demokrasi akan bergantung pada komitmen mereka terhadapnya,” ungkap dia.