Mengapa Kosmetik Vegan Belum Tentu Halal? Ini Penjelasan LPPOM MUI
Produk kosmetik vegan belum tentu halal, menurut Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI).
"Sebenarnya belum tentu (halal), artinya ada banyak hal lain yang harus kita perhatikan terkait produk vegan," kata Halal Audit Quality Board of LPPOM MUI, Dr. Ir. Mulyorini Rahayuningsih Hilwan, M.Si. saat Cosmobeaute Indonesia 2025 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (9/10/2025).
Berikut penjelasannya mengapa produk kosmetik vegan tidak otomatis halal.
Mengapa kosmetik vegan belum tentu halal?
Vegan dan halal, dua konsep berbeda
Dr. Ir. Mulyorini Rahayuningsih Hilwan, M.Si., halal audit quality board of LPPOM MUI, dalam acara Cosmobeaute Indonesia 2025, di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (9/10/2025).
Menurut Mulyorini, formula kosmetik vegan dipastikan tidak ada bahan hewani, tapi tidak menjamin seluruh prosesnya bebas dari unsur haram atau najis.
Misalnya, dalam proses pembuatan bahan baku, ada kemungkinan menggunakan bahan penolong yang berasal dari sumber tidak halal.
"Vegan sebenarnya hanya memastikan bahwa tidak ada bahan turunan hewani di dalam proses produksi suatu produk.Di dalam pemeriksaan vegan untuk tes laboratorium, itu kan dengan uji. Apakah memang bisa dijamin bahwa dia bisa menguji sampai bahan level ke berapa?" kata Mulyorini.
"Karena kan suatu bahan itu kadang kala disusun oleh bahan, kemudian bahan penolong, bahan tambahan. Bahan penolong itu bahan yang ada di produk tapi dia tidak menjadi bagian dari produk karena sudah dipisahkan," sambungnya.
Hal inilah yang membuat sertifikasi halal memiliki proses lebih ketat dan menyeluruh.
Dalam pemeriksaan halal, LPPOM MUI juga memastikan seluruh rantai produksi, mulai dari bahan baku, bahan tambahan, fasilitas pabrik, hingga kemasan, benar-benar memenuhi kriteria halal dan bebas najis.
Bagaimana menentukan apakah sebuah bahan halal?
Banyak yang mengira kosmetik vegan otomatis halal. Padahal menurut LPPOM MUI, produk vegan belum tentu memenuhi standar halal. Simak penjelasannya.
Mulyorini menuturkan, langkah pertama dalam menentukan status halal sebuah bahan adalah melacak sumber dan asal-usulnya.
“Pertama dilihat dulu sumbernya. Sumber bahan harus berasal dari bahan yang memiliki persyaratan halal. Bahan haram yang sudah jelas disebutkan dalam Al-Qur'an itu antara lain bangkai, darah, babi, minuman beralkohol, serta hewan yang disembelih tidak atas nama Allah,” jelas Mulyorini.
Setelah itu, bahan harus diverifikasi melalui dokumen pendukung dari produsen. Jika bahan tersebut merupakan turunan dari hewan, sertifikat penyembelihan halal wajib disertakan.
Namun, jika bahan tersebut termasuk dalam positive list yang ditetapkan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), dokumen tambahan tidak diperlukan.
Ia menambahkan, bahan kosmetik saat ini tidak selalu bersifat alami. Banyak bahan sintetis atau hasil rekayasa yang perlu diperiksa lebih jauh untuk memastikan media produksinya tidak mengandung unsur haram.
“Sekarang banyak bahan dari mikrobial, medianya bisa saja mengandung babi atau bahan najis. Itu sebabnya sertifikasi halal harus menelusuri sampai ke tingkat bahan penolongnya,” tuturnya.
Selain bahan dan proses, LPPOM MUI juga menilai aspek etika produk, mulai dari nama, bentuk, hingga tampilan kemasannya agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Semua ini menjadi satu kesatuan dalam proses penetapan status halal.
Konsumen disarankan lebih bijak
Banyak yang mengira kosmetik vegan otomatis halal. Padahal menurut LPPOM MUI, produk vegan belum tentu memenuhi standar halal. Simak penjelasannya.
Lebih lanjut, Mulyorini menilai masyarakat masih perlu lebih bijak dalam mengartikan label, seperti vegan, yang sering diasosiasikan dengan kriteria halal. Padahal, nyatanya belum tentu.
"Karena kalau menurut regulasi itu sebenarnya yang diinginkan oleh Indonesia adalah halal. Jadi bukan vegannya. Sehingga vegan itu mungkin bisa mendukung, tetapi itu tidak sama persis dengan halal," pungkasnya.
Dengan kata lain, masyarakat bisa lebih jeli lagi dalam membaca label dan memahami proses di baliknya, apakah sudah sesuai standarisasi halal atau belum.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.