Bahan Alami Indonesia Berlimpah, Industri Kosmetik Lokal Masih Bergantung pada Impor

Kekayaan alam Indonesia terdiri atas ragam fauna dan flora yang tersebar di berbagai daerah. Dengan kekayaan alam yang beragam, Indonesia memiliki potensi untuk memperkenalkan bahan baku alami lokal melalui produk kecantikan.
Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) menjadikan hal tersebut sebagai salah satu misi mereka.
Ketua Umum Perkosmi Sancoyo Antarikso mengatakan, masih banyak perusahaan kosmetik Indonesia yang menggunakan bahan baku impor dibandingkan lokal.
“Ya, kalau saya harus jawab bahwa as we speak masih banyak yang impor dibandingkan yang lokal,” ujar Sancoyo di acara Indonesia Cosmetic Ingredients (ICI) 2026, JIEXPO Kemayoran, pada Rabu (06/05).
Industri wewangian menjadi salah satu sektor yang menurutnya masih cukup bergantung pada bahan baku impor. Padahal, Sancoyo mengatakan, tidak semua parfum dari luar negeri cocok dengan kondisi kulit dan iklim masyarakat Indonesia.
“Oh iya, parfum itu menurut saya salah satu yang menarik. Karena kalau kita lihat, tidak semua parfum yang diimpor itu cocok untuk kulit orang Indonesia,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, Perkosmi mencoba mendorong pemanfaatan bahan baku alami lokal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor. Menurut Sancoyo, tantangan penggunaan bahan impor tidak hanya soal harga, tetapi juga berkaitan dengan pasokan dan kondisi geopolitik global.
“Oh, tantangannya banyak. Ya, ini contohnya kalau krisis geopolitik ini, supply, pasokan, dolar harganya mahal,” kata Sancoyo.
Perkosmi dorong inovasi bahan lokal alami lewat riset dan pameran
Salah satu upaya yang dilakukan Perkosmi adalah menjalin kerja sama dengan berbagai universitas untuk mengembangkan riset bahan baku kosmetik berbasis alam.
“Ini salah satu upaya yang kami lakukan. Kami kerja sama dengan universitas-universitas unggul,” ujar Sancoyo.
Ia menjelaskan, hasil riset dari akademisi tersebut kemudian diperkenalkan kepada pelaku industri, agar inovasi bahan baku lokal bisa lebih mudah diaplikasikan menjadi produk kosmetik.
Selain menggandeng universitas, Perkosmi juga menghadirkan Innovation Zone dalam pameran ICI 2026 yang bertemakan “Innovating the Future of Cosmetic Ingredients: Technology, Safety, and Sustainable Excellence”. Area tersebut menjadi ruang untuk memperlihatkan berbagai inovasi bahan baku dan teknologi terbaru di industri kosmetik.
Menurut Sancoyo Innovation Zone menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan pelaku industri, peneliti, dan pemasok bahan baku untuk melihat peluang baru dalam pengembangan kosmetik lokal.
CEO Martha Tilaar Group Kilala Tilaar yang juga menjadi Technical Director Innovation Zone Award ICI 2026 mengatakan bahwa ajang tersebut dibuat sebagai wadah apresiasi terhadap inovasi bahan baku kosmetik, baik dari perusahaan global maupun lokal.
Ia menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan bahan alami untuk kosmetik. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal oleh industri dalam negeri.
“Banyak sekali, 33.000 tanaman obat, aromatik, dan kosmetik (lokal). Belum kita manfaatin,” kata Kilala pada Rabu (06/05) di acara yang sama.
Menurut Kilala selama ini banyak bahan mentah Indonesia justru diproses di luar negeri sebelum kembali dijual ke pasar domestik dengan harga yang dipatok lebih tinggi.
“Dimanfaatin oleh orang-orang luar negeri, diambil bahan baku mentahnya, diproses di luar negeri, balik lagi ke sini, dengan harga mungkin 8 kali lipat,” ujarnya.
Padahal ada banyak tanaman lokal yang berpotensi besar dimanfaatkan oleh industri kecantikan Indonesia. Kilala mencontohkan beberapa tanaman lokal seperti nilam Aceh, kemangi, meniran, hingga kulit manggis.
“Nilam Aceh is one of the best,” kata Kilala.
Ia juga menyebut hasil riset Martha Tilaar Innovation Center menemukan, bahwa ekstrak kemangi memiliki potensi sebagai bahan anti-inflamasi untuk kulit dan bisa menjadi alternatif bahan impor seperti ekstrak chamomile.
“Kemangi bukan buat lalapan aja, tapi juga ternyata mempunyai properti untuk membuat kulit menjadi tenang,” pungkas Kilala.
Kualitas dan keamanan produk jadi prioritas
Meski terus mendorong pemanfaatan bahan alami Indonesia, Sancoyo menilai fokus utama industri kosmetik tetap harus berada pada kualitas dan keamanan produk.
“Sebetulnya sih nggak hanya bahan lokal sih sebetulnya. Intinya adalah bagaimana kita bisa membuat produk yang aman, baik, bermutu, relevan, inovatif gitu aja sih. Kalau bisa pakai bahan lokal ya tentu akan lebih baik lagi,” ujar Sancoyo pada Rabu (06/05).
Sancoyo berpendapat bahwa konsumen saat ini juga semakin kritis dalam memilih produk kecantikan. Selain klaim produk, konsumen juga mulai mencari tahu kandungan hingga keamanan bahan baku yang digunakan secara mandiri.
“Sekarang itu kan ada yang namanya skin intellectual. Jadi itu orang-orang yang sangat concern terhadap produk-produk terutama skincare yang mereka pakai,” jelasnya.
Ia menambahkan, tren tersebut membuat pelaku industri kosmetik perlu lebih adaptif terhadap kebutuhan konsumen sekaligus lebih bertanggung jawab dalam membuat klaim produk.
“Claim harus bertanggung jawab,” tegas Sancoyo.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang