Jejak Digital Pelaku Teror Bom di Sekolah Internasional Tangerang Diduga dari Nigeria

Nigeria, tangerang selatan, ancaman bom, ancaman bom di sekolah internasional, ancaman bom di sekolah, ancaman bom di sekolah internasional tangsel, ancaman bom di sekolah internasional kelapa gading, Jejak Digital Pelaku Teror Bom di Sekolah Internasional Tangerang Diduga dari Nigeria, Polisi Lacak Asal Nomor Nigeria, Ancaman Bom Dikirim Lewat WhatsApp dan Email, Polisi dan Brimob Lakukan Sterilisasi, Pelaku Minya Bitcoin, Aktivitas Sekolah Kembali Normal

— Polisi terus menelusuri jejak digital pelaku teror bom yang mengancam dua sekolah internasional di wilayah Tangerang dan Tangerang Selatan, Banten.

Hasil penelusuran awal menunjukkan, pelaku menggunakan nomor berkode negara Nigeria (+234) saat mengirim pesan ancaman melalui WhatsApp dan email.

Dua sekolah yang menjadi sasaran teror adalah Jakarta Nanyang School (JNY) di Pagedangan, Kabupaten Tangerang, serta Mentari Intercultural School (MIS) di Pondok Aren, Tangerang Selatan.

Kedua sekolah internasional itu berjarak kurang dari 10 kilometer.

Ancaman dikirim dalam bahasa Inggris dengan nada teror dan disertai permintaan tebusan sebesar 30.000 dolar AS atau sekitar Rp 497,7 juta dalam bentuk Bitcoin.

“Pesan ini untuk semua orang. Kami telah memasang bom di sekolah kalian. Bom tersebut akan meledak dalam 45 menit. Bila kamu tidak setuju untuk membayar kami senilai 30.000 dolar AS ke alamat Bitcoin kami,” demikian isi pesan ancaman yang dikutip dari TribunTangerang.com.

“Jika kamu tidak mengirimkan uang tersebut, kami akan segera meledakkan perangkat itu. Laporkan ke polisi, kami akan meledakkannya di tempat,” tulis pelaku dalam pesan berikutnya.

Polisi Lacak Asal Nomor Nigeria

Kapolres Tangerang Selatan AKBP Victor Inkiriwang mengatakan, penyidik kini fokus menelusuri jejak digital pelaku untuk mengidentifikasi lokasi dan perangkat yang digunakan mengirim pesan ancaman.

“(Ancaman) berasal dari nomor yang sama. Kami sedang melakukan langkah-langkah penyelidikan secara intensif untuk mengungkap pelaku yang mengirimkan pesan teror bom ini,” ujar Victor, Selasa (7/10/2025).

Menurut Victor, pihaknya telah berkoordinasi dengan tim siber Polda Metro Jaya guna melacak alamat IP (internet protocol) dan rute pengiriman pesan. Dugaan sementara, pelaku memanfaatkan jaringan virtual (VPN) untuk menyamarkan lokasi aslinya.

“Kami tidak menutup kemungkinan bahwa pelaku menggunakan jaringan VPN atau nomor luar negeri palsu. Namun, kode negara Nigeria menjadi petunjuk awal bagi tim kami untuk menelusuri jaringan pelaku,” kata Victor.

Ancaman Bom Dikirim Lewat WhatsApp dan Email

Ancaman bom pertama kali diterima oleh pihak manajemen Jakarta Nanyang School melalui pesan WhatsApp, sementara Mentari Intercultural School menerima ancaman serupa lewat email.

Kedua pesan itu dikirim hampir bersamaan, pada Selasa (7/10/2025) pagi.

Dalam pesan tersebut, pelaku memberi waktu 45 menit untuk mengirimkan tebusan dalam bentuk Bitcoin, dengan ancaman akan meledakkan bom jika tidak dipenuhi.

“Kejadian pertama terjadi di Jakarta Nanyang School, Pagedangan, Kabupaten Tangerang. Pihak sekolah menerima ancaman bom melalui pesan WhatsApp,” kata Victor.

Polisi dan Brimob Lakukan Sterilisasi

Mendapat laporan dari pihak sekolah, Polres Tangerang Selatan langsung berkoordinasi dengan Tim Jibom Gegana Brimob Polda Metro Jaya untuk melakukan sterilisasi di dua lokasi.

“Kami menindaklanjuti laporan dengan mendatangi lokasi, berkoordinasi dengan pihak sekolah, mengamankan area, dan memanggil tim penjinak bom,” ujar Victor.

Dari hasil penyisiran, tim Gegana memastikan tidak ditemukan bom atau bahan peledak di dua sekolah tersebut.

“Puji Tuhan, Alhamdulillah, dari dua TKP tersebut tidak ditemukan adanya bom ataupun bahan peledak,” ujarnya.

Pelaku Minya Bitcoin

Dalam pesan teror, pelaku meminta tebusan dikirim dalam bentuk Bitcoin, salah satu mata uang digital (cryptocurrency) yang tidak dikendalikan oleh pemerintah atau bank sentral.

Transaksi Bitcoin bersifat anonim dan transparan, namun sulit dilacak karena tidak melibatkan lembaga keuangan resmi. Nilainya juga fluktuatif, bergantung pada permintaan pasar dan spekulasi investor.

Polisi menduga penggunaan Bitcoin sebagai tebusan merupakan upaya pelaku untuk menghindari pelacakan identitas.

Aktivitas Sekolah Kembali Normal

Setelah situasi dinyatakan aman, kegiatan belajar mengajar di Jakarta Nanyang School dan Mentari Intercultural School kembali berlangsung normal.

“Kegiatan belajar mengajar tetap bisa berlangsung dengan normal dan aman,” kata Victor.

Pihak kepolisian juga mengimbau masyarakat agar tidak panik jika menerima ancaman serupa dan segera melapor ke aparat penegak hukum.

“Kami mengimbau kepada pihak sekolah, siswa, dan orang tua agar tidak panik. Jika ada ancaman bom, segera laporkan ke polisi,” ujarnya.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak sekolah mengenai insiden tersebut.

Polisi masih mendalami kemungkinan bahwa pelaku merupakan bagian dari jaringan kriminal internasional yang memanfaatkan sistem ransomeware dan teror digital untuk mencari keuntungan finansial.

“Kami terus bekerja sama dengan unit siber dan melakukan koordinasi dengan lembaga terkait, termasuk Interpol jika diperlukan,” kata Victor.

Penyelidikan akan difokuskan pada pelacakan alamat email pengirim, rekam jejak transaksi Bitcoin, dan jaringan komunikasi internasional yang mengarah ke Nigeria.

Sebagian Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul danTribuntangerang.com dengan judul Peneror Bom di Jakarta Nanyang School dan MIS Pakai Bahasa Inggris, Nomor Berasal dari Nigeria,

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.