Bagaimana Gigi Bisa Mengidentifikasi Korban Bencana hingga Korban Reruntuhan Bangunan?

Ilustrasi gigi berlubang
Ilustrasi gigi berlubang

Proses identifikasi korban ambruknya mushola di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny pada akhir September lalu sedang dilkukan oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur.  Polisi membutuhkan serangkaian data untuk pencocokan identifikasi korban, termasuk foto yang menunjukkan struktur gigi.

Lantas mengapa gigi berperan penting dalam proses identifikasi korban? Bagaimana kaitannya gigi dengan identifikasi korban? Melansir laman UNAIR, ada berbagai metode identifikasi korban. Beberapa metode itu seperti identifikasi visual, analisis DNA, analisis sidik jari, dan temuan gigi. Prinsip dasar identifikasi adalah perbandingan antara data antemortem dan postmortem.

Analisis DNA memberikan akurasi tinggi untuk identifikasi namun, membutuhkan biaya tinggi dan waktu yang lama. Sidik jari postmortem akan dicocokkan dengan basis data sidik jari seperti e-KTP. Temuan gigi postmortem dapat dibandingkan dengan catatan gigi antemortem dari dokter gigi.

Gigi adalah bagian tubuh manusia yang paling tahan lama yang dapat bertahan dalam kondisi ekstrem. Banyak informasi penting, termasuk jenis kelamin, usia, etnis, dan status sosial, dapat diperoleh dari gigi manusia.

Dalam ilmu forensik, usia biologis dapat diperkirakan menggunakan beberapa parameter dalam ilmu forensik, seperti tulang dan gigi. Perkembangan dan erupsi gigi, perubahan pascaformasi, dan molar ketiga adalah parameter untuk memperkirakan usia gigi. 

Aplikasi Identifikasi Gigi

Melansir laman dentalid, untuk mengaplikasikan identifikasi gigi terbagi menjadi:

Identifikasi Korban Bencana Massal (DVI): Dalam bencana skala besar, di mana jenazah mungkin terfragmentasi atau membusuk, identifikasi gigi seringkali menjadi satu-satunya metode yang layak untuk memastikan identitas.

Analisis Bekas Gigitan: Digunakan dalam kasus penyerangan atau pembunuhan, bekas gigitan dapat dibandingkan dengan struktur gigi tersangka, yang memperhitungkan kesejajaran, jarak, dan karakteristik gigi yang unik.

Ekstraksi DNA dari Gigi: Ketika perbandingan langsung tidak memungkinkan, DNA dapat diambil dari kamar pulpa atau seluruh gigi melalui teknik penggilingan. Hal ini memungkinkan konfirmasi identitas yang andal bahkan pada jenazah yang rusak parah.

Estimasi Usia: Perkembangan gigi dan perubahan struktural memberikan indikator penting untuk memperkirakan usia pada anak-anak dan dewasa, mendukung proses kemanusiaan dan imigrasi, penentuan usia legal, dan identifikasi individu yang tidak dikenal.