Cerita Sarmi dan Toni, Lansia Pengidap Hipertensi yang Rutin Periksa ke Dokter
Pernah kesulitan membujuk orangtua yang sudah lanjut usia (lansia) periksa ke dokter? Kalau ya, kisah Sarmi Chairul (63) dan Toni (73) yang mengidap hipertensi (tekanan darah tinggi) mungkin bisa menginspirasi.
Sarmi Chairul dan Toni merupakan peserta Rumah Rasa (Rumah Berbagi Sesama Lansia), inovasi dari Lentera (Layanan Terapi Hipertensi dan Depresi pada Lansia) Puskesmas Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Salah satu acara yang Sarmi Chairul dan Toni ikuti adalah sesi berkumpul bersama lansia lainnya, yang diisi dengan beragam kegiatan, antara lain pemeriksaan tekanan darah, meditasi, berbagi cerita dengan psikolog, berkeliling Hutan Kota GBK, dan bermain beberapa permainan.
Simak cerita mereka selengkapnya.
Cerita Sarmi Chairul
Pilih periksa ke dokter daripada tidak sama sekali
Ibu Sarmi Chairul (63), salah satu peserta kegiatan Rumah Rasa. Kegiatan Rumah Rasa bertujuan menurunkan hipertensi dan risiko depresi pada lansia di Hutan Kota GBK, Jakarta Pusat, Rabu (24/9/2025).
Sarmi Chairul sempat terkejut ketika melihat hasil pemeriksaan tekanan darah yang dilakukan petugas Rumah Rasa. Alat tersebut menunjukkan tekanan darahnya 171, dari yang biasanya 130 atau 135.
Meskipun mengaku sakit kepala, Sarmi tetap terdengar riang dan penuh semangat.
"Tadi tumben itu (tekanan darah) saya 171, kalau enggak salah. Saya juga kan ke posyandu lansia tiap bulannya jadi saya tahu karena, kok tumben, apa saya kecapekan? Memang sih, dalam minggu-minggu ini kegiatan banyak," jelas Sarmi kepada Kompas.com di Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.
Selain itu, hasil pemeriksaan kolesterolnya juga lumayan tinggi yaitu 215. Perempuan yang berasal dari Kelurahan Gelora, Jakarta Pusat, ini mengaku hal tersebut disebabkan oleh stres karena ia cukup menjaga makanan yang dikonsumsi.
Bakso dan gorengan, misalnya, termasuk makanan yang kurang ia sukai. Sebelum pandemi, Sarmi juga rajin mendonorkan darahnya.
Sebagai pengidap hipertensi, Sarmi memahami bahwa kondisinya perlu dijaga. Selain menghindari makanan tertentu, ia memastikan memiliki durasi istirahat yang cukup. Ia juga menerima penyuluhan untuk minum obat setiap hari.
Meskipun terkejut dengan hasil pemeriksaan tekanan darahnya, Sarmi merasa hal tersebut bisa menjadi warning (peringatan) bagi dirinya sendiri.
nya ya, hasilnya (jadi) warning ya. Jadi kita bisalah nantinya ke depannya kita bisa ngerem, apa yang bisa kita cegah," tutur Sarmi.
"Kita lebih baik periksa daripada enggak sama sekali, kan, kita lebih takut. Justru saya penasaran," tambahnya.
Sebagai lansia, Sarmi juga sadar untuk rutin memeriksakan diri ke dokter dibanding hanya memeriksakan diri ketika sudah sakit parah.
Tidak hanya itu, menurutnya, umur di tangan Tuhan, dan ia hanya berusaha untuk menjaga kesehatannya.
Cerita Toni
Rutin periksa ke dokter dan minum obat
Toni (73), salah satu peserta kegiatan Rumah Rasa. Kegiatan Rumah Rasa bertujuan menurunkan hipertensi dan risiko depresi pada lansia di Hutan Kota GBK, Jakarta Pusat, Rabu (24/9/2025).
Toni mengaku sudah mengidap hipertensi sejak lama. Berdasarkan hasil pemeriksaan tekanan darah oleh petugas dari Rumah Rasa, hasilnya sekitar 213.
"Turun naik sih kalau tekanan darah, kemarin cuma 153," tutur Toni kepada Kompas.com dalam kesempatan yang sama.
Ia menambahkan, bagian belakang lehernya kerap terasa sakit bila tekanan darahnya tinggi. Badannya juga terasa kurang enak sehingga bisa menjadi penghambat untuk beraktivitas.
Sama seperti Sarmi, Toni rutin memeriksakan diri ke dokter, sekitar setengah bulan atau sebulan sekali. Ia pun rutin minum obat dan mengecek apakah obatnya masih ada atau tidak.
Ibu Toni (73, kanan), salah satu peserta kegiatan Rumah Rasa. Kegiatan Rumah Rasa bertujuan menurunkan hipertensi dan risiko depresi pada lansia di Hutan Kota GBK, Jakarta Pusat, Rabu (24/9/2025).
"Ibu kalau periksa kadang setengah bulan, sebulan sekali, ke dokter (untuk) kontrol (dan) minta obat lagi," ucap Toni.
Sebagai nenek dari sembilan cucu, perempuan yang berasal dari Kelurahan Kebon Melati ini cukup aktif berkegiatan dalam kesehariannya. Ia tak hanya gemar berolahraga, tapi juga membantu menggosok pakaian.
Cerita Sarmi Chairul dan Toni menunjukkan bahwa pemeriksaan kesehatan rutin sangat penting bagi lansia, terutama yang hidup dengan hipertensi.
Kisah ini bisa menjadi pengingat bahwa deteksi dini dan perawatan sederhana dapat membuat lansia tetap aktif dan mandiri.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang