Mengenal Loneliness Economy, Ketika Kesepian Jadi Ladang Cuan Baru di China

Ilustrasi kesepian
Ilustrasi kesepian

 Hidup sendiri kini bukan lagi fenomena pinggiran di China, melainkan realitas sosial yang membentuk ulang cara orang bekerja, makan, bersosialisasi, hingga mencari rasa aman. Perubahan ini berlangsung senyap, namun dampaknya terasa luas, terutama di kota-kota besar. 

Di tengah tekanan ekonomi, melemahnya ikatan keluarga, serta perubahan pandangan generasi muda soal pernikahan dan relasi, kesendirian tak lagi sekadar kondisi emosional. Ia menjelma menjadi pola hidup, dan dari sanalah pasar baru lahir. 

Para analis menyebutnya sebagai “loneliness economy”, sebuah ekosistem produk dan layanan yang dirancang khusus untuk mereka yang hidup sendiri. Salah satunya yakni fenomena aplikasi check-in bernama Are You Dead? atau Sileme dalam bahasa Mandarin, yang mendadak merajai tangga aplikasi berbayar di China. 

Versi global, aplikasi itu dikenal dengan nama Demumu. Aplikasi tersebut memiliki fungsi sederhana, yaitu, pengguna diminta menekan tombol untuk mengonfirmasi bahwa mereka aman. Jika pengguna gagal melakukannya selama lebih dari 48 jam, sistem akan mengirimkan peringatan ke kontak darurat yang telah ditentukan.

Meski kini telah dihapus dari Apple App Store di China daratan, Are You Dead? masih tersedia di pasar internasional. Popularitasnya, menurut para analis, bukan sekadar karena nama yang provokatif, melainkan karena ia menyentuh kecemasan nyata soal isolasi sosial dan keselamatan pribadi.

“Ini adalah manifestasi dari kesepian kolektif yang berubah menjadi permintaan struktural,” kata Zhao Zhijiang, peneliti dari lembaga pemikir Anbound yang berbasis di Beijing, sebagaimana dikutup dari South China Morning Post, Senin, 26 Januari 2026.

Ilustrasi kesepian

Lonjakan popularitas aplikasi ini membuka mata banyak pihak tentang skala ekonomi hidup sendiri di China. Data dari National Bureau of Statistics menunjukkan bahwa hampir 20 persen penduduk China hidup dalam rumah tangga satu orang pada 2024.

Angka ini diperkirakan melonjak tajam. Menurut laporan Beike Research Institute, pada akhir dekade ini, lebih dari 30 persen populasi China akan hidup sendiri, atau setara 150 hingga 200 juta orang.

“Penuaan populasi, lonjakan cepat gaya hidup solo, serta redefinisi pernikahan dan keintiman oleh Gen Z semuanya mengarah pada satu hal, ‘loneliness economy’ akan terus berkembang secara stabil,” ujar Zhao. Ia menyebut, tren ini bukan fenomena sementara, melainkan hasil yang tak terelakkan dari perubahan struktural sosial. 

Perubahan sosial ini mulai terasa nyata dalam kebiasaan konsumsi masyarakat. Di sektor kuliner, misalnya, sejumlah jaringan restoran seperti McDonald’s menuai pujian di media sosial China setelah memperkenalkan meja khusus satu orang dengan sekat privat.

Analis juga menduga tren makan sendiri ikut mendorong ledakan industri pesan-antar makanan. Sepanjang 2024, sektor pengiriman makanan melayani 545 juta pengguna dengan nilai pasar sekitar 1,2 triliun yuan atau setara US$172 miliar (sekitar Rp2.872 triliun). 

Di sisi lain, semakin banyak warga China mencari teman lewat hewan peliharaan, bahkan kecerdasan buatan. Masyarakat yang makin terfragmentasi mendorong kebutuhan akan kehadiran, meski dalam bentuk non-manusia.

Perusahaan investasi asal Amerika Serikat, ARK Invest, memprediksi China akan menjadi salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat untuk alat companionship berbasis AI. Faktor pendorongnya adalah meningkatnya jumlah penduduk yang hidup sendiri, populasi menua, serta tingkat adopsi digital yang tinggi.

Secara global, pasar AI companionship diperkirakan melonjak dari sekitar US$30 juta (setara Rp501 miliar) saat ini menjadi hingga US$150 miliar (setara Rp2.505 triliun) pada 2030. “Dalam kondisi ekonomi yang melemah, kebutuhan akan rasa memiliki justru menguat karena pada dasarnya ini tentang rasa aman dalam sebuah kelompok,” kata Fan Xinyu, asisten profesor di Cheung Kong Graduate School of Business. 

Dalam banyak hal, China kini mengikuti jejak Jepang, negara yang lebih dulu menghadapi tingginya angka hidup sendiri. Di Jepang, produk untuk individu, mulai dari porsi makan satu orang, hunian urban, hingga layanan personal dan produk berorientasi keselamatan, telah lama menjadi kategori ekonomi tersendiri.

“Kesepian bukanlah emosi, ia adalah kondisi hidup,” ujar Zhao. “Karena itu, keuangan, layanan kesehatan, teknologi, properti, dan produk budaya akan semakin beririsan dengan loneliness economy, menciptakan pasar baru yang sangat besar.”