Tips Jadi Teman Curhat yang Baik tanpa Adu Nasib

kesehatan mental, Tips Jadi Teman Curhat yang Baik tanpa Adu Nasib

Masa remaja sering kali menjadi periode yang penuh gejolak emosi, yang mana masalah keluarga hingga urusan pertemanan, bisa berdampak besar pada kondisi psikologis.

Dalam situasi seperti ini, kehadiran seorang teman yang mampu memahami dan memberikan rasa aman, menjadi sangat penting bagi mereka yang sedang merasa tidak baik-baik saja.

Namun, banyak pelajar yang merasa bingung mengenai cara melakukan pendekatan atau merespons curhatan teman agar tidak salah langkah. Berikut cara merespons yang tepat menurut advokat kesehatan mental sekaligus pendiri komunitas @patahkanstigma.id, Yovania AJ.

"Cara termudah untuk bisa tahu kita harus apa, itu adalah dengan memposisikan dia menjadi diri kita sendiri," ujar Yovania dalam sebuah dialog bersama Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat RI di Fakultas Ilmu Kedokteran UI, Jumat (27/2/2026).

"Kita bayangkan kita sedang ada di posisi dia, dan kita bayangkan, kira-kira apa sih kata-kata yang ingin kita dengarkan ketika kita pun sedang berada di posisi itu?" lanjut dia.

1. Jadi pendengar aktif dan validasi perasaan teman

Yovania menuturkan, hal pertama yang paling dibutuhkan seseorang saat bercerita adalah didengarkan secara aktif.

Menjadi pendengar aktif melibatkan gestur fisik yang menunjukkan penerimaan, seperti mengangguk dan menjaga kontak mata tanpa terdistraksi oleh gawai.

Selain mendengarkan, langkah selanjutnya yang tidak kalah penting adalah memberikan validasi terhadap perasaan teman, meskipun masalah yang diceritakan mungkin terasa sepele bagi orang lain.

Validasi membantu orang tersebut merasa dipahami dan tidak merasa sendirian dalam menghadapi emosinya.

"Kita harus sebaiknya mencoba untuk, 'oh oke, dia memang sedang merasa sedih, merasa kecewa'," tegas Yovania.

2. Hindari sikap "adu nasib"

Salah satu kesalahan umum yang sering terjadi saat mendengarkan curhatan adalah kecenderungan untuk membandingkan penderitaan atau "adu nasib".

Yovania mengingatkan agar pendengar tidak merebut posisi tokoh utama dalam percakapan.

"Jangan sampai kita membandingkan nasib karena ketika kita sedang mendengar cerita seseorang, fokusnya adalah cerita orang itu. Mereka yang sedang jadi tokoh utama," ucap dia.

Sebelum memberikan respons atau saran, sangat disarankan untuk bertanya terlebih dahulu mengenai kebutuhan teman.

Hal ini dilakukan agar bantuan yang diberikan sesuai dengan harapan mereka, apakah hanya ingin didengarkan, butuh pendapat, atau memerlukan saran praktis.

kesehatan mental, Tips Jadi Teman Curhat yang Baik tanpa Adu Nasib

Ilustrasi curhat.

"Kalian bisa tanya dulu, 'Kira-kira lo curhat gini tuh sebenarnya lagi pengen didengerin aja, atau butuh pendapat dari sudut pandang gue, atau lagi butuh saran?'. Itu menurut aku kata kunci termujarab," tambah dia.

3. Pentingnya kesiapan diri sebagai pendengar

Bagi teman yang terlihat menunjukkan gejala depresi tetapi belum mau terbuka, Yovania menyarankan untuk mendekati tanpa paksaan.

Cukup dengan menunjukkan kehadiran dan ketersediaan diri jika sewaktu-waktu mereka merasa sudah siap dan aman untuk bercerita.

Namun, Yovania mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan mental diri sendiri sebelum menolong orang lain.

Menjadi pendengar atau caregiver membutuhkan tenaga dan kesiapan mental yang stabil, sehingga tidak ada salahnya untuk menolak mendengarkan jika kondisi diri sendiri sedang tidak memungkinkan.

"Ibaratnya kalau kita lagi di pesawat, kalau ada keadaan darurat ketika masker jatuh, kita harus pakai masker ke siapa dulu? Diri sendiri dulu. Jadi pastikan kita siap mendengarkan cerita mereka baik itu secara mental, waktu, dan tenaga," pungkas dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang