4 Cara Berdamai dengan Daddy Issues Menurut Psikolog

daddy issues, daddy issues adalah, berdamai dengan daddy issues, cara mengatasi daddy issues, 4 Cara Berdamai dengan Daddy Issues Menurut Psikolog, 1. Sadari dan akui adanya daddy issues, 2. Pahami dampaknya pada diri sendiri, 3. Izinkan diri merasakan emosi, 4. Terima perasaan yang muncul, 5. Memaafkan untuk kedamaian diri

Istilah daddy issues sering terdengar di media sosial, biasanya dikaitkan dengan masalah relasi maupun kepercayaan diri anak. 

Namun, di balik istilah itu, terdapat luka psikologis yang nyata akibat ketidakhadiran ayah dalam peran emosional maupun psikologis anak.

Psikolog keluarga, Sukmadiarti Perangin-angin, M.Psi., menekankan, berdamai dengan daddy issues bukan hal mudah, tetapi sangat penting untuk kesehatan mental serta relasi anak ke depannya. 

Ia membagikan beberapa langkah yang bisa dilakukan, agar seseorang dapat melepaskan luka batin dan hidup lebih tenang.

Tips berdamai dengan daddy issues

1. Sadari dan akui adanya daddy issues

Langkah awal untuk berdamai dengan daddy issues adalah dengan menyadari bahwa kondisi tersebut benar-benar ada. 

Banyak orang memilih mengabaikan luka masa lalu, padahal hal itu justru membuatnya semakin berlarut.

“Pertama, perlu dipahami bahwa masa lalu kita memengaruhi masa depan. Jika kamu punya ayah yang kurang berperan atau figurnya kurang ideal, berarti sudah ada daddy issues di dalam diri,” jelas Sukmadiarti saat diwawancarai Kompas.com, Senin (8/9/2025).

Dengan menyadari kondisi ini, seseorang bisa lebih memahami bagaimana dampak yang muncul terhadap diri sendiri, baik dalam cara berpikir, merasakan emosi, maupun menjalin hubungan dengan orang lain.

2. Pahami dampaknya pada diri sendiri

Setelah menyadari adanya daddy issues, tahap berikutnya adalah memahami dampaknya secara lebih mendalam. 

Menurut Sukmadiarti, luka ini tidak hanya berpengaruh pada emosi, tetapi juga memengaruhi kognitif dan kehidupan sosial.

“Kenali dulu kalau ada daddy issues tersebut, dan pahami bahwa kondisi tersebut bisa memengaruhi kognitif, emosional, dan sosial kamu ke depannya,” katanya.

Pemahaman ini penting agar seseorang tidak menyalahkan diri sendiri secara berlebihan, melainkan melihat kondisi tersebut sebagai akibat dari pola asuh yang dialaminya.

Memahami dampaknya juga membuat kamu menjadi terdorong untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan keluar dari lingkaran tersebut. 

3. Izinkan diri merasakan emosi

Banyak orang dengan daddy issues cenderung menekan perasaan marah, sedih, atau kecewa yang dialami sejak kecil. 

Padahal, lanjut Sukmadiarti, langkah penting untuk sembuh adalah memberi ruang bagi diri sendiri untuk benar-benar merasakan emosi tersebut.

Daddy issues itu bisa memicu banyak kecemasan, ketakutan, dan emosional. Berikan ruang untuk mengenali perasaan tersebut dan izinkan diri sendiri untuk merasakan hal tersebut,” jelas psikolog yang berpraktik di Semarang, Jawa Tengah ini.

Merasakan emosi adalah bagian dari proses penyembuhan. Langkah ini membuat seseorang tidak lagi memendam luka, melainkan mulai mengurai perasaan yang selama ini menekan.

4. Terima perasaan yang muncul

Tahapan selanjutnya adalah penerimaan. Menerima bukan berarti menyetujui perlakuan buruk di masa lalu, melainkan mengakui bahwa perasaan yang muncul memang nyata dan layak untuk dihadapi.

“Jika sudah diizinkan, maka terimalah sensasinya, entah itu rasa sedih, sakit, marah. Harus ada penerimaan, meskipun di tahapan ini tidak mudah tapi harus diterima perasaan dan isu yang dialami itu apa,” tutur Sukmadiarti.

Proses ini mungkin terasa berat, tetapi penerimaan adalah pintu menuju penyembuhan yang lebih besar.

5. Memaafkan untuk kedamaian diri

Tahap terakhir adalah memaafkan. Sukmadiarti menegaskan, memaafkan bukan berarti membenarkan tindakan ayah yang mengecewakan, melainkan memilih untuk tidak terus memikul beban masa lalu.

“Tahapan akhirnya yaitu memaafkan agar kamu bisa jadi sosok yang terbaik. Memaafkan ini bukan untuk orang lain atau ayah yang sudah buat kecewa, melainkan lakukanlah untuk kedamaian diri sendiri,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan, memaafkan sebaiknya tidak bergantung pada permintaan maaf dari orangtua, karena tidak semua orangtua berani mengaku salah.

Tanamkan di benak kamu bahwa kamu memaafkan orang lain, khususnya ayah, untuk kedamaian diri sendiri. 

Harapannya, dengan memaafkan kamu bisa melanjutkan hidup dengan lebih tenang dan tidak terus terpuruk dengan luka lama.

“Memaafkanlah tanpa menunggu orang yang memicu luka itu minta maaf, karena terkadang orangtua itu gengsi untuk minta maaf. Hal ini agar kamu sehat mental dan tidak membawa trauma itu lagi,” tambahnya.

Menutup luka untuk hidup lebih tenang

Berdamai dengan daddy issues memang bukan perjalanan singkat. Namun dengan menyadari, memahami, merasakan, menerima, dan akhirnya memaafkan, seseorang bisa melepaskan trauma yang mengikat masa lalunya.

Kesehatan mental yang lebih baik akan membawa pengaruh positif pada hubungan sosial, kehidupan emosional, hingga cara memandang diri sendiri. 

Pada akhirnya, proses ini adalah tentang memberi kesempatan bagi diri untuk hidup lebih damai tanpa terus terikat oleh luka lama.

Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.