Kenali 8 Red Flag dalam Pertemanan Menurut Psikolog, Termasuk Membocorkan Rahasia
Hubungan asmara terkadang penuh dengan ketidakpastian, sedangkan pertemanan yang saling mendukung kerap memberikan ketenangan serta keseimbangan hidup.
Namun, sama halnya dengan percintaan, hubungan pertemanan juga melewati fase awal yang berbunga-bunga sebelum akhirnya muncul berbagai pola perilaku yang mengkhawatirkan.
"Mungkin, ada tanda peringatan awal yang terabaikan bahwa sebuah pertemanan akan bermasalah, karena kegembiraan terhubung dengan teman baru yang cocok denganmu dan kamu menikmati menghabiskan waktu bersamanya," kata psikolog klinis Dr. Roxy Zarrabi, Psy.D, dilansir dari Psychology Today, Selasa (10/3/2026).
Berbagai penelitian membuktikan bahwa ikatan pertemanan yang kuat dan saling membantu mampu memengaruhi kesehatan fisik, suasana hati, serta kesejahteraan secara menyeluruh.
Sebaliknya, pertemanan toksik atau yang sudah tidak lagi sejalan, dapat membawa dampak buruk bagi kesehatan diri.
Tanda bahaya (red flag) sering kali hanya dikaitkan dengan dunia kencan dan asmara, padahal pertemanan juga memilikinya. Berikut ragam tanda bahaya dalam pertemanan yang perlu diperhatikan.
Tanda bahaya pertemanan toksik
1. Membicarakan keburukan orang lain di hadapanmu
Jika temanmu terus-menerus menjelekkan atau menghakimi kerabat maupun orang-orang dalam hidupnya, tidak ada jaminan bahwa mereka tidak akan melakukan hal serupa kepadamu di kemudian hari.
"Pada awalnya, ini mungkin membantumu merasa lebih dekat dengan temanmu ketika mereka berkeluh kesah padamu," tutur Zarrabi.
"Namun, seiring berjalannya waktu, jika kamu mulai menyadari bahwa temanmu sering tidak puas dengan sebagian besar orang dalam hidup mereka, kamu mungkin mulai merasa gelisah tentang kapan situasinya akan berbalik dan kamu akan menjadi teman yang mereka bicarakan dengan buruk saat kamu tidak hadir," sambung dia.
2. Tidak bisa menjadi diri sendiri
Ikatan pertemanan yang sehat merupakan ruang ketika kamu bebas mengekspresikan diri yang sebenarnya. Melalui cara inilah sebuah hubungan yang tulus dapat terbentuk.
Jika kamu merasa selalu menutup diri saat bersamanya, terus-menerus bersikap waspada, atau merasa tidak bisa menjadi diri sendiri, ada baiknya kamu menelusuri lebih jauh dari mana persisnya keraguan tersebut berasal," imbau Zarrabi.
3. Merasa harus berhati-hati setiap saat
Dalam ikatan persahabatan yang ideal, kamu seharusnya merasa bebas untuk mengungkapkan perasaanmu, dan membagikan pandanganmu mengenai berbagai situasi.
"Jika kamu sering takut bahwa melakukan hal itu akan memicu reaksi negatif, atau kamu tidak dapat membagikan apa yang kamu rasakan atau pikirkan, ini adalah tanda bahwa kamu tidak merasa aman secara emosional dengan teman ini, dan pertemanan tersebut mungkin tidak tepat untukmu," ujar Zarrabi.
4. Merasa kehabisan energi setelah berinteraksi
Cobalah untuk membandingkan suasana hatimu saat berkumpul dengan kelompok teman yang berbeda-beda. Apakah kamu menjadi lebih bersemangat, biasa saja, atau justru terkuras energinya?
Terkadang, intuisi tubuh jauh lebih peka dalam menangkap sinyal bahwa sebuah hubungan pertemanan tidak lagi menyehatkan untukmu.
"Jika kamu menyadari bahwa setiap kali kamu bersama teman tertentu kamu merasa energi terkuras setelahnya, ini adalah tanda penting untuk diperhatikan," tutur Zarrabi.
5. Membocorkan rahasia orang lain
Pada masa awal perkenalan, kamu mungkin merasa bangga karena sosok tersebut mempercayakan informasi rahasianya kepadamu. Namun perlahan, kebiasaan mengumbar hal ini akan memicu hilangnya rasa saling percaya di antara kalian.
Pada akhirnya, kamu akan menahan diri dan sangat berhati-hati saat ingin bercerita, diliputi rasa khawatir mengenai kepada siapa saja kelak ia akan membeberkan urusan pribadimu.
6. Hubungan terasa bertepuk sebelah tangan
Apakah kamu selalu diposisikan sebagai pihak yang menghubungi lebih dulu, mencari tahu kabar, dan menyusun rencana pertemuan?
Apakah kamu sering merasa bahwa upaya untuk mempertahankan kebersamaan ini tidak mendapat balasan sepadan, serta tidak ada keseimbangan antara memberi dan menerima dalam ikatan tersebut?
Jika demikian, kamu mungkin ingin menimbang lebih jauh apakah pertemanan bisa menjadi seimbang usai kamu membahas pola ini ke temanmu.
7. Merendahkan dengan cara halus
Tindakan ini barangkali terjadi dalam wujud pujian bermakna sindiran atau pertanyaan mengganjal yang membuatmu meragukan ketulusan mereka.
Misalnya dengan mengucapkan selamat atas pekerjaan barumu, tetapi diakhiri dengan kalimat bahwa mereka tidak menyangka kamu bisa mendapatkannya.
Bisa juga mereka mengucapkan selamat berlibur, dan ditutup dengan omongan bahwa liburanmu adalah bentuk lari dari tanggung jawab perihal pekerjaan.
"Kesalahpahaman terjadi di antara teman. Namun, jika kamu sering dibiarkan bertanya-tanya apakah temanmu sengaja mengatakan sesuatu untuk menyakitimu, atau sering merasa bingung dengan niat di balik pernyataan mereka, ini biasanya merupakan tanda bahwa kepercayaan dalam pertemananmu mungkin kurang," jelas Zarrabi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang