Cara Lepas dari Hubungan Toxic Menurut Psikolog, Akui Perasaan Sendiri

Hubungan asmara seharusnya memberi kebahagiaan, bukan membuat stres.
Namun tak sedikit orang merasa terjebak dalam hubungan toksik yang bisa menguras energi, menurunkan percaya diri, dan memengaruhi kesehatan mental.
Psikolog Klinis Fransisca Debi Oktavia menyarankan cara mengenali tanda-tanda hubungan tidak sehat dan langkah untuk keluar, demi menjaga kesehatan mental dan menemukan kembali diri sendiri.
faktor yang menyebabkan seseorang sulit keluar dari hubungan toksik, antara lain adalah hubungan yang sudah berjalan lama, keluarga dan teman-teman sudah saling mengenal, serta adanya pola-pola yang sudah terbiasa dijalani," kata Psikolog Fransisca dikutip dari Antara, Selasa (25/11/2025).
Menurutnya, seringkali korban menyesuaikan diri demi pasangan, tapi melupakan kebutuhan emosional sendiri.
Pola ini membuat orang merasa kehilangan jati diri dan sulit mengenali siapa mereka sebelum hubungan itu.
"Individu tersebut terpaksa harus selalu menyesuaikan diri secara terus-menerus demi memenuhi keinginan pasangannya tanpa memikirkan kebutuhan batinnya sendiri," ungkapnya.
Tanda hubungan toksik
Sebelum memutuskan langkah keluar, penting untuk mengenali tanda-tanda hubungan yang tidak sehat.
Beberapa indikator yang dikemukakan psikolog antara lain:
- Sering merasa takut atau cemas saat bersama pasangan.
- Kehilangan hobi atau kegiatan positif karena lebih banyak waktu dan energi dipakai untuk memenuhi ego pasangan.
- Ditarik dari lingkungan sosial, sehingga interaksi dengan teman atau keluarga berkurang.
- Merasa tidak berkembang atau seolah menyusut dalam hubungan.
Jika gejala-gejala ini muncul terus-menerus, kemungkinan besar hubungan tersebut bersifat toksik dan perlu dievaluasi lebih serius.
ilustrasi punya teman toxic. 11 Kalimat Toxic yang Sering Diucapkan dalam Hubungan Pertemanan Tanpa Disadari
Tips lepas dari hubungan toksik
Psikolog Fransisca memberikan beberapa tips untuk melepaskan diri dari hubungan toksik tanpa merusak kesejahteraan mental.
-
Akui perasaan sendiri
Langkah pertama adalah jujur pada diri sendiri. Akui bahwa hubungan itu mungkin tidak sehat dan menghancurkan mental.
Menyangkal kenyataan hanya akan memperburuk kondisi.
-
Terima rasa sayang yang mungkin masih ada
Tidak jarang seseorang masih menyayangi pasangan meski tahu hubungan itu toksik.
Hal ini normal, tetapi penting untuk menyadari bahwa rasa sayang tidak boleh menutupi fakta bahwa hubungan itu membahayakan.
-
Cari dukungan lingkungan
Teman dekat atau keluarga bisa menjadi sistem pendukung yang membantu mental tetap kuat.
Mereka bisa memberi perspektif objektif dan menjadi sandaran saat mengambil keputusan.
"Dukungan eksternal dari sistem pendukung yang positif seperti teman dekat atau keluarga sangat dibutuhkan untuk menguatkan mental dalam fase kritis ini," jelasnya.
-
Evaluasi diri dan rencana masa depan
Luangkan waktu untuk menulis perasaan, menetapkan batasan, dan merencanakan langkah-langkah ke depan.
Fokus pada pengembangan diri, hobi, dan hal-hal yang membawa kebahagiaan.
"Penting untuk mengevaluasi secara jujur apakah diri sendiri berkembang menjadi pribadi yang lebih baik atau justru menyusut menjadi kerdil dalam hubungan itu," kata Psikolog Fransisca.
-
Pertimbangkan bantuan profesional
Konsultasi dengan psikolog atau konselor dapat membantu memahami pola hubungan dan memberi strategi keluar yang aman serta efektif.
Menjaga kesehatan mental setelah keluar dari hubungan toksik
Keluar dari hubungan toksik bukan berarti langsung merasa lega.
Psikolog Fransisca menyarankan untuk memberi waktu diri sendiri untuk pulih, memulihkan rutinitas positif, dan perlahan membangun kembali rasa percaya diri.
Kesehatan mental adalah prioritas utama. Mengakhiri hubungan yang tidak sehat adalah langkah penting untuk melindungi diri sendiri.
Dengan mengenali tanda-tanda hubungan toksik dan menerapkan langkah-langkah ini, seseorang bisa lebih siap mengambil keputusan sulit demi kesehatan mental yang lebih baik.
Mengutamakan kesejahteraan diri bukan egois, tetapi bentuk cinta terbaik pada diri sendiri.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih. Berikan apresiasi sekarang