Beda Cara Sahabat Vidi Aldiano Ekspresikan Duka Menurut Psikolog
Kepergian penyanyi Vidi Aldiano pada Sabtu (7/3/2026) meninggalkan duka mendalam. Publik menyaksikan ragam reaksi sahabat terdekatnya di dunia hiburan, mulai dari isak tangis yang tak terbendung hingga raut wajah tenang yang menahan kesedihan.
Perbedaan cara mengekspresikan rasa kehilangan ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat: mengapa ada orang yang mudah meluapkan kesedihan saat ditinggal sahabat selamanya, tetapi juga ada yang tetap tegar dan tenang?
"Menurutku sih itu perbedaan individual saja," ujar Psikolog Klinis Dewasa dari Indopsycare, Clement Eko Prasetio, M.Psi., Psikolog, Selasa (10/3/2026).
Beda cara mengekspresikan kesedihan saat sahabat tiada
Pengaruh kepribadian bawaan
Karakteristik bawaan individu memegang peranan utama dalam menentukan respons spontan saat menghadapi momen traumatis.
Seseorang yang terbiasa tampil ceria dan vokal cenderung lebih mudah meluapkan emosi negatifnya secara terang-terangan. Sebaliknya, seseorang yang terbiasa bersikap tenang akan mempertahankan ketenangannya.
"Apakah dia mungkin sosok yang dari dulu ekspresif, ketawa terbahak-bahak, itu kan ekspresif. Jadi kemungkinan pas menangis pun bisa lebih ekspresif juga," papar Clement.
Sifat dasar ini membuat ekspresi duka tidak bisa disamaratakan. Seseorang yang terlihat tegar bukan berarti tidak merasa kehilangan, melainkan hanya menyalurkan rasa sakit melalui medium berbeda.
"Tapi ada juga yang beberapa orang yang model orangnya memang pendiam, orangnya yang kelihatan tegar. Ya pas kehilangan pun dia juga mengekspresikan hal yang sama. Dia terlihat tegar dan tenang, tapi menangis di dalam kesendirian. Sampai kamar baru menangis tersedu-sedu," jelas dia.
Sebagai tambahan, ada sebuah teori tentang cara seseorang mengekspresikan kedukaan, yaitu Instrumental and Intuitiv Grief yang dikembangkan oleh psikiater Kenneth Doka dan Terry Martin.
Teori Doka dan Martin membagi cara manusia berduka ke dalam dua kutub, yaitu pelepasan tenang melalui tindakan konkret serta luapan emosi ekspresif.
"Kalau instrumental, orang itu lebih kelihatan tenang, diam, dan ngerjain hal lain. Tapi kalau intuitive, orangnya lebih ekspresif, nangis lebih kuat. Tapi, kebanyakan orang ekspresinya bisa campuran di atara keduanya," jelas Clement.
Video tribute untuk Vidi Aldiano usai film di di XXI Epicentrum Kuningan, Senin (9/3/2026).
Faktor beban peran sosial
Selain watak asli, posisi atau tanggung jawab yang tengah diemban dalam lingkungan sosial juga memengaruhi cara seseorang menanggapi tragedi.
Kesadaran akan kehadiran orang lain yang lebih membutuhkan sandaran sering kali memaksa individu menahan air matanya.
"Bisa jadi orang yang kelihatan tegar itu, karena dia sadar bahwa peran dia itu adalah orangtua, misalnya, kepada anak. Dia berusaha untuk tegar agar anak yang menangis seperti punya 'pegangan'," tutur Clement.
Menahan isak tangis demi memberikan rasa aman bagi orang-orang di sekitar adalah bentuk mekanisme pertahanan diri. Mereka rela menunda waktu berdukanya sejenak agar situasi tidak semakin memilukan.
Tekanan situasi dan konteks
Kata Clement, kondisi fisik di mana seseorang berada turut mendikte batas kewajaran dalam mengekspresikan kesedihan.
Berada di tengah kerumunan pelayat, atau sorotan kamera wartawan seperti yang terjadi pada para sahabat Vidi di acara pemakaman, kerap menjadi alasan utama mengapa seseorang menahan gejolak emosinya.
"Apakah menurut dia cocok untuk nangis tersedu-sedu di depan kamera banyak misalnya, kan itu sudah bermain peran juga sebenarnya sih," sebut dia.
Ketika situasi dirasa tidak memungkinkan untuk bersedih secaar leluasa, seseorang secara sadar akan menyimpan perasaannya hingga berhasil menemukan ruang privasi yang aman.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang