Campak Mudah Menular, Begini Cara Mencegahnya Menurut Dokter
Kasus campak di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, menjadi sorotan setelah jumlah korban meninggal mencapai 17 orang. Dari angka tersebut, sebagian besar anak tercatat belum pernah menerima imunisasi campak sama sekali.
"Dari 17 kasus yang kemudian meninggal, dari campak ini, 16 terkonfirmasi tidak diimunisasi. Satu diimunisasi tapi tidak lengkap," ujar Khofifah, Gubernur Jawa Timur, menurut laporan Kompas.com, (23/8/2025).
Menurut dr. Santi, Health Management Specialist Corporate HR Kompas Gramedia, kasus di Sumenep bisa menjadi pengingat bahwa campak bukan hanya penyakit biasa.
"Campak sangat mudah menular. Penularannya melalui droplet penderita yang keluar saat batuk, bersin, atau berbicara, kemudian masuk ke saluran pernapasan," jelasnya kepada Kompas.com, Sabtu (23/8/2025).
Bagaimana campak menular?
Campak disebabkan oleh virus Morbillivirus. Penularannya bisa terjadi ketika seseorang menghirup percikan droplet yang mengandung virus.
Penderita campak sudah bisa menularkan penyakit sejak empat hari sebelum ruam muncul, hingga empat hari setelah ruam tampak di kulit.
Hal ini membuat virus campak begitu cepat menulari kelompok masyarakat, terutama anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi.
Sementara itu, campak Jerman yang disebabkan oleh virus Rubella (RuV) juga menular lewat cara serupa, hanya saja periode menularnya lebih panjang, yaitu tujuh hari sebelum hingga tujuh hari setelah ruam muncul.
Meski gejalanya biasanya lebih ringan, rubella berbahaya pada ibu hamil karena dapat menyebabkan sindrom rubella kongenital pada janin.
Mengapa bisa berbahaya?
Campak bukan sekadar penyakit dengan ruam kulit. Pada anak dengan daya tahan tubuh lemah, kurang gizi, atau bayi, penyakit ini bisa menimbulkan komplikasi serius.
"Campak bisa berkembang menjadi serius dan menimbulkan komplikasi berupa infeksi telinga, dehidrasi akibat muntah dan diare, bronkitis, laringitis, pneumonia, radang otak," jelas dr. Santi.
Selain itu, menurutnya, pada ibu hamil, campak berisiko menyebabkan keguguran, kelahiran prematur, atau bayi lahir dengan berat badan rendah.
Itulah mengapa kasus di Sumenep begitu mengkhawatirkan, karena sebagian besar korban tidak terlindungi oleh vaksinasi.
Bagaimana cara mencegahnya?
Dr. Santi menekankan bahwa pencegahan campak harus dilakukan dari tiga sisi, yakni mengurangi penyebaran virus, memperkuat daya tahan tubuh orang sehat, dan memperbaiki lingkungan.
Mengurangi penyebaran virus dengan cara penderita campak sebaiknya dipisahkan dari orang sehat. Orang yang merawat perlu menggunakan masker dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
"Etika batuk dan bersin juga wajib dipatuhi untuk mencegah droplet menyebar ke udara," katanya.
Memperkuat daya tahan tubuh, dengan imunisasi yang menjadi langkah utama. Vaksin MR (Measles-Rubella) diperoleh anak dengan dosis pemberian sebanyak tiga kali.
Dosis 1 pada usia 9 bulan, dosis 2 pada usia 18 bulan, dan dosis 3 pada usia 5-7 tahun.
Untuk orang dewasa yang belum pernah divaksin, pemberian vaksin MMR bisa dilakukan dari usia 19 hingga 59 tahun, dengan pemberian 2 dosis dan jeda minimal 28 hari.
Selain imunisasi, daya tahan tubuh seperti makan bergizi seimbang, cukup minum, mengonsumsi serat, probiotik, dan prebiotik, tidur cukup, serta rutin berolahraga perlu dilakukan.
Memperbaiki lingkungan juga tak kalah penting, sebab virus campak bisa bertahan sementara di permukaan benda yang terkontaminasi.
Karena itu, kebersihan lingkungan perlu dijaga, misalnya dengan rutin membersihkan peralatan yang digunakan penderita menggunakan disinfektan, serta memastikan sirkulasi udara di rumah berjalan baik.
Peran vaksinasi massal
Melihat tingginya angka kasus di Sumenep, Pemerintah Provinsi Jawa Timur berencana menggelar vaksinasi massal atau outbreak response immunization (ORI).
"Oleh karena itu, rencana ORI, vaksinasi massal, mohon doa dan kawan-kawan juga dari berbagai media, ikut menyampaikan sosialisasi dan pesan kepada masyarakat supaya memaksimalkan capaian dari vaksinasi," kata Khofifah, dilaporkan Kompas.com, (23/8/2025).
Langkah ini penting untuk menghentikan rantai penularan, sekaligus meningkatkan cakupan imunisasi yang selama ini masih rendah.
Perempuan yang berencana menikah atau hamil juga sebaiknya memastikan status imunisasinya lengkap.
"Perempuan sebelum menikah dan mengandung, perlu diberikan vaksinasi campak dan campak Jerman agar terhindari dari sakit," ucap dr. Santi.
Terangi negeri dengan literasi, satu buku bisa membuka ribuan mimpi. Lewat ekspedisi Kata ke Nyata, Kompas.com ingin membawa ribuan buku ke pelosok Indonesia. Bantu anak-anak membaca lebih banyak, bermimpi lebih tinggi. Ayo donasi via Kitabisa!