Waspada Campak di Periode Lebaran, Penularan Mudah Terjadi di Kerumunan

Mobilitas masyarakat di periode libur Lebaran dapat berpotensi meningkatkan kasus campak.
Aktivitas silaturahmi dalam kerumunan dan perjalanan antar-wilayah dapat membuat virus lebih mudah menyebar, terutama pada individu yang belum memiliki kekebalan seperti anak balita.
Dosen Program Studi Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer Unika Atma Jaya, Dr.dr. Regina Satya Wiraharja, M.Sc. mengungkapkan bahwa kasus campak di Indonesia masih perlu diwaspadai.
Dari data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), sepanjang 2025 tercatat lebih dari 11 ribu kasus terkonfirmasi dengan puluhan kematian, sementara pada awal 2026 ratusan kasus baru juga telah dilaporkan di sejumlah wilayah.
Untuk itu, orangtua harus tahu cara mencegah penularan campak di periode Lebaran. Terutama mereka yang masih memiliki balita yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Bahaya campak
Campak adalah penyakit infeksi yang mudah menular dan menyerang saluran pernapasan.
Penularannya terjadi melalui droplet atau percikan cairan dari batuk, bersin, maupun pernapasan penderita yang terhirup oleh orang lain.
"Setelah masuk ke tubuh, virus akan berkembang dan menyebar ke berbagai organ, dengan masa inkubasi sekitar 8 hingga 14 hari," kata Regina dalam keterangannya, Rabu (18/3/2026), dilansir dari Tribun.
Gejala awal biasanya berupa demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, serta munculnya bercak putih di dalam pipi (Koplik spots).
Beberapa hari kemudian, ruam kemerahan muncul dari wajah dan menyebar ke seluruh tubuh.
Meski umumnya dapat sembuh, campak berisiko menimbulkan komplikasi serius seperti radang paru, diare, infeksi telinga, hingga peradangan otak, terutama pada bayi dan individu dengan daya tahan tubuh lemah.
"Pada ibu hamil, infeksi campak juga dapat meningkatkan risiko komplikasi seperti kelahiran prematur hingga keguguran," katanya.
Cara mencegah penularan campak
Menurut Regina, orangtua harus waspada penuh, terutama saat intensitas interaksi sosial meningkat seperti pada masa Hari Raya.
Pencegahan utama campak adalah melalui vaksinasi. Vaksin MMR dinilai paling efektif untuk membentuk kekebalan tubuh, dengan jadwal pemberian pada anak usia 9 bulan, 2 tahun, serta 5–6 tahun.
Regina juga menganjurkan agar masyarakat menjaga kebersihan tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menggunakan masker saat mengalami gejala infeksi saluran pernapasan.
"Asupan gizi seimbang, termasuk vitamin A, juga berperan penting dalam menjaga daya tahan tubuh," tuturnya.
Jika mengalami gejala yang mengarah pada campak, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan dan membatasi kontak dengan orang lain guna mencegah penularan lebih lanjut.
Faktor risiko campak
Konferensi pers Kementerian Kesehatan yang dilakukan secara daring pada Kamis (26/2/2026) menjelaskan gambaran penyakit campak secara jelas.
Dokter Andi Saguni, MA, Plt Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes mengungkap, penularan campak adalah melalui droplet dan air borne transmission (percikan air liur atau ludah).
"Hal ini terutama terjadi saat batuk, bersin, atau jika bersentuhan dengan benda yang terkontaminasi," paparnya.
Sedangkan faktor risiko penularan adalah:
- Mereka yang belum atau tidak lengkap imunisasi campak-rubella
- Ada kontak erat dengan penderita campak
- Status gizi yang kurang baik
- Tidak menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.