Rupiah Dekati Rp 17.000 per Dollar AS, Ini 3 Kunci agar Kembali Menguat

Rupiah Dekati Rp 17.000 per Dollar AS, Ini 3 Kunci agar Kembali Menguat

Nilai tukar Rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) terus berada dalam tekanan dalam beberapa hari terakhir.

Pelemahan ini membuat pergerakan kurs semakin mendekati level Rp 17.000 per dollar AS.

Berdasarkan pantauan Kompas.com pada Rabu (21/1/2026), nilai tukar dollar AS nyaris menyentuh Rp 17.000, tepatnya berada di kisaran Rp 16.937 hingga pukul 16.35 WIB.

Meski Rupiah masih berada dalam tren melemah, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai peluang pembalikan arah tetap terbuka.

Namun, penguatan Rupiah hanya dapat terjadi jika tiga kunci utama dapat terpenuhi.

3 Kunci agar Rupiah Kembali Perkasa

Josua mengatakan, peluang pembalikan tren pelemahan nilai tukar Rupiah dalam jangka pendek hingga menengah tetap terbuka, namun bergantung pada pemenuhan tiga syarat utama.

Pertama, tekanan dari faktor global perlu mereda, seperti tidak adanya kenaikan lanjutan suku bunga AS atau melemahnya indeks dollar AS.

Kedua, kepercayaan dari dalam negeri harus membaik, terutama melalui kejelasan kebijakan fiskal serta komunikasi kebijakan yang meyakinkan.

Ketiga, arus modal asing diharapkan kembali masuk secara lebih stabil.

“Ketiga, arus dana kembali masuk secara lebih stabil,” kata Josua dikutip dari Antara, Selasa (20/1/2026).

Tren Rupiah Cenderung Melemah

Josua mengingatkan bahwa saat ini persepsi pasar terhadap Rupiah masih cenderung negatif. 

Bahkan, terdapat kemungkinan nilai tukar berpotensi menembus Rp 17.000 per dollar AS apabila sentimen tidak kunjung membaik. 

Selain itu, faktor musiman seperti menjelang Ramadan dan periode pembagian dividen juga berpotensi meningkatkan permintaan dollar AS.

“Karena itu, mitigasi bank sentral tidak cukup hanya mengandalkan langkah stabilisasi rutin di pasar valuta,” kata Josua.

Ia menilai, intervensi tetap diperlukan untuk menahan laju pelemahan yang terlalu cepat dan menjaga kepercayaan pasar. 

Apalagi, Bank Indonesia dinilai telah menunjukkan sikap lebih aktif dalam menahan pergerakan rupiah mendekati Rp 17.000 per dollar AS, termasuk melalui penguatan komunikasi kebijakan.

Penyebab Rupiah Terus Melemah

Meski demikian, menurut Josua, persoalan mendasar yang dihadapi Rrupiah saat ini adalah tingginya premi risiko dan keyakinan pelaku pasar. 

Oleh karena itu, bank sentral perlu menjaga likuiditas Rupiah agar pasar tidak bereaksi berlebihan, memastikan instrumen pengelolaan likuiditas berjalan optimal, memperkuat pasokan valuta asing melalui koordinasi kebijakan devisa dan arus modal, serta menegaskan komitmen terhadap disiplin fiskal dan independensi kebijakan moneter.

Secara umum, Josua menilai pelemahan rupiah yang mendekati Rp 17.000 per dollar AS merupakan hasil kombinasi tekanan eksternal dan domestik.

Dari sisi global, arah pergerakan dollar AS dan kebijakan suku bunga Negeri Paman Sam masih menjadi faktor dominan karena berpengaruh langsung terhadap arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Ada fase ketika dollar melemah tipis, tetapi pasar tetap berhati-hati menunggu data ekonomi AS dan dinamika kebijakan AS yang meningkatkan ketidakpastian, sehingga permintaan safe haven asset mudah muncul lagi saat sentimen memburuk,” kata Josua menjelaskan.

Sementara dari dalam negeri, pasar mencermati risiko pelebaran defisit anggaran dan kebutuhan pembiayaan program pemerintah. 

Kekhawatiran juga muncul terkait persepsi independensi bank sentral, menyusul isu penunjukan figur yang dinilai dekat dengan kekuasaan ke dalam jajaran otoritas moneter.

Kondisi tersebut turut meningkatkan premi risiko Indonesia yang tercermin dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun sekitar 25 basis poin menjadi 6,32 persen.

“Apakah ini alarm yang mengkhawatirkan? Secara arah, pasar memang sedang memberi sinyal kewaspadaan karena pelemahan nilai tukar yang disertai kenaikan imbal hasil menunjukkan ada unsur kekhawatiran kepercayaan, bukan sekadar faktor musiman,” ujar Josua.

Meski demikian, ia menegaskan situasi tersebut belum dapat dikategorikan sebagai krisis. 

Fondasi makroekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat, dengan inflasi yang relatif terkendali serta cadangan devisa yang tercatat tinggi sepanjang 2025.

“Yang perlu dicermati justru kualitas respons kebijakan dan konsistensi stance kebijakan fiskal. Jadi jika pasar melihat arah kebijakan jelas dan disiplin terjaga, tekanan kurs biasanya lebih cepat mereda,” kata Josua.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang