Luhut: Jangan Bertengkar Lagi soal MBG, Itu Barang Baik!
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan meminta publik untuk tidak memperdebatkan lagi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebab, menurut Luhut, MBG merupakan program yang baik hanya saja pengelolaannya harus diperbaiki.
"Saya kira MBG, kita jangan bertengkar lagi mengenai itu. Itu barang baik, tinggal pengelolaannya saja yang tentu kita perbaiki," ucap Luhut kepada wartawan, dikutip Rabu, 10 Juni 2026.
Presiden RI Prabowo Subianto, kata Luhut juga telah memberikan arahan terkait pelaksanaan program MBG. Selain itu, evaluasi secara berkala juga terus dilakukan.
Dia lantas mengungkap DEN telah melakukan survei yang tersebar di 800 titik terkait dampak ekonomi yang dihasilkan dari program MBG. Hasil survei tersebut pun telah diserahkan Luhut kepada Prabowo.
"Presiden sudah memberikan arahan, bukan hanya arahan dan kami juga merespon dengan melakukan penelitian. Survei yang dilakukan tadi dengan sangat kredibel. 3% margin errornya dan saya pikir tinggal tadi kita tata dengan baik," jelas dia.
Sebelumnya diberitakan, Sekretaris DEN Septian Hario Seto menjelaskan bahwa survei dilakukan secara independen dan dibiayai langsung oleh DEN dengan mengambil sampel secara acak di 800 titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Berdasarkan hasil survei tersebut, DEN menemukan bahwa program MBG telah menciptakan peluang ekonomi baru bagi pelaku UMKM di sekitar lokasi SPPG.
“Hasil pertama yang kami melihat positif adalah bahwa ada 86,9 persen dari SPPG yang ada saat ini, itu paling tidak memiliki satu supplier kecil. Jadi ini adalah UMKM yang memang ada di dekat lokasi dari SPPG tersebut. Kalau dihitung secara rata-rata ada tiga UMKM yang digandeng oleh SPPG ini,” ungkap Septian.
Menurut Septian, temuan tersebut menunjukkan bahwa Program MBG tidak hanya mendukung peningkatan kualitas gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga mendorong terbentuknya rantai pasok baru yang melibatkan pelaku usaha lokal.
DEN juga mencatat bahwa sekitar 65 persen UMKM yang terlibat dalam rantai pasok Program MBG berasal dari kabupaten yang sama dengan lokasi SPPG.
“Nah, yang lebih menarik ada sekitar 65 persen sektor UMKM-nya ini berada di dalam satu kabupaten di mana SPPG itu berada. Jadi ini juga penting bahwa ini bukanlah supplier besar yang masuk, tapi UMKM-UMKM yang muncul itu memang UMKM yang ada di dalam kabupaten atau lokasi di mana SPPG tersebut berada,” jelas Septian.
Selain mendorong pertumbuhan UMKM, survei DEN juga menunjukkan dampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja lokal. Hampir seluruh tenaga kerja yang terlibat dalam operasional SPPG berasal dari masyarakat sekitar.
“Yang ketiga temuan kita adalah tenaga kerja, itu hampir 99% memang dari warga sekitar,” ujar Septian.